Oleh: drh. Sulaxono Hadi*
Perubahan patologi pada unggas yang terserang ILT tampak jelas pada saluran nafas atas. Perubahan yang terjadi tergantung pada tingkat infeksi. Pada kasus perakut, perdarahan pada mukosa trakea atas mendominasi. Sedangkan pada kasus subakut hingga kronis, terjadi perkejuan pada sinus hidung dan juga perkejuan pada saluran nafas atas, laring, dan trakea.
Secara histopatologi, melalui pewarnaan hematoksilin eosin (HE), jaringan pada trakea unggas akan terlihat gambaran adanya mukosa yang menebal dengan infiltrasi sel-sel mononuklear berwarna kebiruan yang memenuhi mukosa trakea serta pada sel-sel mukosa yang luruh memenuhi lumen trakea.
Kemudian pada bronchioulus, yang merupakan percabangan dari trakea ke paru-paru, mukosanya dipenuhi oleh infiltrasi sel-sel mononuklear. Pada pembesaran yang lebih besar, maka bisa terlihat ciri khusus terjadinya infeksi ILT, yaitu ditemukannya inclusion bodies intranuklear pada sel-sel syncytial (Azis et al., 2010).
Identifikasi infeksi pada saluran nafas dapat dengan mudah dilakukan secara imunohostokimia pada organ trakea atau bronchus dan bronchioli. Keberadaan ILTV bisa terbaca dengan warna coklat kekuningan yang memenuhi lapis mukosa saluran nafas ini. Lendir dari saluran nafas unggas terserang yang bercampur dengan luruhan lapisan mukosa berpotensi sebagai sumber penularan penyakit karena mengandung banyak virus ILT.
Peneguhan diagnosa
Berdasarkan gejala klinisnya, kasus ILT bisa dikelirukan dengan Newcastle Disease (ND), Avian Influenza (AI), bahkan Fowlpox pada saat fase gejala difterik muncul. Beberapa uji laboratorium dapat digunakan untuk peneguhan diagnosa atas kasus yang terjadi, yaitu dengan isolasi virus, uji immunofluerescens, uji histopatologi, maupun uji immunohistopatologi.
Pengujian Elisa antigen dan uji Polychain Reaction (PCR) merupakan uji cepat dengan ketepatan tinggi. Pengujian PCR dapat dilakukan dari sampel swab orofaring organ segar saluran pernafasan. Sedangkan deteksi Elisa antibodi digunakan untuk surveilans paska vaksinasi atau eradikasi pada area non vaksinasi.
Faktor resiko
Mengenali faktor resiko terjadinya infeksi ILT menjadi hal penting karena turut berkaitan dalam mencegah serta mengendalikan terjadinya infeksi. Peneltian Salhi et al., (2021) menunjukkan bahwa unggas yang tidak divaksin menunjukkan tingkat risiko infeksi yang lebih besar terhadap ILT dibandingan dengan unggas yang telah divaksin ILT. Higienitas kandang yang kurang baik juga merupakan salah satu faktor resiko infeksi yang cukup tinggi dibandingkan dengan kandang yang memiliki manajemen higienitas dan sanitasi yang lebih baik.
Infeksi ILT pada peternakan komersial sistem integrator lebih banyak ditemukan pada  ayam yang berumur lebih tua. Jarak kandang komersial dengan ayam umbaran (backyard) dan ayam aduan juga berpengaruh terhadap kejadian infeksi di lingkungan tersebut. Lebih dekat jarak kandang dengan ayam umbaran atau ayam aduan, maka kejadian infeksi ILT akan lebih sering terjadi (Johnson et al., 2004).
Ayam-ayam yang dipelihara dengan cara diumbar memiliki peran penting dalam siklus penularan virus ILT ke usaha peternakan ayam komersial di sekitarnya (Tesfaye et al., 2019), karena antibodi yang dihasilkan akibat infeksi lebih sering ditemukan pada ayam umbaran dibandingkan dengan ayam komersial tanpa vaksinasi.
Cermati vaksinasi
Vaksinasi ILT pada ayam atau unggas peliharaan merupakan upaya pertahanan, dengan memperkuat terbentuknya antibodi yang tinggi dan merata pada populasi yang beresiko. Ada beberapa jenis vaksin ILT yang beredar di pasaran dalam bentuk modifikasi chick embrio origin (CEO), modifikasi live tissue culture (TCO), HVT-ILT, dan Pox-ILT yang diaplikasikan melalui tetes mata, injeksi subkutan atau goresan wing web.
Vaksinasi ILT biasa dilakukan sebanyak 2 kali pada ayam umur 3 hingga 8 minggu yang diulang kembali (revaccination) pada umur 9 hingga 14 minggu, tergantung pada jenis vaksin. Vaksin ILT, baik impor maupun produksi dalam negeri, menggunakan strain ILTV yang berbeda. Strain virus yang digunakan untuk vaksin komersial adalah SA2, A20, Hudson, Cover, Serva, ILT 90, Samberg, K317 dan A94.
Baca Juga: Membedah Penyebab Infeksi Infectious Laryngo Tracheitis
Pencegahan dan pengendalian ILT
Penerapan higiene sanitasi dalam tata kelola perunggasan, baik dari kandang dan lingkungan sekitar, menjadi hal yang penting dalam hal pencegahan dan pengendalian penyakit ILT. Manajemen biosekuriti yang baik dapat menekan dan mengurangi risiko masuknya virus ILT ke dalam kawasan kandang.
Desinfeksi rutin lingkungan kandang, seperti spraying dalam kandang, dipping alas kaki, menjadi tindakan pengamanan lapis pertama yang wajib dilaksanakan. Pengaturan parkir serta dipping kendaraan tamu atau karyawan, baik yang dekat maupun yang  jauh dari lokasi kandang, juga membantu menekan risiko infeksi akibat terbawa masuknya virus ke dalam lingkungan kandang pemeliharaan.
Selain itu, pembatasan masuk mereka yang tidak berkepentingan langsung dengan unggas peliharaan terutama saat terjadi wabah juga perlu dilakukan. Lokasi kandang ayam komersial, baik broiler maupun layer, sebaiknya berjauhan dengan unggas umbaran. Program vaksinasi ILT merupakan lapis pertahanan kedua, akan tetapi jarak kandang juga tak kalah penting guna proteksi populasi melalui pembentukan antibodi.
Deteksi dini dan diagnosa cepat saat awal infeksi sangatlah penting agar peternak dapat menentukan solusi yang ingin diambil. Pengelolaan disposal kandang dan penguburan atau pembakaran ayam yang mati akibat penyakit ini juga dapat dilakukan untuk menambah keamanan.
Pemberian Doxyxycline sebanyak 25 mg per kilogram berat badan per hari melalui air minum selama 5 hari terbukti mampu menurunkan kematian melalui pengendalian infeksi sekunder bakterial. Ayam yang sembuh paska infeksi ILT dapat menjadi pembawa virus (carrier) dan bersifat laten, sehingga disarankan untuk segera menghabiskan populasinya agar kandang dapat segera didesinfeksi serta diistirahatkan untuk kemudian diisi kembali oleh unggas baru. *Medik Veteriner Ahli Madya, Balai Veteriner Banjarbaru
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada Majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, sila mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153