POULTRY INDONESIA, Surabaya – Seiring berjalannya waktu, kebutuhan akan daging ayam semakin bertambah, sementara  isu akan penerapan animal welfare pada ternak dan pencemaran lingkungan akibat peternakan ayam.  Kondisi ini tak mengherankan jika kemudian Pemerintah Singapura secara resmi telah memperbolehkan produksi dan memasarkan daging ayam hasil kultur jaringan.
Baca juga : Menanti Kewajaran Harga Livebird Ayam Pedaging
Menurut Prof. Dr. Irma Isnafia Arief S.Pt., M.Si,Guru Besar Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, IPB Bogor  menjelaskan bahwa dengan kultur jaringan itu tentunya akan menekan biaya produksi daging ayam, mengurangi penggunaan energi serta mengurangi kebutuhan akan ruang pemeliharaan.
“Memang di peternakan broiler sudah ada yang menerapkan kandang bertingkat, untuk menghemat lahan. Namun kandang bertingkat pada ayam broiler paling hanya tiga tingkat, sedang bangunan untuk manusia sudah sampai 20 tingkat, artinya tidak sebanding antara pertumbuhan populasi ayam, dengan populasi manusia sebagai konsumennya,” tegasnya dalam acara Kajian Istimewa Nasional 2021 dengan tema “Daging Kultur Jaringan, ‘Friend‘ atau ‘Fiend‘?” yang diadakan oleh PC IMAKAHI Universitas Airlangga, Surabaya, via aplikasi zoom, Sabtu, (23/10).
Ia menceritakan bahwa jauh pada sekitar tahun 1932 Winston Churchill telah mengungkapkan bahwa kedepan akan muncul daging ayam yang berasal dari bagian ayam yang ditumbuhkan pada medium yang tepat.
“Rupanya ramalan itu terbukti, dengan adanya produksi daging ayam hasil kultur jaringan seperti yang terjadi di Singapura,” terangnya.
Menurutnya Singapura adalah negara yang dekat dengan Indonesia, sehingga ada kemungkinan akan menyebar ke Indonesia. Paling tidak dengan dua jalan membeli teknologi pembuatan kultur jaringan untuk membuat daging ayam, atau Indonesia mengimpor daging ayam hasil kultur jaringan.
Sementara itu menurut Dr. med. vet. Drh. Denny Wisata Lukman, M.Si, Dosen Divisi Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Epidemiologi, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB Bogor menjelaskan bahwa tidak mudah untuk produk daging ayam hasil kultur jaringan itu masuk ke Indonesia. Hal ini dikarenakan masih perlu adanya berbagai macam pengkajian lebih dalam seperti pengkajian tentang rekayasa genetik, pengkajian dalam hal kehalalan produk serta keamanan pangan.
Menurutnya keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi.
Disisi lain, Dr. Annis Catur Adi,Ir.,M.Si, selaku Dosen Departemen Gizi Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga menganggap adanya produksi daging ayam dengan kultur jaringan ini sebagai peluang di tengah rendahnya konsumsi protein hewani penduduk Indonesia, dan mahalnya harga daging yang tersedia di pasaran.