Langkah peningkatan daya saing merupakan sebuah kunci untuk dapat bertahan dan berkompetisi di tengah bisnis perunggasan yang seperti ini. Untuk menuju ke arah sana, maka berbagai lini harus segera diefisiensikan, termasuk dalam hal perkandangan untuk berbudi daya.
Dalam rangka peningkatan efisiensi tersebut, penggunaan kandang closed house kini telah mulai banyak dipilih oleh peternak. Hal ini dikarenakan kandang closed house mampu mengeluarkan kelebihan panas, uap air, dan gas-gas berbahaya seperti amonia yang ada di dalam kandang dan di sisi lain tetap dapat menyediakan kebutuhan oksigen bagi ayam dengan baik sehingga produktivitas dan kesehatan ayam dapat optimal.
Terlebih, tantangan cuaca (pemanasan global) maupun perubahan genetik pada ayam ras pedaging menuntut peternak untuk dapat memberikan kenyamanan dan memenuhi kebutuhan ayam ras pedaging tersebut, sehingga kesehatan dan performa yang dihasilkan dapat maksimal.
Saat ini peternak telah membuktikan bahwa penggunaan kandang closed house mampu meningkatkan performa ayam ras pedaging, sehingga peternak memiliki daya saing yang lebih baik dan tentunya bisa mendapatkan keuntungan yang semakin besar. Namun, untuk meningkatkan potensi dari penggunaan kandang closed house yang sudah ada, maka penguatan ranah riset harus dilakukan. Guna mencapai tujuan tersebut, tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, namun juga akademisi dan sektor swasta. Maka dari itu, penting adanya kolaborasi antar stakeholder guna kemajuan sektor perunggasan Indonesia.
Melihat hal tersebut, sebagai perusahaan yang bergerak di industri pakan ternak, pembibitan, budi daya ayam ras serta pengolahannya, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI) menghibahkan kandang riset closed house berkapasitas 1.000 ekor kepada Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang. Peresmian kandang riset closed house tersebut berlangsung secara daring melalui aplikasi Zoom, Selasa (10/11). Peresmian ini ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Rektor Universitas Diponegoro dan Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) UNDIP, Dr. Ir. Bambang Waluyo Hadi Eko Prasetiyono, M.S., M. Agr mengucapkan terima kasih setinggitingginya kepada CPI yang telah memberikan kandang riset closed house kepada Undip. Menurutnya, dengan adanya kandang riset closed house tersebut diharapkan dapat mendukung dan mengembangkan kemajuan dunia riset budi daya ayam ras pedaging khususnya bagi para peneliti di UNDIP.
“Seiring dengan hibah kandang riset yang diberikan oleh CPI, kami para peneliti di UNDIP telah menemukan teknologi internet of things (IoT) yang dapat dioperasikan secara jarak jauh tanpa harus ke kandang,” ujar Bambang.
Dirinya menambahkan bahwa penemuan tersebut hasil dari kerja sama antara FPP UNDIP dengan Fakultas Teknik UNDIP. Teknologi IoT tersebut mampu menjalankan dan mengontrol pemberian pakan, konsentrasi amonia, suhu dan kelembapan di dalam kandang dan sebagainya. Bambang mengaku, FPP UNDIP akan terus mengembangkan sistem tersebut sehingga dapat menjawab permasalahan yang ada di kandang closed house secara efektif dan efisien.
“Langkah ini juga akan didorong pada tahap komersialisasi produk IoT sehingga dapat lebih bermanfaat bagi industri maupun peternak ayam ras pedaging di Indonesia. Sekali lagi kami berharap dengan adanya hibah kandang riset closed house ini, dapat mengembangkan riset IoT dan riset lainnya di dunia perunggasan,” ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, Dr. (HC) Thomas Effendy, SE., MBA mengungkapkan kebahagiaannya terhadap laporan perkembangan riset IoT yang telah dilakukan oleh peneliti di UNDIP. Riset dan penemuan baru seperti itulah yang diharapkan oleh CPI. Dengan hibah kandang riset closed house tersebut, CPI ingin memberikan fasilitas dan media kepada peneliti-peneliti di universitas untuk melakukan riset demi meningkatkan kelebihan yang selama ini telah terdapat di kandang sistem closed house.
“Pagi ini kita telah melihat bersama bahwa FPP UNDIP dengan bekerja sama dengan Fakultas Teknik Undip telah menemukan penggunaan IoT untuk mendukung proses budi daya broier,” ujar Thomas.
Masih menurut Thomas, kandang closed house khusus untuk riset tersebut merupakan lanjutan dari diskusi sebelumnya mengenai riset yang ada di UNDIP. Saat UNDIP mendapatkan hibah kandang closed house dengan kapasitas besar yakni 20.000 ekor, selain untuk proses budi daya dan pembelajaran, kandang tersebut juga digunakan untuk kepentingan riset.
“Saya sangat ingat, pernah suatu siklus, hasil budi daya di kandang tersebut kurang baik. Hal ini dikarenakan ada ayam yang diwarnai dan ditandai untuk kepentingan riset dan membuat ayam lainnya stres, sehingga setelah pembicaraan, direncanakanlah kandang closed house yang benar-benar hanya untuk kepentingan riset,” jelasnya.
Saat ini peneliti di bidang perunggasan dituntut bisa mencarikan dan memberikan solusi terbaik terhadap segala permasalahan yang terjadi di perunggasan. Adanya kandang riset closed house diharapkan dapat menghasilkan penemuan-penemuan baru yang nantinya dapat disebarkan kepada para peternak dan industri komersial sehingga dapat belajar, memahami dan meniru riset yang telah dihasilkan. “Semua hal tersebut mengarah kepada peningkatan daya saing perunggasan, sehingga kita dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tambahnya.
Pemberian hibah kandang riset closed house juga disambut dengan baik oleh Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum selaku Rektor Universitas Diponegoro. Menurutnya, CPI selalu memberikan hibah yang berkualitas. Oleh karena itu, jika dianalogikan dengan kegiatan memancing, CPI bukan memberikan ikannya, namun dalam bentuk kailnya sehingga para peneliti di UNDIP dapat berkembang.
“Hal ini terbukti dari hibah closed house pertama, yang saat ini telah mampu menopang dan membiayai dirinya sendiri. Tentu hal ini merupakan suatu bentuk keberhasilan,” jelasnya.
Johan menambahkan bahwa dengan adanya revolusi industri 4.0 banyak hal yang akan berubah, namun ia menjamin satu hal yang tidak akan berubah yakni kebutuhan akan pangan, termasuk dari produk perunggasan. Oleh karena itu hibah semacam ini sangatlah tepat dan akan membantu dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional.
“Semoga kerja sama seperti ini dapat terus terjalin ke depan dan kami berharap dengan adanya hibah ini semoga bisa benar-benar dapat bermanfaat untuk generasi sekarang dan yang akan datang” pungkasnya. Adv