Asam lemak omega-3 rantai panjang (n-3 LC-PUFA), seperti docosahexaenoic acid (DHA) dan eicosapentaenoic acid (EPA), memainkan peran esensial dalam kesehatan manusia. Komponen ini telah lama dikenal sebagai bagian penting dalam menjaga kesehatan jantung, fungsi otak, dan mencegah berbagai penyakit kronis seperti diabetes tipe 2 dan Alzheimer.

 

Dalam beberapa dekade terakhir, konsumsi omega-3 telah banyak dikaitkan dengan ikan dan produk laut. Namun, tubuh manusia hanya dapat memproduksi n-3 LC-PUFA dalam jumlah yang sangat kecil melalui konversi asam alfa-linolenat (ALA). Akibatnya, asupan omega-3 dari sumber makanan menjadi sangat penting​(nutrients-14-01969). Seiring dengan populasi global yang terus bertambah, tekanan terhadap ekosistem laut semakin meningkat.  Eksploitasi berlebihan menyebabkan penurunan populasi ikan, sementara polusi lingkungan menurunkan kualitas hasil tangkapan. Selain itu, tingginya harga ikan membuat sumber omega-3 ini tidak terjangkau bagi sebagian besar masyarakat dunia. Oleh karena itu, pencarian sumber omega-3 alternatif yang terjangkau, mudah diakses, dan berkelanjutan menjadi agenda penting bagi industri pangan dan kesehatan global.

 

Daging ayam dan telur menawarkan solusi menarik. Produk unggas memiliki beberapa keunggulan, termasuk siklus pemeliharaan yang cepat, efisiensi metabolisme, serta fleksibilitas dalam pengelolaan pakan. Penelitian menunjukkan bahwa dengan pengayaan pakan, kandungan omega-3 dalam produk unggas dapat ditingkatkan secara signifikan. Upaya ini tidak hanya memberikan manfaat kesehatan bagi konsumen tetapi juga mendukung keberlanjutan sistem pangan global​. Maka dari itu, dalam riset ini penulis bertujuan untuk menjelaskan potensi daging ayam dan telur sebagai sumber alternatif omega-3 yang berkelanjutan, serta strategi pemberian pakan dan manajemen peternakan untuk meningkatkan kandungan omega-3 dalam produk unggas guna mendukung kesehatan manusia dan ketahanan pangan global. 

 

Gambaran evolusi diet manusia

 

Pada masa prasejarah, pola makan manusia lebih seimbang, dengan rasio omega-6 (n-6 PUFA) dan omega-3 mendekati 2:1. Diet yang kaya buah-buahan, kacang-kacangan, dan daging hewan liar menghasilkan komposisi nutrisi yang mendukung fungsi tubuh secara optimal. Peran omega-3 sangat penting, terutama dalam menjaga keseimbangan inflamasi tubuh dan mendukung perkembangan otak.

 

Namun, revolusi pertanian dan perubahan pola makan pada era modern telah menggeser keseimbangan ini. Produksi massal minyak nabati yang kaya omega-6, seperti minyak jagung dan minyak kedelai, menyebabkan peningkatan asupan n-6 PUFA. Sebaliknya, konsumsi makanan yang kaya omega-3, seperti ikan dan biji-bijian tertentu, menurun drastis. Pada abad ke-20, urbanisasi dan pola makan berbasis makanan olahan memperburuk ketidakseimbangan ini, dengan rasio n-6/n-3 pada banyak populasi modern mencapai 20:1 atau lebih tinggi. Ketidakseimbangan ini diketahui memicu peradangan kronis, yang menjadi akar dari berbagai penyakit metabolik dan degeneratif​.

 

Dalam konteks ini, pengayaan produk pangan modern dengan omega-3 menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki kualitas diet masyarakat. Produk unggas, dengan aksesibilitas yang tinggi di berbagai kalangan sosial, memiliki potensi besar untuk menjembatani kesenjangan ini. Dengan memperkaya daging ayam dan telur dengan omega-3, masyarakat luas dapat menikmati manfaat kesehatan tanpa harus bergantung pada ikan atau sumber laut lainnya.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Desember 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com