Setelah mengarungi perjalanan bisnis di bidang pertambangan yang notabene menjadi pekerjaan yang cukup mentereng di masa itu, Budiyanto nyatanya tertarik untuk menjalani bisnis budi daya ayam ras. Ketika ditemui oleh tim Poultry Indonesia di salah satu kandangnya, di daerah Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (6/10), ia menyampaikan bahwa dari latar belakang orangtuanya, memang tidak ada yang bergerak di bidang perunggasan. Akan tetapi usaha orangtuanya memang masih dalam lingkup pertanian.

Menjadi peternak ternyata lebih menjanjikan daripada usaha di bidang tambang, setidaknya itulah yang dirasakan oleh Budiyanto. Peternak yang sudah malang melintang merasakan bermacam macam situasi di bidang perunggasan ini merasakan betul bahwa menjadi peternak tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

“Orangtua saya menekuni bisnis di bidangn palawija. Dan saya sendiri memutuskan pindah ke Jawa Barat dan Jakarta untuk menekuni bisnis di bidang pertambangan. Saya menjalani bisnis pertambangan itu sudah cukup lama dari tahun 1983. Akhirnya karena saya merasa sudah terlalu lama berbisnis pertambangan, saya berfikir untuk memanfaatkan lahan bekas tambang tersebut untuk digunakan sebagai area kandang ayam,” ungkap Budiyanto.
Awal mula ia terjun di dunia budi daya ayam karena ia melihat ada bisnis yang bisa mendapatkan keuntungan lebih dari penambang dan kontraktor. Setelah ia dalami lebih lanjut, ternyata benar bahwa menjadi peternak ayam itu bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari kegiatan tambang.
“Saya itu awalnya penambang sekaligus kontraktor, akhirnya saya membangun tempat ayam ini.  Saya terjun ke dunia usaha ayam ini karena terbesit di pemikiran saya dimana seorang penambang yang terlihat keren, pendapatannya masih kalah dengan mereka yang berbisnis di bidang perunggasan. Saya bertanya kepada rekan saya yang kebetulan, mempunyai pabrik pakan. Dan dulu pabrik tersebut, saya yang membangun sebagai kontraktor.”
Akhirnya setelah mendalami dunia perunggasan kepada rekan – rekannya, maka semakin besar pula rasa penasaran yang ia miliki. Budiyanto lantas mencari informasi lebih banyak dan detil tentang dunia peternakan kepada rekannya, dan pada akhirnya ia mencoba untuk terjun di dunia budi daya ayam ras.
“Semakin besar rasa penasaran saya, semakin saya bertanya – tanya kepada rekan – rekan saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba terjun di budi daya ayam ras ini. Lahan bekas tambang akhirnya saya perbaiki, direklamasi, dan dibuatlah kandang. Ketika saya mencoba – coba untuk membuat kandang di awal, saya itu membangun tanpa ada yang memberitahukan dasar – dasar prinsip pembuatan kandang untuk ayam. Jadi awalnya saya membuat kandang yang membentang dari utara ke selatan, padahal kandang yang benar itu menghadap barat ke timur,” kenang Budiyanto.
Pasang surut dalam berbudidaya
Dalam menjalankan bisnis di bidang dudi daya ayam ras, Budiyanto mengaku bahwa tidak selamanya berjalan mulus. Ada beberapa periode dimana ia harus merasakan kerugian akibat manajemen pemeliharaan yang kurang maksimal. Ia mengatakan bahwa ketika manajemen pemeliharaan kurang maksimal, serangan penyakit tentu sudah pasti datang menghampiri.
“Sukanya tentu ketika mendapatkan keuntungan atau ketika proses budi daya itu berjalan dengan lancer. Sedangkan untuk dukanya sendiri, pernah di waktu awal masa pemeliharaan itu banyak ternak saya yang terkena penyakit. Karena saya waktu itu masih relatif baru dalam usaha ini. Ketika ayam itu sakit, saya tidak tahu bagaimana penanganan yang baik itu seperti apa, manajemen pemeliharaan ayam yang bagus itu seperti apa saya tidak tahu.”
Dengan segudang pengalaman sebagai pebisnis, momen itu tidak menyurutkan semangat dari Budiyanto untuk terus belajar tentang bisnis budi daya ayam. Informasi terus dicari dan digali dengan memanfaatkan jejaringnya, hingga akhirnya ia menemukan formula yang pas untuk kegiatan usaha budi dayanya.
“Dari situ saya belajar, bahwa ketika ayam itu produksinya tidak bagus, terkena serangan penyakit, maka dipastikan akan merugi. Akhirnya saya juga banyak belajar untuk mengikuti perkembangan dan teknologi terkini di bidang pemeilharaan ayam. Saat ini saya sudah menggunakan closed house, material rangka bangunan juga sudah menggunakan besi,” jelas Budiyanto.
Pola pikir progresif memang diperlukan jika ingin usahanya terus berkembang. Adopsi dan adaptasi teknologi memang membutuhkan usaha dan dana yang lebih jika dibandingkan dengan pemeliharaan secara konvensional. Namun jika dilihat lebih dalam, penggunaan teknologi dan peralatan modern, justu bisa mendatangkan efisiensi apabila digunakan dalam bisnis dengan jangka waktu yang panjang.
“Orang – orang boleh berbicara bahwa penggunaan kandang closed house itu mahal, tatapi jika dilihat dari sisi penggunaan, jika kandang tersebut akan digunakan dalam jangka waktu yang cukup panjang, justru sangat murah sekali, dibandingkan dengan material kayu,” ujarnya.
