Beberapa trial yang telah dilakukan pada peternakan komersial ayam broiler dan layer menunjukkan hasil yang sangat baik, bahkan lebih bagi dari kelompok dengan AGP.
Di tengah dorongan global untuk mengurangi ketergantungan pada antibiotik, industri perunggasan dituntut untuk beradaptasi, salah satunya dalam menjaga kesehatan usus ayam. Kesehatan usus kini jadi isu yang paling banyak disorot, karena kerusakannya dapat berakibat fatal pada penyerapan nutrisi, daya tahan tubuh, sampai performa produksi unggas.
Menjawab tantangan ini, Chiel Jedang (CJ) Bio menghadirkan inovasi unggulannya, GutLuk™, dalam seminar ILDEX Indonesia 2025, Kamis (18/9). Lewat sesi yang dihadiri praktisi, akademisi, dan mitra industri, para pakar menjelaskan produk ini dirancang terutama untuk menjaga keseimbangan mikrobiota usus secara alami.
Dr. Chia Fei Loi selaku Product Manager CJ Bio APAC, menjelaskan latar belakang pengembangan GutLuk™. Produk ini dirancang untuk menjaga stabilitas saluran pencernaan unggas dengan mempertahankan efektivitas garam empedu, agen antibakteri alami yang dimiliki tubuh unggas dan pengemulsi pencernaan lipid.
“Namun, bakteri komensal di usus menghasilkan enzim yang disebut bile salt hydrolase inhibitor (BSHI), yang menonaktifkan garam empedu. Produk kami, GutLuk™, bekerja dengan menghambat enzim ini, sehingga garam empedu tetap aktif dan mempertahankan kendali yang lebih baik terhadap bakteri patogen,” jelasnya.
Masih kata Loi, beberapa trial telah dilakukan pada peternakan ayam broiler, tepatnya di Medan, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Dalam pengujian ini, GutLuk™ dikombinasikan dengan tembaga sulfat dengan hasil yang menunjukkan pertambahan berat badan sekitar 30 gram lebih tinggi dan FCR meningkat hingga 5 poin dibandingkan dengan kelompok AGP (Antibiotic Growth Promoter). Indeks produksinya juga merupakan yang tertinggi, serta margin keuntungan per siklus meningkat secara signifikan.
“Dalam uji coba pada ayam petelur komersial, kami mengamati peningkatan produksi telur sebesar 3,3% antara minggu ke-55 dan ke-64, dengan produksi telur tetap stabil selama lebih dari tujuh minggu. Padahal biasanya, produksi telur menurun pada usia ini,” ungkap Loi.
Menariknya, tiga bahan utama penyusun GutLuk™, epikatekin, vitamin-K, dan tributirin dipilih dengan bantuan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan machine learning untuk menyaring lebih dari 30 juta publikasi ilmiah global.
“Kami menyaring 739 kandidat bahan yang berhubungan dengan kesehatan usus. Proses ini kemudian mengerucut menjadi tujuh kandidat terpilih, sebelum akhirnya kami menetapkan tiga bahan utama yang paling potensial,” ceritanya.
Tak hanya itu, studi akademik menunjukkan bahwa dengan mempertahankan asam empedu terkonjugasi membantu menjaga integritas tight junction dan mengurangi penumpukan lemak di hati. Ini memperkuat keyakinan bahwa pendekatan berbasis enzim bukan hanya efektif dalam jangka pendek, tapi juga menjanjikan manfaat jangka panjang untuk kesehatan unggas. “Kami juga telah memulai uji coba akademis untuk mengevaluasi efek GutLuk™ terhadap penyakit fatty liver disease dan fungsi gut barrier di layer,” sambungnya.
Seminar teknis kemudian dilanjutkan oleh Dr. Roxanne de Gula-Barrion selaku APAC Poultry Manager CJ Bio, yang mengangkat pentingnya formulasi pakan berbasis asam amino. Menurutnya, selama ini banyak asumsi bahwa semakin tinggi kadar protein, semakin baik performa ayam.
“Formulasi pakan harus didasarkan pada kebutuhan asam amino, bukan hanya jumlah protein, agar tidak terjadi kelebihan yang harus dibuang oleh tubuh. Kelebihan ini tidak hanya membuang energi, tetapi juga menguras nutrisi yang seharusnya bisa digunakan untuk produksi, bukan sekadar pemeliharaan,” ungkapnya.
Hal lain yang disoroti adalah pendekatan dengan nutrisi presisi yang menjadi kunci kesehatan usus ayam. Dengan merancang pakan berdasarkan kebutuhan asam amino esensial, peternak bisa mencapai efisiensi yang lebih tinggi, baik dari sisi biaya maupun performa ternak. Menurut Barrion, dua asam amino yang sangat relevan dalam konteks produksi saat ini yaitu triptofan dan arginin.
