Oleh : Prof Ali Agus*
Bagi kita yang hidup di negara tropis, tentu sudah tidak asing lagi dengan fenomena pohon yang meranggas pada waktu tertentu. Hal ini mungkin bisa disebabkan karena faktor lingkungan dan pergantian musim. Karena pada dasarnya fenomena meranggas dengan menggugurkan daun ini merupakan sebuah metode adaptasi dari pohon tersebut. Yang mana di kemudian hari, pohon akan dapat kembali tumbuh subur apabila tiba musim hujan atau lingkungan yang lebih mendukung. Namun demikian, bisa juga hal ini menjadi sebuah pertanda akan matinya pohon tersebut, kalau terjadi berkepanjangan dan pohon tidak mampu bertahan.
Industri broiler nasional nampaknya tak pernah lepas dari persoalan. Bak pohon yang meranggas, hal ini bisa jadi merupakan sebuah bentuk adaptasi.
Begitu pun pada industri broiler nasional. Ibarat pohon, mungkin saat ini industri broiler sedang menghadapi fase meranggas. Sebagaimana kita lihat bahwa sering kali terjadi persoalan pada industri ini, seperti harga yang berfluktuasi yang cenderung rendah, naiknya harga sapronak, hingga berbagai kerugian yang dirasakan pelaku usaha di dalamnya. Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa broiler ini meranggas? Berbagai prediksi pun mencuat, mulai dari kompetisi global dan produk impor, persoalan efisiensi (pakan, kandang dan tata niaga), hingga harga jual yang terus mengalami fluktuasi. Atau mungkin faktor lain yang belum kita pahami.
Yang pasti, permasalahan ini sudah berlangsung sejak 10 tahun yang lalu. Dimana menurut pengamatan penulis, persoalannya selalu sama dan terus berulang yakni berkutat tentang fluktuasi harga jual livebird (LB) di kandang, dan cenderung mengarah ke rendah. Hal ini disinyalir karena supply demand yang tidak seimbang, dan narasinya lebih ke oversupply yang terus saja terjadi. Berbagai fenomena menjadi penguat akan narasi tersebut, mulai dari sering kali jatuhnya harga jual LB di kandang hingga kebijakan cutting HE maupun afkir dini PS untuk pengendalian supply yang terus saja berulang. Tentu hal ini telah menyebabkan kerugian yang luar biasa besar bagi para pelaku usaha perunggasan. Tak hanya bagi peternak mandiri, namun juga perusahaan-perusahaan pun tak bisa menghindarinya.
Sementara itu, persoalan efisiensi produksi juga masih menjadi hal yang perlu mendapatkan dorongan. Kita harus sadar bahwa input produksi utama usaha budi daya broiler ini masih didominasi oleh impor. Contoh jelasnya adalah bahan pakan, dimana sumber protein hewani pakan kita mayoritas berasal dari impor. Berdasarkan data dari Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) 2021, menyebutkan bahwa walaupun bahan pakan impor hanya memenuhi 30-35% dari total formulasi pakan yang biasa digunakan, tetapi biaya yang disumbangkan oleh bahan pakan impor berkisar 50-60%. Belum lagi apabila membicarakan Grand Parent Stock (GPS) yang masih mempunyai ketergantungan penuh pada negara lain.
Persoalan efisiensi tersebut tentunya juga berdampak pada lemahnya daya saing global produk broiler kita. Belum lagi, apabila melihat faktor pasar yang didominasi oleh pasar domestik, kualitas SDM, serta teknologi yang digunakan. Terkait teknologi pada usaha broiler, penulis melihat bahwa masih perlu adanya akselerasi. Katakanlah kandang closed house yang masih perlu adanya perjalanan panjang. Transisi dari kandang open house ke kandang closed house masih sekitar di 30 – 35 %. Begitupun adaptasi teknologi internet harus lebih didorong lagi, agar bisa bersaing dengan negara-negara lain. Apabila tidak ada dorongan, maka perkembangan usaha broiler ini akan liar dan terjadi kompetisi bebas. Kalau itu terjadi maka hanya bagi mereka yang mempunyai modal yang akan menang di industri ini.
Dengan berbagai fenomena tersebut, penulis berharap pemerintah dapat mengambil Kebijakan berbasis data hasil kajian dan penelitian yang profesional, independen, dan sinergi multi-stakeholders. Selain itu perlu adanya peta jalan pembangunan future broiler industry yang disusun melalui asumsi dasar (konsumsi, produksi, lokasi, SDM, teknologi, pasar) yang akurat. Pasalnya saat ini masih terjadi bias akurasi data dan belum dipetakan dengan baik.
Di sisi lain, juga perlu adanya insentif dan disinsentif bagi pelaku usaha yang loyal and comply dengan kebijakan pemerintah. Selain itu, sosialisasi, promosi, dan transformasi penjualan daging ayam hangat (hasil pemotongan langsung) ke ayam dingin juga mendesak untuk dilakukan. Berbagai fasilitasi pengembangan cold chain produk ready to eat berbasis daging broiler (RPA, cold storage, infrastruktur logistik) perlu lebih didorong lagi. Sementara itu, untuk memperluas pasar perunggasan maka pemerintah dapat mendorong pasar ekspor bagi pelaku usaha skala besar dengan berbagai insentif yang menarik, seperti tax holiday, dll.
Terakhir, dalam mengatasi problematika ini, selain menggunakan pendekatan sistemik dan teknis industri, harus pula dibenahi dengan pendekatan peningkatan kualitas SDM yang cerdas, terampil dan berjiwa entrepreneur. Kualita SDM yang unggul ini diharapkan mampu berinovasi, memiliki kemampuan manajemen teknis maupun ekonomi, terbuka terhadap teknologi, memiliki akses terhadap sumber daya modal dan mampu membangun jejaring.
Beberapa program untuk menyiapkan SDM peternakan ini telah dijalankan seperti program profesi insinyur dan program Work Based Academy (WBA). Dimana insinyur Peternakan merupakan profesi yang telah memiliki payung hukum berupa UU No 11/2014 dan PP 25/2019 yang mengatur dan melindungi profesi keinsinyuran termasuk insinyur peternakan. Sedangkan WBA merupakan sebuah program bekerja dan belajar yang digagas oleh Fakultas Peternakan (Fapet) UGM dan PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk sebagai terobosan dalam menghasilkan SDM peternakan yang terampil dan unggul. Kehadiran SDM profesional melalui berbagai program ini juga diharapkan dapat membantu mengurai persoalan yang terjadi di industri broiler serta lebih umum dapat memajukan industri peternakan nasional. *Dosen Fakultas Peternakan UGM, Ketua Dewan Pimpinan Provinsi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) DI Yogyakarta
Artikel ini merupakan bagian dari majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...