Budi daya maggot BSF sebagai solusi pengolahan sampah organik dan alternatif bahan pakan sumber protein
Oleh: Mujibur Rahman, S.Pt*
Telur menjadi penanda permulaan siklus hidup sekaligus berakhirnya tahap hidup sebelumya bagi lalat BSF, di mana jenis lalat ini menghasilkan telur (juga biasa disebut ovipositing). Lalat betina meletakkan telur di dekat bahan organik yang membusuk dan memasukkannya ke dalam rongga-rongga yang kecil, kering, dan terlindung. Betina tersebut akan mati tidak lama setelah bertelur.
Telur-telur tersebut diletakkan dekat dengan bahan organik yang membusuk supaya saat menetas nanti, larva-larvanya dapat dengan mudah menemukan sumber makanan di sekitar mereka. Karena ditempatkan dalam rongga-rongga yang terlindungi dari pengaruh lingkungan, larva tersebut terjaga dari ancaman predator, serta sinar matahari langsung yang dapat menghilangkan kadar air pada telur.

Baca juga : Aplikasi Maggot dalam Pakan Unggas

Pada umumnya, telur-telur tersebut menetas setelah empat hari. Larva yang baru menetas akan  segera mencari makan dengan memakan sampah organik di sekitarnya, sehingga ukuran tubuhnya yang awalnya hanya beberapa millimeter itu akan bertambah panjangnya menjadi 2,5 cm dan lebarnya 0,5 cm, sedangkan warnanya menjadi agak krem. Kemudian, terdapat beberapa tahapan, dalam budi daya maggot menggunakan media sampah organik, antara lain:
Pembiakan BSF
Proses ini digunakan untuk memelihara larva-larva kecil agar selalu tersedia dengan jumlah yang konsisten dan dapat digunakan untuk mengolah sampah organik yang akan diolah. Namun, dalam unit pemeliharaan ini, jumlah larva yang menetas dibatasi dalam jumlah tertentu untuk menjamin kestabilan pembiakan populasinya, sehingga seimbang antara jumlah maggot dan sampah organik sebagai media pertumbuhannya.
Pengumpulan sampah dan pra-pengolahan
Hal yang sangat penting adalah memastikan bahwa sampah yang diterima di fasilitas tersebut cocok untuk menjadi makanan bagi larva-larvanya. Langkah pertama adalah mengontrol sampah untuk memastikan bahwa sampah tersebut tidak mengandung material berbahaya dan bahan non-organik. Langkah selanjutnya adalah memperkecil ukuran partikel sampah, mengurangi kadar air jika tingkat kelembabannya terlalu tinggi, dan mencampur beragam jenis sampah organik untuk menghasilkan makanan yang seimbang nutrisi dan kelembabannya untuk larva.
Pengolahan sampah dengan BSF
Dalam tahap ini, larva kecil yang telah dihasilkan dalam pembiakan BSF diberi makan sampah organik, sehingga tumbuh menjadi larva besar yang sekaligus dapat mengolah dan mengurangi sampah.
Pemanenan
Tepat sebelum berubah menjadi pre-pupa, larva yang telah tumbuh harus dipanen. Dalam kondisi ideal pemanenan dilakukan ketika umur 12-15 hari. Selain itu residu sampah yang tertinggal di kandang pengolahan juga dapat digunakan menjadi pupuk dan merupakan produk yang bernilai tinggi yang biasa disebut kasgot.
Pengolahan pascapanen
Apabila diperlukan, baik larva dan residu dapat diolah lebih lanjut untuk menyesuaikan dengan permintaan pasar. Biasanya, pengolahan yang dapat dilakukan adalah dengan pengeringan atau dijadikan tepung. Sedangkan untuk pengolahan kasgot, dapat dilakukan dengan pengomposan atau dimasukkan ke digester biogas untuk bahan produksi.
Lingkungan dan sumber makanan
Selain itu, kondisi lingkungan dan sumber makanan yang optimal bagi larva adalah sebagai berikut:
  • Iklim hangat : suhu idealnya adalah antara 24°C hingga 30°C. Jika terlalu panas, larva akan keluar dari sumber makanannya untuk mencari tempat yang lebih dingin. Jika terlalu dingin, metabolisme larva akan melambat, sehingga larva akan makan lebih sedikit dan pertumbuhannya pun menjadi lambat.
  • Lingkungan yang teduh : larva menghindari cahaya dan selalu mencari lingkungan yang teduh dan jauh dari cahaya matahari. Jika sumber makanannya terpapar cahaya, larva akan berpindah ke lapisan sumber makanan yang lebih dalam untuk menghindari cahaya tersebut.
  • Kandungan air dalam makanan : sumber makanan harus cukup lembab dengan kandungan air antara 60% sampai 90% supaya dapat dicerna oleh larva.
  • Kebutuhan nutrisi pada makanan : bahan-bahan yang kaya protein dan karbohidrat akan menghasilkan petumbuhan yang baik bagi larva. Penelitian yang sedang berlangsung menunjukkan bahwa sampah yang telah melalui proses penguraian bakteri atau jamur kemungkinan akan lebih mudah dikonsumsi oleh larva.
  • Ukuran partikel makanan : karena larva tidak memiliki bagian mulut untuk mengunyah, maka nutrisi akan mudah diserap jika substratnya berupa bagian-bagian kecil atau bahkan dalam bentuk cair atau seperti bubur. *Chief Marketing Officer, PT Greenprosa Adikara Nusa
    Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2021 dengan judul Aplikasi Maggot dalam Pakan Unggas. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153