“Triptofan memang dikenal sebagai prekursor serotonin dan melatonin. Tapi yang tidak banyak diketahui, serotonin ini diproduksi 90–95% di usus, bukan di otak. Dan hanya triptofan yang bisa menembus blood-brain barrier untuk membentuk serotonin di otak,” jelasnya.
Serotonin dan melatonin adalah dua zat yang membantu ayam mengatasi stres, meningkatkan kualitas tidur, serta memperkuat saluran pencernaan dan pernapasan. Di sisi lain, arginin memainkan peran penting dalam sirkulasi darah, kesuburan, penyembuhan luka, dan regulasi suhu tubuh, khususnya pada kondisi stres panas.
Dalam berbagai studi, peningkatan rasio triptofan terhadap lisin (Trp:Lys) terbukti mendukung pembentukan kualitas cangkang telur yang lebih baik dan mempercepat produksi albumin. Sementara itu, peningkatan rasio arginin terhadap lisin terbukti menurunkan FCR dan meningkatkan bobot badan, serta menjaga stabilitas performa saat cuaca ekstrem.
“Untuk triptofan, kami merekomendasikan peningkatan 2% untuk broiler dan breeder, dan 3-4% untuk layer. Sedangkan arginin, bisa ditingkatkan 10% di atas rekomendasi breeder. Bahkan, untuk kondisi stres lingkungan, kami menyarankan rasio hingga 137% untuk layer dan 170% untuk broiler breeder,” terang Barrion.
Selain GutLuk™, CJ Bio juga memperkenalkan COXIELD™, produk yang ditujukan untuk mendukung manajemen koksidiosis secara alami. Di akhir agenda tanya jawab, Kai Kyuyeol Son, pengembang kedua produk unggulan CJ Bio tersebut menjelaskan bahwa COXIELD™ adalah produk fitogenik inovatif dari CJ Bio untuk membantu mengendalikan penyakit koksidiosis pada ternak, khususnya unggas.
Produk ini dirancang sebagai solusi alternatif terhadap resistensi yang mulai berkembang terhadap produk-produk fitogenik konvensional. Menurutnya, sebagian besar produk fitogenik yang sudah beredar di pasaran saat ini mengandalkan bahan aktif yang mirip, seperti thiamin, carvacrol, tannin, dan saponin. “Meskipun kita pilih produk fitogenik yang berbeda, tapi biasanya bahan aktifnya hampir sama. Itu artinya, kalau digunakan dalam waktu lama, bisa muncul resistensi,” ungkapnya.
Kai mengatakan, produk ini sudah digunakan oleh perusahaan peternakan besar di Korea, dan juga diekspor ke negara-negara lain seperti Pakistan, Australia, dan Vietnam. Penggunaannya sangat praktis, cukup dicampurkan ke dalam pakan dengan dosis antara 100–200 gram per ton pakan. Untuk para peternak yang tertarik membuktikan efektivitasnya, ia mengajak para peternak untuk melakukan trial produk bersama CJ Bio.
Seperti yang telah diketahui bersama, siklus hidup Eimeria ada tiga tahap, yakni tahap sporozoi, merozoit, dan gametozoi. Umumnya, produk seperti ionofor, chemical, atau vaksin sekalipun hanya berfungsi di salah atau salah duanya, dan tidak di ketiganya. COXIELD™ hadir dengan tiga komponen kunci, alpha-medosphin, quenic acid, dan quercetin yang dapat bekerja secara lengkap pada seluruh siklus hidup Eimeria.
Selain dapat membunuh spora Eimera saat masuk ke dalam tubuh ayam, produk ini juga dapat mencegahnya ketika akan masuk ke dalam sel, begitu pula saat sedang melakukan pembelahan. Mekanisme kerjanya sangat spesifik, yaitu dengan membunuh mitokondria parasit sehingga proses pembelahan tidak terjadi. Selain itu, ia mencegah perlekatan parasit ke dinding usus dan mengganggu replikasi parasit saat berada di dalam tubuh.
Dengan semua paparan ini, seminar CJ Bio tak hanya memperkenalkan dua produk baru, tapi juga membuka wawasan lebih luas tentang bagaimana pendekatan non-antibiotik hingga formulasi pakan berbasis kebutuhan aktual unggas mengarah pada satu tujuan, yakni performa yang lebih baik dan produksi yang berkelanjutan. Solusi nyata yang ditawarkan bisa menjadi angin segar di tengah tantangan kesehatan usus dan infeksi penyakit di dunia perunggasan Indonesia. Adv










