POULTRYINDONESIA, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan nasional sebesar 0,41 persen pada Maret 2026, ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,57 pada Februari menjadi 110,95. Kenaikan harga di sektor pangan dan transportasi menjadi pendorong utama di balik angka tersebut.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa inflasi bulan ini terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,7 persen dan memberikan andil terbesar yakni 0,32 persen terhadap inflasi bulan Maret,” katanya dalam Rilis BPS yang diterima pada Rabu, (1/4/2026).
Dari kelompok tersebut, ikan segar dan daging ayam ras masing-masing tercatat memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen. Beras menyusul dengan andil 0,03 persen, sementara telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, dan daging sapi turut menyumbang masing-masing 0,02 persen.
Di DKI Jakarta, daging ayam ras bahkan menduduki posisi teratas sebagai komoditas penyumbang inflasi terbesar. Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, menyampaikan bahwa daging ayam ras mengalami inflasi 6,48 persen.
“Penyumbang inflasi tertinggi di Jakarta adalah daging ayam ras dengan inflasi 6,48 persen dan andil 0,08 persen terhadap inflasi bulanan ibu kota,” ujarnya.
Sektor transportasi juga turut disorot. Bensin dicatat memberikan andil inflasi sebesar 0,04 persen secara nasional dan 0,06 persen di DKI Jakarta, dengan tingkat inflasi 1,27 persen.
“Bensin dan angkutan antarkota turut mendorong inflasi dari sisi transportasi, yang mencerminkan meningkatnya mobilitas masyarakat,” jelas Kadarmanto.
Komponen harga bergejolak (volatile food) mencatat inflasi paling tinggi, yakni 1,58 persen dengan andil 0,27 persen. Daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, dan daging sapi menjadi komoditas yang paling berpengaruh dalam komponen ini.
Sementara itu, komponen inti membukukan inflasi sebesar 0,13 persen dengan andil 0,08 persen, yang terutama didorong oleh minyak goreng dan nasi dengan lauk. Adapun komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi 0,31 persen dengan andil 0,06 persen, dipicu oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan antarkota, serta sigaret kretek mesin (SKM).
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga yang berhasil menahan laju inflasi lebih jauh. Tarif angkutan udara mencatat deflasi 4,58 persen dengan andil 0,05 persen di DKI Jakarta. Secara nasional, angkutan udara dan emas perhiasan masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen.
“Penurunan tarif angkutan udara dan emas perhiasan menjadi penahan laju inflasi yang cukup berarti di bulan ini,” kata Ateng.
Selain angkutan udara, tarif kereta api, telepon seluler, masker, dan tarif jalan tol juga tercatat mengalami deflasi meski dengan kontribusi yang relatif kecil.
Secara geografis, inflasi Maret 2026 terjadi di 34 dari 38 provinsi di Indonesia, sementara empat provinsi lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi dicatat oleh Papua Pegunungan sebesar 2,57 persen, sedangkan deflasi terdalam terjadi di Maluku sebesar 0,75 persen.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia