Pemberian secara simbolis bersamaan dengan pelaksanaan vaksinasi PMK pertama, yang berlangsung di peternakan sapi perah milik Afandi, Sidoarjo, Senin (13/6).
Pemberian secara simbolis bersamaan dengan pelaksanaan vaksinasi PMK pertama, yang berlangsung di peternakan sapi perah milik Afandi, Sidoarjo, Senin (13/6).
POULTRYINDONESIA, Sidoarjo – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), menjadi keprihatinan semua pihak, termasuk PT. Charoen Pokphand Indonesia (CPI) yang kali ini diwakili oleh wilayah Jawa Timur (Jatim). Bantuan perusahaan berupa pakan sapi perah diberikan pada peternak terdampak. Pemberian secara simbolis bersamaan dengan pelaksanaan vaksinasi PMK pertama, yang berlangsung di peternakan sapi perah milik Afandi, Sidoarjo, Selasa (14/6).
Berdasarkan penuturan Regional Head CPI Jatim, Benyamin Limi, yang hadir pada acara ini mengungkapkan bahwa pihaknya berusaha untuk berpartisipasi atas program Kementerian Pertanian (Kementan), untuk mengatasi wabah PMK di Jatim, ia berharap wabah PMK di Jatim bisa teratasi dengan baik.
“Partisipasi kami adalah dengan memberikan bantuan berupa pakan sapi perah, pada daerah – daerah terdampak wabah PMK,” tegasnya.
Lebih lanjut menurutnya PMK adalah penyakit yang menyerang makhluk hidup, seperti sapi. Serangan ini tidak bisa dihindari, namun tetap harus dihadapi dan mencari solusi penanganan yang tepat.
Baca Juga: Perjalanan 40 Tahun PT Sinta Prima Feedmill, Komitmen Untuk Menjaga Kualitas
Sementara itu menurut Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementan, yang hadir pada acara ini menegaskan bahwa hari ini (14/6) vaksinasi PMK sudah dimulai secara serentak di seluruh Indonesia, khususnya 18 provinsi di Indonesia 
Menurutnya vaksinasi akan terus dilakukan, sampai seluruh sapi yang tidak terkena penyakit PMK tervaksin. Vaksinasi dilakukan dua kali, vaksin kedua dilakukan sebulan berikutnya, dan selanjutnya akan dilakukan vaksinasi ulang setiap enam bulan sekali.
“Khusus untuk sapi yang sakit, maka dilakukan penyembuhan terlebih dahulu, enam bulan kemudian baru bisa divaksin,” tegasnya.
Lebih lanjut Nasrullah menjelaskan setiap sapi yang sudah divaksin maka akan diberi ear tag, dimana ear tag tersebut sudah ada barcode, yang bisa dibaca oleh sistem kontrol vaksin, mirip dengan aplikasi Peduli Lindungi pada manusia.
“Jadi dari data itu akan menghindari double vaccine sekaligus untuk mengontrol vaksinasi pada sapi tersebut,” jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa dalam kondisi darurat seperti ini, vaksin yang digunakan adalah vaksin dari luar (impor), baru sekitar akhir Bulan Agustus, dapat menggunakan vaksin PMK lokal dari produksi Pusat Veterinaria Farma (Pusvetma).