POULTRYINDONESIA, Malang – Adanya perpindahan penyakit secara vertikal atau perpindahan penyakit dari induk ke anak merupakan sebuah tantangan yang tak bisa diabaikan. Untuk itu, dibutuhkan metode pencegahan dalam penetasan agar peluang penularan vertikal ini tidak terjadi. Salah satu metode yang bisa digunakan adalah PEA (Pipped Embryo Analysis).
Hal ini seperti yang disampaikan oleh drh. Christina Dewi Pusparini, selaku Animal Health & Technical Service Poultry Breeder Farm (Parent Stock Broiler), East Indonesia Area, PT Charoen Pokphand Jaya Farm dalam mengisi sebuah seminar dengan tema “Manajemen Penetasan Telur Ayam Broiler”. Dalam acara yang terselenggara secara daring melalui aplikasi Zoom ini, diselenggarakan oleh  Kelompok Studi Perunggasan (Kesper), FKH Universitas Brawijaya, Malang, Minggu (28/8).
Menurut Christina, ada sejumlah penyakit yang bisa ditularkan secara vertikal seperti penyakit yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum atau bisa juga disebabkan oleh Fowl Adenovirus. Oleh karena butuh antisipasi agar penyakit ini tidak terjadi.
Baca Juga: Peduli Stunting, Ismapeti dan NFA gelar Aksi Gizi
Dirinya melanjutkan bahwa langkah- langkah dalam pelaksanaan PEA adalah dengan mengumpulkan telur-telur yang sudah pipping, namun belum menetas sepenuhnya. Kemudian telur-telur tersebut dibuka, embrionya dikeluarkan dari cangkang telur kemudian dibersihkan kulit yang berada di dada dan perut. Pada bagian bawah tulang sternum dibuat potongan otot secara lateral (menyamping), membuat belahan pada bagian tengah sternum, kantong kuning telur dan usus dikeluarkan dari rongga perut, memotong usus, menarik tulang iga pada kedua sisinya serta kantong udara bagian depan dan melihat organ-organ yang lain.
“Jika pada kantong udara terdapat peradangan, maka ada indikasi ke penyakit yang disebabkan oleh Mycoplasma. Jika pada gizzard terdapat erosi, maka ada indikasi ke penyakit yang disebabkan oleh Adenovirus,” tegasnya.