IB akan menyebabkan ayam mengalami gangguan pernafasan bahkan gangguan pada ginjal. Hal tersebut akan menghambat pertumbuhan ayam broiler, sehingga pertumbuhan tidak optimal seperti yang diharapkan. ADG yang rendah dan FCR yang tinggi adalah bukti nyata kerugian dari IB. Bahkan, pada ayam yang terserang IB dan kombinasi dengan penyakit lainnya seperti kolibasilosis akan dapat menyebabkan peningkatan kematian.
Survei penyakit IB pada peternakan ayam broiler di Indonesia dilakukan pada periode Agustus 2020 sampai dengan Desember 2020 untuk mengetahui adanya virus penyebab IB di beberapa daerah di Indonesia, yaitu di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sampel diambil dari ayam broiler pada usia panen (lebih dari 28 hari) yang divaksin dengan vaksin IB live Massachusetts pada saat DOC dengan aplikasi spray.
Hasil survei uji serologi
Data serologi dikumpulkan dari 110 flock ayam yang berasal dari area Sumatera sebanyak 22%, Jawa Barat sebanyak 23%, Jawa Tengah sebanyak 30%, dan Jawa Timur sebanyak 23%. Pengujian serologi menggunakan ELISA Biochek. Hasil rata-rata (mean) titer IB yaitu sebesar 3.212 dengan rata-rata titer minimal IB sebesar 1.311 dan maksimal titer IB sebesar 5.970.
Diagram di bawah ini menunjukkan gambaran sebaran titer IB di beberapa wilayah.
Grafik 1. hasil Titer IB melalui metode uji serologi menggunakan Elisa Biochek.
Rata-rata titer paling tinggi yaitu di Sumatera sebesar 3.212, diikuti Jawa Barat sebesar 3.191, lalu disusul Jawa Timur sebesar 3.070, dan yang terakhir Jawa Tengah sebesar 3.021. Berdasarkan data baseline titer dari Interpretation and Application of Results Manual yang dirilis oleh Biochek, pada ayam broiler yang hanya dilakukan satu kali vaksin IB live dengan vaksin IB H120/mild Mass memiliki mean titer IB di antara 300-1.500 pada umur 35-45 hari, sedangkan titer IB di atas 3.000 merupakan suspect titre infection. Titer yang tinggi menunjukkan adanya tantangan IB di farm-farm tersebut.
Gambar 1. Gambaran sebaran titer IB diberbagai wilayah
Hasil Survei Uji PCR dan Sequencing
Selain dilakukan pengujian serologi, dilakukan juga pengujian PCR untuk mengetahui ada tidaknya virus IB pada ayam. Apabila PCR menunjukkan hasil positif, sampel tersebut akan dilanjutkan uji sequencing untuk mengetahui strain virus IB. Sample diambil dari organ trakea dan seka tonsil. Data serologi dikumpulkan dari 39 flock ayam yang berasal dari wilayah Sumatera sebanyak 13%, Jawa Barat sebanyak 28%, Jawa Tengah sebanyak 41%, dan Jawa Timur sebanyak 18%.

 

Gambar 2. Hasil uji PCR dengan sampel yang diambil di lapangan.
Berdasarkan uji PCR dan sequencing, 41% dinyatakan positif lemah sehingga tidak dapat dilanjutkan uji sequencing, 41% merupakan virus IB QX like, 8% merupakan virus IB strain 4/91, 5% merupakan virus IB Massachusetts, dan 5% merupakan kombinasi virus IB Massachusetts dan 4/91.
Hasil survei tersebut membuktikan adanya IB di Broiler, jika merujuk pada data yang berdasarkan hasil survei pada rentang waktu Agustus 2020 sampai dengan Desember 2020 berupa data serologi maupun data PCR dan sequencing, dapat diketahui bahwa virus IB dapat ditemukan pada ayam broiler. Titer IB yang tinggi menunjukkan adanya tantangan IB di lingkungan farm dan strain virus IB yang mendominasi adalah virus IB strain QX like.
Kendala dan Pencegahan
Saat ini ayam broiler kebanyakan sudah divaksin dengan vaksin IB live (strain Massachusetts) pada saat DOC di hatchery. Hal tersebut masih belum optimal karena vaksin yang digunakan tidak mampu memberikan perlindungan yang lebih luas terhadap berbagai strain virus IB di lapangan. Sebagaimana kita tahu, vaksin IB tidak dapat memberikan perlindungan silang terhadap berbagai strain virus IB. Untuk mendapatkan perlindungan yang lebih luas, diperlukan kombinasi vaksin IB. Contohnya, penggunaan vaksin IB live strain Massachusetts dan vaksin IB live group 793B yang mampu melindungi ayam dari beberapa jenis strain virus IB seperti QX like, Malaysian varian, dan banyak strain lainnya. Kedua jenis vaksin tersebut dapat diaplikasikan bersamaan secara spray pada DOC di hatchery. Aplikasi yang baik juga akan sangat mempengaruhi keberhasilan vaksinasi IB.
Bukti nyata kerugian Infectious Bronchitis pada Ayam Broiler di Indonesia
Sebuah studi evaluasi dilakukan dalam kurun waktu Agustus 2020 sampai dengan April 2021 di Jawa Barat pada flock ayam yang divaksin dengan vaksin IB live Mass saja (disebut flock non IBird) dibandingkan dengan flock ayam yang divaksin dengan vaksin IB live Mass + IBird (disebut flock IBird). Vaksin IBird merupakan vaksin IB live dari strain 1/96 yang termasuk dalam group 793B atau dikenal juga dengan vaksin IB varian. Rata-rata umur panen pada flock IBird yaitu 31,2 hari sedangkan rata-rata umur panen pada flock non IBird yaitu 32,8 hari. Hasil perbandingan kedua flock tersebut adalah pada flock IBird memiliki FCR 0,051 lebih rendah; deplesi 1,2% lebih rendah; bobot 0,1 kg lebih rendah; IP 10 poin lebih tinggi; dan titer IB jauh lebih rendah daripada flock non IBird. Detail perbandingannya dapat kita lihat pada grafik di bawah ini.
Grafik 2. Data hasil perbandingan performa produksi antara flock IBird dan non IBird
Apabila dilakukan kalkulasi kasar dengan harga pakan diasumsikan Rp 7.000/kg, harga live bird Rp 18.000/kg, harga DOC Rp 5.000, harga paket vaksin flock non IBird Rp 300/ekor, dan harga paket vaksin flock IBird Rp 400/ekor, maka selisih margin antara flock non IBird dengan flock IBird yaitu sebesar Rp 612 per ekor ayam. Peternak memiliki potensi kehilangan uang Rp 612 per ekor ayam jika flock tersebut mengalami gangguan akibat IB. Potensi kerugian akan lebih besar jika tingkat keparahan lebih tinggi dan jumlah populasi ayam lebih banyak. Adv

Hubungi tim lapangan Ceva Animal Health Indonesia untuk informasi lebih lanjut.