Penampakan di dalam kandang Closed House Mini
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Tiga puluh tahun mendatang diprediksi akan terjadi lonjakan permintaan maupun konsumsi protein hewani di masyarakat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang disertai peningkatan ekonomi serta kesadaran akan asupan gizi yang baik bagi tubuh.
Berdasarkan hal tersebut, maka produsen protein hewani, khususnya dari sektor perunggasan perlu meningkatkan efisiensinya agar dapat meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan tersebut.
Hal itulah yang melatarbelakangi Majalah Poultry Indonesia mengadakan Poultry Indonesia Forum (PIF) Series #2 berjudul “Solusi Efesiensi dengan Closed House Mini” melalui aplikasi Zoom, Sabtu (10/10).
Ir. Sugiono, MP selaku Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen PKH, Kementan yang hadir mewakili Dirjen PKH menyatakan bahwa daging ayam ras berkontribusi besar untuk kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia.
“Berdasarkan data Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan, daging ayam berkontribusi sebesar 59,71% terhadap penyediaan kebutuhan daging nasional. Ayam ras pedaging juga termasuk ternak yang berkembang pesat di Indonesia,” ucapnya.
Ramadhana Dwi Putra, ST selaku Direktur PT Tri Satya Mandiri (Tri Group) dalam paparannya mengenai “Budi Daya Broiler dengan Closed House Mini” menuturkan dalam kurun waktu 2-3 tahun ini banyak peternak broiler yang beralih dari sistem perkandangan open house ke closed house. Hal tersebut ditujukan untuk meningkatkan produktivitas dan potential loss.
“Potensi genetik broiler tidak dapat diekspresikan jika kenyamanannya terganggu, terutama karena perubahan iklim yang berdampak pada perubahan cuaca yang signifikan untuk naik turunnya suhu di area perkandangan. Tidak menutup kemungkinan indeks heat stress pada fase tertentu akan tinggi dan menggerus performa ayam,” tuturnya.
Baca Juga: Perlunya Sosialisasi Closed House untuk Peternak
Masih menurut Rama, dengan menggunakan sistem closed house mini, maka hal tersebut dapat menjadi sebuah langkah yang tepat dalam langkah modernisasi kandang karena tidak tinggi dari segi biaya investasinya dan hanya memerlukan luasan tanah yang sedikit dibandingan closed house biasa.
“Mini closed house mampu mengadaptasikan operator menjadi berpola pikir baik sehingga produksinya meningkat,” ujar Rama.
Narasumber lain, drh. Sufriyanto, MP yang merupakan Dosen dan Pengelola Experimental Farm Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengaku mulai membangun kandang closed house mini sejak tahun 2018. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan mahasiswa dalam bidang perunggasan khususnya manajemen closed house.
“Tujuannya agar mahasiswa mampu untuk mengoperasionalkan alat-alat di kandang closed house,” jelasnya.
Sufiriyanto menambahkan bahwa dengan kandang closed house ini, beternak akan lebih nyaman.
Ia juga menyarankan bahwa dalam pemeliharaan, pilihlah day old chick (DOC) yang berkualitas agar lebih berhasil dan sukses sampai akhir masa pemeliharaannya.
“Usahakan bobot DOC yang akan dipelihara di atas 40 gram,” ujar Sufiriyanto.