Ceva chick day 2021
POULTRYINDONESIA, Bogor – Indonesia merupakan negara tropis dengan segudang tantangan penyakit di lapangan, tak terkecuali Newcastle Disease (ND).
Virus ND yang masih marak ditemukan di lapangan, tentu membawa kerugian yang besar bagi peternak jika tidak ditangani dengan baik.
Oleh karena itu, Ceva Animal Health Indonesia menggelar seminar dengan konsep hybrid yaitu online dan offline yang dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat yang berlokasi di Bogor, Rabu (31/3).
Menurut Edy Purwoko selaku Country Manager Ceva Animal Health Indonesia, situasi perunggasan di tahun ini diproyeksikan akan membaik. Oleh karena itu perusahaannya perlu untuk mempersiapkan unggas yang baik melalui vaksinasi vektor ND.
“Kali ini kita akan bicara mengenai ND, untuk broiler di Indonesia memang terdapat bulan-bulan baik dan tahun ini pun semoga menjadi tahun yang baik untuk perunggasan. Oleh karena itu, induk ayam kita perlu divaksin ND berulang supaya terbangun adanya super immunized terhadap virus ND,” jelasnya.
Baca Juga: Vaksinasi dan Biosekuriti Kunci Sukses Menjaga Kesehatan Unggas
Selaku narasumber seminar, Tony Unandar yang merupakan Private Poultry Consultant berujar bahwa ND merupakan virus yang bisa menyebar lewat udara sehingga mudah menyebar di kandang dengan populasi yang padat.
“ND itu masih sering terjadi padahal teknologi dan vaksin untuk ND itu sudah semakin canggih. Oleh karena itu kita semua perlu memahami sifat dari virus ND ini,” ujar Tony.
Virus ND merupakan pertikel parasit obligat yang hidupnya memerlukan induk semang. Sehingga menurut Tony, virus tidak bisa hidup di lingkungan ia hinggap, namun perkembangbiakkannya bergantung pada sel induk semang.
Sementara itu, narasumber lain yang juga hadir yakni Ketua Umum GPPU, Achmad Dawami lebih menjelaskan mengenai konsumsi daging ayam di Indonesia yang masih bisa dibilang rendah jika dibandingkan dengan negara lain.
Selain itu Dawami juga menyoroti tentang panjangnya rantai niaga perunggasan yang menyebabkan disparitas harga yang tinggi di pasaran. Oleh sebab itu Dawami mengatakan bahwa hilirisasi merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan nilai tambah produk perunggasan.
“Kuncinya adalah hilirisasi yang bergerak ke arah further processing. Produk unggas itu sebaiknya dijual dengan bentuk produk olahan karena orientasinya adalah rasa yang diinginkan konsumen,” kata Dawami.