Jusmeinidar Jusran, perwakilan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI), mendampingi Menteri Pertanian dalam seremoni pelepasan ekspor produk perunggasan di Kementerian Pertanian RI. (Sumber: Kementan)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Upaya memperkuat pasar ekspor terus dilakukan industri perunggasan nasional. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI) melalui salah satu anak perusahaannya, PT Gizindo Sejahtera Jaya, kembali melakukan pelepasan ekspor telur konsumsi (table egg) ke Singapura. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara serentak di kantor Kementerian Pertanian, Selasa (3/3), sebagai bagian dari ekspor produk unggas nasional.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melepas ekspor 545 ton produk unggas senilai Rp18,2 miliar ke tiga negara tujuan, yakni Jepang, Singapura, dan Timor Leste. Pengiriman dilakukan secara bertahap mulai awal Maret hingga 31 Maret 2026.
Mentan menegaskan bahwa ekspor ini merupakan bagian dari strategi perluasan pasar yang telah dirintis sebelumnya. Dimana saat ini produk unggas Indonesia telah menembus 10 negara tujuan ekspor dan akan terus berkembang.
“Hari ini kita melepas ekspor produk unggas dan turunannya ke tiga negara, yaitu Singapura, Jepang, dan Timor Leste. Perunggasan kita telah swasembada dan mempunyai kapasitas produksi yang sangat kuat. Kami optimistis pasar ekspor produk unggas nasional akan terus berkembang. Bahkan produk telur kita bisa ekspor setiap hari ke Singapura. Ini sebuah prestasi yang hebat dan patut diberitakan,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan CPI, Jusmeinidar Jusran, menjelaskan bahwa ekspor telur konsumsi ke Singapura kali ini merupakan pengiriman ke-60 sejak program ekspor dimulai pada Mei 2023. Dimana untuk tahun 2026, CPI menargetkan pengiriman satu kontainer setiap hari, dengan pengecualian saat libur Tahun Baru dan Idul Fitri.
“Setiap kontainer berukuran 40 feet yang memuat sekitar 325.080 butir telur atau setara 20,6 ton berat bersih non packaging, dengan nilai sekitar Rp612 juta per kontainer, tergantung pada nilai tukar rupiah,” jelasnya.
Truk kontainer bermuatan telur konsumsi PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI) yang akan diekspor ke Singapura saat acara pelepasan ekspor produk perunggasan di Kementerian Pertanian RI. (Sumber: Kementan)
Dirinya melanjutkan, pada awal ekspor di tahun 2023, nilai pengiriman masih relatif kecil, dengan total sekitar 1,47 juta USD. Namun, seiring meningkatnya permintaan pasar, khususnya dari Singapura, nilai ekspor terus bertumbuh.
“Tahun 2026 ini, kami menargetkan nilai ekspor telur ke Singapura bisa mencapai 11 juta USD,” jelasnya.
Selain ke Singapura, produk telur konsumsi CPI juga telah berhasil menembus pasar Uni Emirat Arab (UAE). Bahkan, CPI menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang mampu memasok telur konsumsi ke pasar tersebut, dengan total tujuh kali pengiriman.
“Namun untuk sementara waktu, ekspor ke UAE dihentikan. Hal ini disebabkan tingginya permintaan dari Singapura serta tantangan logistik menuju kawasan Timur Tengah yang memerlukan waktu pengiriman relatif lama,” ujarnya.
Padahal, minat pasar Dubai terhadap produk telur konsumsi Indonesia cukup besar. Mengingat telur merupakan produk yang mudah rusak, faktor waktu distribusi menjadi perhatian utama. Meski demikian, telur yang diekspor CPI telah melalui proses penanganan dan pengelolaan khusus sehingga memiliki masa simpan lebih dari 90 hari atau sekitar tiga bulan, jauh lebih lama dibanding telur konvensional yang umumnya hanya bertahan sekitar satu minggu dalam kondisi biasa.
“Mudah-mudahan tahun ini kita bisa kembali melakukan pengiriman ke UAE. Namun saat ini kami masih memprioritaskan pasar Singapura karena mereka merupakan pelanggan tetap dengan pengiriman rutin setiap hari,” ungkapnya.