POULTRYINDONESIA, Jakarta – Program vaksinasi merupakan salah satu cara bagi para peternak untuk meningkatkan kekebalan tubuh ayam. Keberhasilan vaksinasi dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari ayam itu sendiri, vaksin yang digunakan, pengaplikasiannya, hingga kondisi lapangan. Seluruh faktor keberhasilan vaksinasi broiler saling berkaitan satu sama lain. Ketidakseimbangan satu unsur dengan unsur lainnya akan menyebabkan kegagalan vaksinasi dan berimbas pada hasil. Untuk membahas hal ini, Poultry Indonesia menyelenggarakan Poultry TechniClass Series #10 dengan tema “Pencegahan Kegagalan Vaksinasi Broiler” secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting, Kamis (26/1).
Dalam materinya, Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, MP., selaku Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada, mengatakan bahwa tujuan vaksinasi adalah untuk memicu terbentuknya sistem kekebalan ayam sebelum ayam kontak dengan bibit penyakit, sehingga kekebalan yang akan dicapai adalah kolektif. Selain itu, vaksinasi juga melindngi ayam terhadap infeksi, mencegah kematian, gejala klinis, gangguan produksi (perumbuhan), hingga mencegah virus dari bereplikasi dan menekan proses shedding. Guna meminimalkan risiko kegagalan vaksinasi, peternak dan vaksinator wajib mengetahui beberapa hal.
“Penting untuk kita mengidentifikasi problem penyakit di farm karena data tersebut bermanfaat untuk menentukan jenis vaksin yang akan diberikan, waktu pemberian diberikan, jumlah pemberian, dan apakah rutin atau insidental. Kalau kita sudah tahu penyakit apa yang ada di lapangan, maka kita harus mengerti mengenai vaksinnya. Vaksin harus memiliki proteksi yang baik, disimpan dan diberikan dengan cara yang disarankan,” terangnya.
Lebih lanjut, Michael menekankan mengenai pemahaman peternak dan vaksinator akan faktor-faktor dalam strategi vaksin, yakni ayam, agen penyakit, vaksin, vaksinator, dan lingkungan. Ia mengatakan bahwa vaksinasi harus diprogramkan sebelum ayam kontak dengan agen penyakit. Menurutnya, dalam penggunaan vaksin, tugas peternak adalah memastikan informasi yang benar dari supplier mengenai cara penyimpanan dan aplikasinya. Di dukung biosekuriti ketat serta manajemen tata laksana yang baik, vaksinasi dapat menurunkan populasi bibit penyakit dan mencegahnya dari kontak dengan ayam.
Senada dengan Michael, drh. Hari Wahyudi, selaku Technical Service Manager Poultry East Area PT. Boehringer Ingelheim Indonesia, juga mengatakan bahwa dalam kunci keberhasilan vaksinasi, imunitas yang tinggi difaktori oleh ayam, vaksin, dan administrasinya. Hari kemudian menjelaskan beberapa poin untuk melihat kualitas dari vaksin yang baik. Mulai dari efikasi hingga kemudahan aplikasi.
Baca Juga: PT Ansell Jaya Indonesia Gelar acara 14th Anniversary bertajuk “Grow Better We Can”
Hari mengatakan bahwa vaksin yang baik adalah vaksin yang memiliki efikasi atau potensi dalam memberikan kekebalan. Keamanan dari vaksin tersebut juga perlu dilihat. Vaksin yang baik menyebakan reaksi lokal yang minimal dan tidak menimbulkan gejala klinis meski diberikan dalam dosis bertingkat, serta tidak berbahaya bagi manusia dan hewan lainnya.
Lalu, stabilitas vaksin juga penting untuk diketahui. Potensi vaksin harusnya tidak berkurang selama masa guna yang ditentukan, serta tahan terhadap berbagai kondisi cuaca dan lingkungan. Oleh karena itu, sangat penting pula untuk mengetahui kemurnian vaksin, yang mana vaksin tidak boleh mengandung agen patogen lainnya agar potensinya tetap sama. Seluruh poin ini kemudian harus dilengkapi dengan kemudahan aplikasi di lapangan dan harga yang terjangkau.
“Aplikasi vaksin di hatchery dapat dilakukan secara in-ovo, subkutan, dan spray. Sedangkan pada farm, aplikasi vaksin yang biasa dilakukan adalah spray dan injeksi. Harapannya, nantinya vaksinasi dapat dilakukan di hatchery saja agar peternak dapat fokus beternak. Namun, untuk saat ini, keberhasilan vaksin pada broiler membutuhkan pemilihan vaksin untuk penyakit yang relevan, vaksin yang efektif dan layak, jadwal vaksinasi yang cermat, serta administrasi yang benar,” pungkasnya.