Dari pengalamannya yang cukup lama berbisnis di bidang budi daya ayam, akhirnya ia berkesimpulan bahwa biaya pokok produksi merupakan hal yang krusial. Maka jika para peternak ingin mendapatkan keuntungan yang optimal, hendaknya terus mencari cara agar dapat menekan biaya produksi.
“Kalau mau bertahan dalam bisnis pemeliharaan ayam ini, yang mana saat ini seringkali biaya pokok produksi dalam satu periode itu sudah mahal, maka jalan keluarnya adalah bagaimana caranya kita bisa menurunkan biaya produksi tersbeut. Selain itu, biasanya saya juga berpesan agar ayam yang kita pelihara itu harus dijaga sebaik mungkin. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi yang sudah tersedia di pasaran. Kita sudah tidak perlu repot – repot melakukan riset, banyak sekali teknologi yang aplikatif dan bisa digunakan dilapangan,” ungkapnya.
Terkait dengan penggunaan peralatan modern di kandangnya, ia menjelaskan bahwa otomatisasi merupakan kunci untuk mendatangkan efisiensi. Yang mana ketika manajemen pemeliharaan masih dilakukan secara konvensional, maka akan banyak sekali terjadi kesalahan-kesalahan minor, yang jika diakumulasikan tentu akan berdampak signifikan terhadap keuntungan yang akan didapat oleh peternak.
“Kalau dalam teknis di lapangan itu pemberian pakan masih menggunakan pakan manual, maka dengan ukuran kandang yang panjangnya 120 meter ini harus menggunakan berapa wadah pakan?. Kalau operator yang memberi pakan itu tidak presisi dan menumpahkan satu sendok per wadah per pemberian pakan, maka bisa dibayangkan berapa uang yang bisa dibelanjakan dari pemberian pakan yang presisi. Mungkin dari ceceran tersebut jika dikumpulkan dan diberikan untuk ayam, mungkin peralatan untuk otomatisasi kandang itu sudah terbeli,” tegas Budiyanto.
Mewariskan ilmu kepada anak – anaknya
Sebagai pebisnis, Budiyanto tidak ragu untuk melibatkan anak – anaknya dalam kegiatan usaha budi daya ayam. Bahkan , anak –anak dari Budiyanto, tidak ada rasa segan untuk terlibat dan terjun langsung dalam kegiatan usahanya. Walaupun Budiyanto membebaskan anak – anaknya untuk memilih jalan yang mereka inginkan, termasuk memilih studi apa yang akan diambil dalam program sarjana, tetapi anak – anaknya memutuskan untuk tetap ikut terlibat dalam kegiatan usaha budi daya.
“Saya dikaruniai 4 anak, yang pertama membantu saya untuk mengurus bisnis ayam, bahkan dulu putra saya ini membantu sewaktu saya masih di tambang, karena yang lain masih kuliah. Setelah mengenal dunia ayam, kegiatan tambang dihentikan, akhirnya secara penuh kegiatan bisnis difokuskan untuk memelihara ayam. Anak saya yang pertama dan kedua itu di broiler, anak ketiga itu dokter tapi masih juga membantu untuk penjualan telur, dan anak keempat itu difokuskan untuk pengembangan bisnis di bidang layer. Saya sebetulnya membebaskan anak – anak saya untuk memilih jalannya masing – masing, ada yang kuliah di kedokteran, akunting, pembukuan dan lainnya,” jelasnya.
Pengalamannya memang sudah teruji dalam kegiatan berbisnis, tetapi ia tetap berpesan kepada para generasi milenial yang ingin terjun ke bisnis ini bahwa harus memiliki ketekunan dalam menjalankan usahanya.
“Kalau kita mau bertahan sebagai peternak, harus mau untuk hidup menyatu dengan apa yang kita kerjakan, khususnya kalau bergerak di bidang budi daya ayam. Walaupun menjadi pemilik kandang, tetap harus mau untuk selalu berada di kandang. Kalau tidak, maka mana bisa kita mendapatkan laporan yang akurat terkait dengan kondisi yang faktual di lapangan. Bahkan sampai hari ini, putra putri saya yang ikut di peternakan itu harus di kandang, tidur di kandang, kecuali ketika ayam itu sudah tidak ada semisal setelah panen atau afkir,” ujar Budiyanto.
Budiyanto juga menaruh harapan yang besar kepada para peternak generasi kedua yang notabene dihuni oleh generasi milenial. Generasi kedua ini menurut Budiyanto memiliki potensi untuk bisa lebih baik dari generasi pertama.
“Dunia peternakan ini memang sudah luar biasa. Generasi kedua ini kaum milenial yang cukup luar biasa dari aspek keinginan dan daya pikir untuk maju, sedangkan kalau generasi pertama itu seperti saya yang pemikirannya masih kolot dan konservatif. Terlebih saya boleh bangga dengan anak – anak saya karena mereka sangat perhatian terhadap ayam yang mereka pelihara,” ungkapnya.
Terakhir, dirinya berpesan kepada anak – anak milenial supaya jangan takut untuk terjun di dunia peternakan. Saat ini sudah tersedia beragam peralatan yang canggih untuk membantu kegiatan budi daya ayam. Kuncinya hanya satu yaitu tekun dan mau terjun langsung ke kandang. Jika hal tersebut dilakukan, Budiyanto yakin semua pekerjaan yang dikerjakan akan terselesaikan dengan tuntas.