Fatty Liver Hemorrhagic Syndrome merupakan kerusakan organ hati yang terjadi akibat gangguan metabolis maupun mikorrgamisme patogen
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Faktor-faktor yang bisa menyebabkan kerusakan hati pada unggas adalah karena kelebihan akumulasi lemak lebih dari 5 % dibandingkan total berat hati (hepatic steatosis). Sebagai salah satu pemicu utama FLHS antara lain faktor energi yang tinggi protein, overweight, cage farm sehingga aktifitas dibatasi, stres ketika awal produksi berupa heat stress, mycotoxin dalam pakan (DON & Afla), serta endotoxin dari bakteri semisal Salmonella sp., dan E. coli.
Beberapa referensi juga menyebutkan kaitannya Mycoplasma level dan juga FLHS di kandang, kemudian beberapa ahli juga ada yang mengambil kesimpulan tingginya kasus Leucocytozoon dan juga kenaikan insidensi FLHS di kandang yang meningkat terutama pada musim penghujan. Kemudian kandungan Ca, Mg, Sr, Na, Fe dan Ba dalam air minum juga dilaporkan sebagai salah satu faktor pemicu kejadian FLHS.
Beberapa gejala klinis yang nampak antara lain seperti jengger mulai pucat sampai kekuningan, mata cekung, produksi turun sampai 25-30%, kemudian disertai kematian sebesar 5-10%. Selain produksi telur harian yang turun juga disertai naiknya telur retak. Kejadian FLHS ini diawali dengan beberapa faktor yang sudah disebutkan diparagraf sebelumnya, dan salah satu yang paling dominan adalah over weight (>20%) dan over feeding (High Energy Diet, Low Protein Diet).
Baca JugaSalmonelosis dan Ancaman yang Menyertainya
Warna kekuningan di hati tidak selalu menandakan spesifik pada kejadian FLHS, ayam normal yang diberikan jagung sebagai sumber energinya dan juga pemberian pigmen xanthophyll ke dalam diet akan memberikan warna yang kuning, perbedaannya adalah ada dan tidaknya peradangan (hemorrhage) di hati.
Pencegahan yang bisa dilakukan agar sindrom ini tidak muncul dan memberikan efek buruk terhadap performa antara lain : (1) Minimalkan heat stress and mycotoxin exposure terutama di fase awal produksi sebagai rIsiko yang paling tinggi; (2) Pengaturan bobot badan dan keseragaman serta kalori yang sesuai dengan kebutuhan; (3) Minimalkan infeksi sistemik di fase pullet untuk mengurangi level endotoxin yang bersirkulasi dalam darah; (4) Pemberian preparat lipotropic dan juga antioksidan untuk mengembalikan fungsi hati.
Membuang lemak yang berlebihan disaat titik risiko tinggi adalah salah satu jalan untuk mengurangi kejadian FLS/FLHS yaitu dengan penambahan choline 500 ppm, methionine 0.1% dan vitamin B12 yang biasa disebut sebagai preparat Lipotropic nutrient. Sebagai tambahan antioksidan juga bisa diberikan seperti Vitamin E 50-100 I/kg dan juga selenium 0.3 ppm.
Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah antisipasi endotoxin yang bersirkulasi dalam darah, dengan sanitasi air minum, kemudian kontrol rutin analisa post mortem apakah membutuhan pemberian antibiotik terutama apabila ditemukan suspect E. coli dan juga Mycoplasma.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2019 dengan judul “Waspadai FLHS Saat Puncak Produksi”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153