Tumpukan bungkil kedelai untuk pakan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pakan broiler menghendaki sekitar kira-kira 50% jagung, kemudian bungkil kedelai, dan bahan pakan lainnya yang dapat dipenuhi secara lokal maupun impor.
Dalam hal kontribusi, biaya pembelian komoditas jagung dan bungkil kedelai memegang biaya produksi yang terbesar.
Hal tersebut dipaparkan oleh Prof. Budi Tangendjaja selaku Technical Consultant Animal Nutrition USSOY pada webinar USSOY Import Logistic Workshop Indonesia melalui Zoom, Rabu (7/4).
“Saya menyarankan untuk memfokuskan untuk pengadaan bahan pakan yaitu jagung dan bungkil kedelai karena keduanya memberikan biaya terbesar dalam formulasi pakan. Meskipun bungkil kedelai jumlahnya lebih sedikit dibandingkan jagung, tetapi harga bungkil kedelai akan selalu lebih mahal dibandingkan jagung,” jelasnya.
Baca Juga: Pemerintah Sebut Impor Bungkil Kedelai Masih Sangat Besar
Budi mengatakan bahwa di dalam pembelian suatu bahan pakan, seorang nutrisionis menilai suatu bahan baku dari faktor intrinsik dan ekstrinsik. Pada pakan unggas, terdapat tiga sumber gizi yang sangat mahal yaitu energi, asam amino yang dapat dicerna, dan fosfor. Selain itu, konsistensi dari bahan pakan maupun anti nutrisi dari bahan pakan juga perlu dipertimbangkan.
“Kandungan energi dari beberapa jenis kedelai dari beberapa negara akan berbeda. Jadi selisih beberapa kalori perlu dihitung dalam formulasi. Hal yang berbeda juga yaitu ditemukannya kerusakan pada kedelai maupun cara penyimpanannya di lapangan. Jika bahan kedelainya rusak, maka akan berpengaruh pada bungkil kedelainnya,” kata Budi.
Berdasarkan pengamatannya yang dilakukan pada ayam petelur di Jawa Timur, Budi Tangendjaja melihat bungkil kedelai yang berkualitas baik menghasilkan ayam dengan performa yang baik dan konsisten juga dalam hal kualitas pakan yang dihasilkan.
“Saya menekankan bahwa mengetahui kualitas bahan pakan sebelum membelinya sangatlah penting,” ucapnya.