POULTRYINDONESIA, Tangerang – Geliat perkembangan eksosistem cage-free di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang positif dalam tiga tahun terakhir. Hal ini disampaikan oleh Kristina Yolanda, Chairperson Indonesia Cage-Free Association (ICFA), dalam sebuah forum diskusi yang digelar di sela-sela pameran ILDEX, yang diselenggarakan di ICE BSD, pada Jumat (19/9).
“Dari awalnya hanya lima founding members, saat ini sudah ada 25 peternak cage-free yang menjadi anggota ICFA, dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Memang sebagian besar masih terpusat di Pulau Jawa dan Bali. Pertumbuhan di Bali sendiri cukup pesat, kini sudah ada sembilan peternak cage-free, dan harapannya jumlah ini terus meningkat. Dan tidak hanya di Jawa dan Bali, tetapi juga di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi,” ujarnya.
Menurutnya, keanggotaan ICFA saat ini masih didominasi peternak berskala kecil hingga menengah. Hanya ada dua anggota dengan populasi lebih dari 10.000 ekor, yakni Pak Roby dan Widodo Makmur Unggas. Sekitar 60 persen anggota berada pada skala menengah (1.000–10.000 ekor), sementara sisanya merupakan peternak kecil yang umumnya dikelola oleh kelompok wanita tani.
Dirinya menambahkan, salah satu isu utama yang kerap ditanyakan publik adalah produktivitas ayam cage-free. Menurutnya anggapan produktivitas cage-free lebih rendah tidak sepenuhnya benar. “Faktanya, 38,9 persen anggota kami sudah mampu mencapai puncak produksi 92–95 persen, mendekati rata-rata peternakan konvensional. Artinya, dengan manajemen yang baik, produktivitas cage-free bisa mendekati atau setara dengan konvensional. Meski begitu, tingginya mortalitas, serta masalah DOC yang kualitasnya belum seragam,” jelas Kristina.
Isu biaya pakan juga menjadi perhatian karena konsumsi ayam cage-free lebih tinggi, yakni rata-rata 120–125 gram per ekor per hari atau sekitar 10 persen lebih banyak dibanding sistem konvensional. Harga pakan pun relatif lebih mahal, rata-rata Rp7.243 per kilogram dan sebagian besar bahkan di atas Rp8.000. Kondisi ini disebabkan standar sertifikasi cage-free yang melarang penggunaan protein hewani, sehingga peternak harus memproduksi pakan khusus berbasis nabati.
“Meski masih menghadapi sejumlah kendala, mayoritas peternak tetap optimis dengan masa depan industri cage-free. Kristina menegaskan. Dari 20 responden survei, 16 berencana ekspansi dalam 1–3 tahun ke depan. Ada yang ingin menambah 1.000–2.000 ekor, bahkan ada yang berencana membangun kandang baru untuk 10.000 ekor,” tambahnya.
Sementara itu, Roby Tjahya Dharma Gandawijaya, Owner PT Inti Prima Satwa Sejahtera (IPSS), membagikan pengalaman serta pandangannya mengenai perkembangan sistem kandang umbar atau cage-free di Indonesia. Ia menekankan bahwa cage-free bukan hanya urusan peternak, melainkan sebuah ekosistem yang melibatkan banyak pihak.
Menurutnya, prospek pasar cage-free ke depan akan terus bertumbuh. “Di dunia pun trennya mengarah ke sana, dan saya yakin Indonesia ke depan juga akan menuju ke arah itu,” ujarnya.
Roby menegaskan bahwa keberhasilan cage-free di Indonesia membutuhkan dukungan berbagai pihak. “Kami tidak bisa berjalan sendiri. Karena itu ada Asosiasi Cage-Free Indonesia dan dukungan dari berbagai NGO yang mempertemukan kami dengan market, terutama dari sektor horeka. Selain itu, peran pemerintah dan seluruh stakeholder perunggasan nasional, mulai dari industri pakan, DOC, peralatan, hingga obat-obatan juga harus berperan dan turut mempelajari sistem ini,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi adalah kunci agar sistem cage-free dapat berkembang. “Dengan kolaborasi, kita bisa membuat peternakan cage-free di Indonesia lebih maju dan kompetitif. Sehingga, pada saat perubahan itu benar-benar datang, kita sudah siap dan mampu memenuhi kebutuhan dari dalam negeri. Jadi agar bisa kompetitif, ekosistem ini harus didukung dan dibangun bersama,” tutup Roby.