Tidak hanya meresahkan dan mengganggu kesehatan masyarakat saja, COVID-19 juga turut mengganggu perunggasan Tiongkok
Oleh : Ramdhan Dwi Nugroho*
Coronavirus disease 2019 (COVID-19) saat ini tengah menjadi perhatian khusus bagi hampir seluruh masyarakat dunia. Sebelumnya, virus yang memicu penyakit pernapasan tersebut sempat dinamakan dengan 2019-nCoV atau Novel Coronavirus. Setelah menewaskan ribuan orang dan menimbulkan lebih dari 40.000 kasus di Tiongkok dan di beberapa negara lain pada Desember 2019, akhirnya virus corona Wuhan mempunyai nama resmi yaitu COVID-19. COVID-19 telah dikategorikan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) sejak tanggal 12 Maret 2020. Kondisi dikategorikan pandemi ketika suatu penyakit dapat menular dengan mudah dan terjadi dibanyak tempat pada waktu yang bersamaan.

Pandemi COVID-19 yang terjadi berimbas pada semua lini. Bukan hanya korban jiwa, virus ini juga mengganggu sektor ekonomi. Banyak Industri yang merugi, tak terkecuali sektor perunggasan.

Melihat dampak lebih luas, berdasarkan data The Center for Systems Science and Engineering (CSSE) Johns Hopkins University, hingga tulisan ini dibuat pada Selasa (7/4), terdapat 1.347.676 kasus COVID-19 di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 277.331 orang dinyatakan sembuh, sementara angka kematian akibat virus ini berjumlah 74.744 orang. Selain menimbulkan dampak kemanusiaan (meninggal dunia), virus ini juga berdampak pada kelangsungan ekonomi dunia.
International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia untuk 2020 berada pada kisaran di bawah angka 2,9 persen, dimana hal tersebut akan menjadi angka terendah sejak krisis global pada 2008-2009. Keterpurukan ekonomi juga dirasakan oleh berbagai sektor industri, salah satunya industri perunggasan. Mulai dari sektor produksi, konsumsi, distribusi hingga pemasaran produk perunggasan merasakan hambatan.
Baca Juga: VICTAM Asia 2020 akan Terselenggara di Tahun 2022
Sebagai negara pertama merebaknya COVID-19, negara Tiongkok sangat mengalami dinamika pada sektor perunggasan. Kebijakan pembatasan aktivitas di luar rumah yang diambil pemerintah untuk mengurangi penyebaran COVID-19, berdampak kepada naiknya permintaan pangan skala rumah tangga. Sejak pembatasan aktivitas tersebut berlaku, masyarakat memiliki kecenderungan untuk mempunyai cadangan pangan kala pandemi ini berlangsung. Akan tetapi, secara nasional, kenaikan permintaan justru tidak terjadi secara signifikan pada produk perunggasan.
Melansir asian-agribiz.com, menyebutkan bahwa konsumsi daging Tiongkok diperkirakan akan turun tahun ini karena pandemi COVID-19. Hal ini disebabkan oleh banyaknya rumah makan dan pusat keramaian yang tutup. Meskipun warga dapat meningkatkan konsumsi skala rumah tangga, efek ketidakpastian ekonomi dan kurangnya pasokan akan membuat penurunan konsumsi produk perunggasan.*Mahasiswa Magister di Graduate School of Chinese Academy of Agricultural Science (GSCAAS)
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2020 dengan judul COVID-19 Membuat Sektor Perunggasan Tiongkok Terganggu”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153