POULTRYINDONESIA, Jakarta – Perusahaan perunggasan terintegrasi PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN), berhasil mencatatkan kinerja positif pada tahun 2023. Hal ini mengemuka dalam sesi public expose, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Selasa (21/5).
Direktur MAIN, Rudi Hartono Husin mengakui bahwa kondisi di kuartal I tahun 2024 ini memang sangat baik. Terlebih apabila dibandingkan dengan kuartal I pada tahun sebelumnya, dimana pada kuartal I tahun 2023 MAIN mengalami kerugian hingga   Rp 143,9 miliar dan saat ini pada kuartal I tahun 2024 pihaknya mampu mencatatkan laba sebesar Rp143,5 miliar di akhir Maret 2024 atau naik sebesar Rp 287,4 miliar atau 199,8%.
“Faktor utama yang mendorong kinerja positif ini pertama adalah kondisi market yang jauh lebih baik. Terlebih ketika momen puasa dan lebaran yang turut menunjang peningkatan market. Dan secara keseluruhan permintaan atas produk perunggasan juga semakin baik, yang turut menciptakan kestabilan pada harga broiler dan DOC,” jelasnya.
Untuk proyeksi sampai tutup tahun, Rudi tetap mengharapkan adanya pertumbuhan yang positif. Menurutnya, sampai saat ini kondisi masih cukup baik, dan harapannya bisa berlanjut hingga kuartal berikutnya. Sedangkan terkait capital expenditure (capex), perusahaan lebih mengarahkan pada operational capex, dan tidak menganggarkan major capex untuk tahun 2024.
“Jadi perusahaan tetap optimis, dengan keadaan tahun ini. Terutama dengan hasil saat ini yang sangat baik, maka kami mengharapkan bisa mencapai penjualan hingga double digit dan laba yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Dan terkait capex, untuk proyek besar kami masih menunda. Seperti rencana membangun feedmill di Lampung, beberapa pembangunan farm, kami masih mengamati keadaan market, mengingat kondisi pemerintahan baru juga. Jadi di 2024 ini, kami akan fokus pada core business kami, dan terus meningkatkan efisiensi kami,” ungkap Rudi.
Sementara itu, Rewin Hanrahan selaku Direktur MAIN menjelaskan bahwa kedepannya masih terdapat beberapa kendala yang harus dihadapi oleh perusahaan, seperti fluktuasi harga jual DOC dan broiler yang terjadi sepanjang tahun, hingga ketersediaan dan kestabilan harga bahan baku pakan. Menjawab tantangan tersebut, Rewin menjelaskan bahwa saat ini MAIN mempunyai fasilitas RPHU dan food processing, sehingga fluktuasi harga broiler ini bisa diantisipasi dengan memfokuskan ke RPHU untuk disimpan, diolah maupun diekspor.  Ia menambahkan bahwa saat ini MAIN telah berhasil melakukan ekspor ke Singapura dan Jepang, serta terus meningkatkan penjualan ekspor.
“Untuk bahan pakan terutama jagung, saat ini kita telah bekerja sama dengan para petani untuk melakukan penyerapan jagung lokal, terutama saat panen raya sehingga harapannya fluktuasi harga tidak terjadi terlalu ekstrim. Kemudian untuk bahan pakan impor, kita terus memantau fluktuasi harga yang terjadi dan melakukan manajemen pembelian bahan baku dan penyesuaian harga jual yang tepat serta meningkatkan efisiensi produksi dan melakukan penghematan di setiap lini produksi dan operasional,” tambahnya.