Efek penenang dari cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru dan hijau telah banyak dilaporkan dalam literatur lain, dan penelitian ini memperkuat bukti bahwa spektrum cahaya dapat dimanfaatkan sebagai alat optimalisasi produksi yang efektif.
Perkembangan teknologi dan ilmu manajemen di dunia peternakan tidak henti-hentinya membuat kita terkesan. Kali ini, penggunaan cahaya LED dengan panjang gelombang berbeda diteliti oleh dua orang peneliti asal Matrouh University, Mesir. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa selain suhu, kelembapan, dan ventilasi, pencahayaan kini mulai dipahami sebagai faktor lingkungan strategis yang mampu memengaruhi performa ayam broiler.
Lampu LED yang digunakan adalah yang dapat mengatur spektrum cahayanya ke dalam panjang gelombang biru dan hijau. Kedua warna lampu ini terbukti memicu respons biologis yang berbeda pada unggas, mulai dari aktivitas makan hingga perilaku sosialnya. Artikel ini mengulas perbandingan pencahayaan LED putih dan biru–hijau pada ayam broiler serta dampaknya terhadap tingkat kenyamanan, pertumbuhan, dan efisiensi pakan.
Dalam sistem produksi broiler modern, pengelolaan cahaya sebetulnya telah menjadi instrumen penting dalam strategi peningkatan efisiensi. Faktor cahaya ini juga banyak dimanfaatkan karena tidak mengorbankan kesejahteraan ternak. Namun, penggunaannya di lapangan sebagian besar masih seputar mengontrol intensitas cahaya dan waktu penerangan, belum secara masif memanfaatkan spektrum cahaya berbeda selain warna umum putih.
Padahal secara alamiah, ayam memiliki sistem penglihatan yang lebih kompleks dibanding manusia, karena mampu mendeteksi cahaya melalui fotoreseptor retina dan ekstra-retina. Mereka peka terhadap banyak spektrum warna, seperti biru, hijau, merah, ungu, hingga ultraviolet.
Beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa cahaya biru dan hijau berpengaruh positif terhadap bobot badan berbagai jenis unggas. Diketahui pula, bahwa pengaruh cahaya monokromatik terhadap pertumbuhan broiler juga dipengaruhi oleh umur ayam, di mana cahaya hijau lebih efektif meningkatkan pertumbuhan pada ayam umur muda, sedangkan cahaya biru lebih berperan dalam menstimulasi pertumbuhan pada ayam umur lebih tua.
Maka dari itu, pada artikel ini, penulis membandingkan efek pencahayaan LED putih dan LED biru–hijau terhadap performa pertumbuhan, karakteristik karkas, serta perilaku ayam broiler strain Cobb. Tujuannya, untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai potensi pencahayaan spektral dalam manajemen kandang modern.
Tepatnya selama 35 hari, 248 ekor DOC broiler dengan rata-rata berat 28 gram dipelihara dan dibagi ke dalam dua perlakuan pencahayaan, yang masing-masing dengan empat ulangan. Anak ayam dibagi secara acak ke dalam setiap kelompok di kandang terpisah. Masing-masing ulangan berisi 31 ekor ayam dengan luas tiap petak sebesar 3,5 m². Lampu LED yang digunakan memiliki daya cahaya sebesar 1000 lumen, dengan panjang gelombang 650 nm untuk cahaya putih, 430 nm untuk cahaya biru, dan 656 nm untuk cahaya hijau.
Ayam dipelihara pada kondisi manajemen dan lingkungan kandang yang seragam. Intensitas cahaya juga dijaga konstan pada 30 lux dengan program pencahayaan intermiten, sehingga perbedaan respons yang muncul secara langsung dapat dikaitkan karena perbedaan panjang gelombang cahaya.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.











