Catatan Penyakit Unggas 2022
Gangguan kesehatan atau penyakit pada unggas menjadi salah satu penghambat utama dalam usaha peternakan unggas. Terganggunya kesehatan unggas akibat penyakit, tentu dapat menghalangi peternak untuk dapat mencapai produksi yang optimal. Bahkan tak sedikit yang menyebabkan kerugian, sehingga bisa dikatakan dampak dari terjadinya penyakit di industri perunggasan sangatlah besar.
Meski derajat keparahannya bervariasi, namun tren penyakit unggas yang terjadi tiap tahunnya selalu sama. Dengan teknologi vaksinasi dan perkandangan yang terus dikembangkan, tentu kejadian berulang ini membuat heran banyak orang.
Ditambah dengan berbagai macam faktor, seperti cuaca dan minimnya pengetahuan mengenai aspek manajerial, membuat kejadian penyakit pada unggas menjadi tak terhindarkan. Kejadian berulang seperti ini sudah seharusnya menjadi perhatian, baik bagi seluruh stakeholder perunggasan.
Masih berulang
Penyakit unggas yang terjadi setiap tahunnya masih itu-itu saja. Disaat berbagai cara telah dilakukan untuk menekan kejadiannya, beberapa penyakit bahkan masih menjadi langganan di industri perunggasan. Hal ini diamini oleh drh. Christina Lilis L., selaku Technical Education & Consultation Manager PT Medion Farma Jaya. Menurutnya pola penyakit unggas yang terjadi di tahun 2022 masih relatif sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan data yang telah dirangkum oleh Tim Technical Education and Consultation PT Medion Farma Jaya, penyakit viral pada layer di masa produksi yang mengalami peningkatan adalah Avian Influenza (AI), diikuti oleh Newcastle Disease (ND), Fowl Pox (cacar unggas), Infectious Bronchitis (IB), dan Infectious Laryngotracheitis (ILT) (Grafik 1). Sedangkan penyakit viral pada broiler yang mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya adalah gumboro. Sedangkan penyakit parasit pada broiler yang mengalami peningkatan di tahun 2022 adalah koksidiosis (Grafik 2).
“Namun, penyakit yang sama-sama ditemukan pada broiler dan layer pada tahun ini adalah penyakit bakterial. Baik pada broiler maupun layer, penyakit bakterial masih mendominasi keseluruhan kejadian penyakit unggas dan bahkan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, terutama penyakit yang menyerang sistem pernapasan,” ujarnya melalui wawancara tertulis dengan tim Poultry Indonesia, Jumat (11/11).
Lilis menyatakan bahwa penyakit pernapasan akibat infeksi bakteri selalu menempati peringkat 5 besar. Penyakit-penyakit ini belum dapat ditekan tingkat kejadiannya dan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya dikarenakan faktor predisposisi yang sering ditemui.

Sumber: Technical Education and Consultation-Medion, 2022
“Pada layer di masa produksi, penyakit bakterial yang mendominasi adalah penyakit yang menyerang bagian pernapasan, seperti Coryza (Snot). Selain itu, ditemukan juga kasus Fowl Cholera yang meningkat dan menempati peringkat 4 dari keseluruhan kasus penyakit layer di masa produksi. Sedangkan penyakit bakterial yang terjadi pada broiler selama tahun 2022 antara lain Chronic Respiratory Disease (CRD), kolibasilosis, CRD Kompleks, dan Coryza (Snot),” jelas dokter hewan yang akrab disapa Lilis ini.
Menyambung pernyataan dari Lilis, drh. Agus Prastowo, selaku Technical Manager PT Elanco Animal Health Indonesia, mengatakan bahwa di tahun 2022 ini dirinya lebih fokus kepada kejadian Avian Pathogenic Escherichia coli (APEC), penyebab kolibasilosis pada unggas, yang tiap tahunnya selalu merebak.
“Dari hasil data yang dirangkum oleh tim Elanco, pada tahun 2022, ditemukan hasil positif APEC 100% dari semua sampel sampling, baik dari bagian pernapasan maupun pencernaan. Sementara ini, area kejadian APEC masih terbatas di pulau Jawa saja, baik di peternakan layer, broiler, dan breeder, dengan tingkat kejadian APEC yang berbeda-beda,” terangnya kepada tim Poultry Indonesia secara virtual, Jumat (4/11).
APEC diketahui menyebabkan berbagai macam infeksi, baik pada saluran respirasi maupun secara sistemik pada unggas. Di lapangan, Agus mengatakan bahwa gejala yang ditemui pada layer dan breeder adalah peningkatan kasus mikoplasma yang semakin berat. Mycoplasma gallisepticum sendiri merupakan penyebab dari kasus Chronic Respiratory Disease (CRD) pada ayam. Menurut Pattison et al., (2008), keberadaan Escherichia coli berperan penting dalam infeksi M. gallisepticum.
M. gallisepticum dan E. coli terbukti sama-sama memiliki kemampuan untuk menembus mukosa saluran pernapasan dengan faktor virulensinya dan masuk ke dalam aliran darah untuk menyebar ke seluruh tubuh hingga menyebabkan lesi di berbagai organ internal ayam. Hal ini menunjukkan bahwa E. coli bekerja secara sinergis dengan M. gallisepticum untuk memfasilitasi terjadinya penyakit.
“Gejala yang dirasakan adalah peningkatan kasus mikoplasma yang semakin berat. Infeksi mikoplasma, baik pada layer maupun breeder, sangat terasa di fase awal produksi. Infeksi ini mengakibatkan gangguan daya tetas, penurunan produksi telur, hingga penurunan kualitas day old chick (DOC) yang dihasilkan,” terang Agus.
Menurut Agus, kasus APEC masih terjadi karena sumber penyakitnya masih ada sampai hari ini. Salah satu faktornya adalah langkah penanganan yang belum sesuai dan sumber penyakitnya yang belum diberantas. Ia juga mengatakan bahwa di Indonesia, rata-rata solusi penanganannya adalah dengan menggunakan antibiotik. Namun, yang menjadi masalah adalah penanganan dengan antibiotik tidak menyelesaikan masalah karena antibiotik ditujukan hanya untuk penyakit yang sudah menunjukkan gejala klinis.
“Pemberian antibiotik menyelesaikan masalah pada kasus yang menunjukkan gejala klinis, akan tetapi sumber penyakitnya belum hilang. Jika shedding E. coli dapat ditekan, baik dari segi jumlah maupun level agen patogennya, maka kasus penyakit pernapasan akibat E. coli akan menurun. Salah satu faktor kenapa penyakit ini muncul lagi adalah karena sumbernya belum diberantas,” jelasnya.
Selain menekan shedding E. coli, Agus mengatakan bahwa ada beberapa produk tertentu yang terbukti dapat mereduksi APEC. Beberapa produk ini dapat digunakan untuk membasmi agen penyakit yang ada. Jika sumber penyakit dapat dibasmi dan ayam diberikan suplemen untuk mendukung sistem imunnya, maka akan berpengaruh pada kesehatan ayam itu sendiri. Selain itu, hal ini juga dapat mendorong penggunaan antibiotik yang lebih bijak, sehingga dapat mencegah terjadinya resistensi antimikroba.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Laporan Utama pada majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...