Bayi sejak dilahirkan oleh ibunya membutuhkan zat gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Dan para ahli telah merekomendasikan makanan yang tepat untuk bayi sejak lahir sampai dengan usia 6 bulan hanyalah air susu ibu (ASI), yang selanjutnya diberikan sampai anak usia 2 tahun. Adapun pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI), diberikan mulai umur 6 bulan. MPASI adalah makanan yang mudah dikonsumsi dan dicerna oleh bayi berumur mulai 6 bulan, diberikan untuk memberikan zat gizi tambahan, untuk mendampingi ASI, guna memenuhi kebutuhan gizi bayi yang sedang tumbuh. 
Walaupun ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, namun bayi berusia lebih dari 6 bulan membutuhkan lebih banyak vitamin, mineral, protein, dan karbohidrat. Kebutuhan gizi yang tinggi tersebut tidak bisa hanya didapatkan dari ASI, tetapi juga membutuhkan tambahan dari MPASI. Apalagi pada usia tersebut, produksi ASI sudah mulai berkurang, tidak seimbang dengan kebutuhan gizi bayi yang makin meningkat. 
Dengan demikian kandungan zat gizi MPASI sebaiknya mendekati kandungan gizi pada ASI yang sudah sedemikian lengkap. Masalahnya adalah, seringkali terjadi  makanan pendamping ASI (MPASI) yang diberikan oleh orang tua kepada bayinya masih kurang kandungan zat gizinya, terutama komponen protein hewaninya. Padahal protein hewani merupakan sumber zat gizi penting untuk tumbuh dan kembang bayi.
Dari sinilah muncul adanya ancaman kasus stunting akibat asupan gizi bersumber dari MPASI banyak yang kekurangan komponen protein hewani. Stunting merupakan  kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis atau kekurangan asupan gizi dalam waktu lama. Anak yang mengalami stunting akan terlihat lebih pendek dibanding anak lain seusianya. Dampak stunting tidak hanya mengalami gagal tumbuh, namun juga pertumbuhan otak dan organ lain pada anak terganggu, sehingga mengakibatkannya lebih berisiko terkena diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung kelak ketika dia telah dewasa. Maka, ancaman stunting memiliki dampak dalam jangka panjang terhadap pendidikan, gizi, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia di masa mendatang.
Mengacu pada hal itulah maka pemerintah pada peringatan Hari Gizi Nasional 2023 fokus mengampanyekan pentingnya konsumsi protein hewani anak balita guna mencegah stunting, yakni dengan pemberian MPASI yang berkualitas -antara lain dengan mencukupi komponen protein hewani dalam MPASI yang diberikan kepada bayi. Apalagi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) manusia, terjadi pertumbuhan otak yang berjalan dengan pesat. Periode 1.000 HPK dihitung dari 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pertama setelah bayi yang dilahirkan, dikenal sebagai periode penentu kualitas kehidupan seseorang. Disebut juga sebagai ‘periode emas’ kehidupan, bahkan Bank Dunia (2006) menyebutnya sebagai window of opportunity merupakan waktu paling efektif untuk mencegah balita kerdil atau pendek. Setelah melewati 1.000 hari otak seorang anak sudah tidak lagi banyak perkembangan. Dan dalam 1.000 hari pertama itulah otak sangat membutuhkan asupan protein hewani yang cukup. Dengan demikian, yang perlu diperhatikan adalah stunting pada anak kurang dari 2 tahun masih bisa diperbaiki atau dikoreksi. Namun kasus stunting pada anak umur lebih dari 2 tahun akan sangat sulit diperbaiki dan peluangnya kecil. Itulah sebabnya MPASI yang berkualitas sangat berperan dalam pencegahan stunting
Sumber protein hewani untuk MPASI mudah diperoleh, harga terjangkau, cita rasanya lezat, dan dapat dengan mudah diolah menjadi aneka masakan, adalah protein hewani dari daging dan telur ayam. Produk hasil unggas tersebut memiliki sejumlah kelebihan dibanding sumber protein hewani lainnya. Daging ayam adalah salah satu sumber protein hewani yang sangat mudah ditemukan di warung dekat rumah, di pasar, ataupun pusat perbelanjaan. Cara mengolah daging ayam untuk menjadi MPASI pun tidak sulit : bisa mengolahnya menjadi kaldu ayam, atau campuran dalam MPASI anak, seperti sup jagung ayam, nasi tim ayam jamur, dan lainnya. Sebagai bahan MPASI, daging ayam memiliki banyak manfaat untuk bayi, yakni bisa membantu memperbaiki sistem peredaran darah, baik untuk pembentukan tulang, mendukung perkembangan otak bayi, dan bisa meningkatkan kekebalan tubuhnya.
Demikian juga dengan telur, merupakan bahan makanan dengan harga paling terjangkau dan sangat mudah diolah menjadi berbagai masakan lezat. Telur memiliki kandungan protein berkualitas tinggi yang mengandung semua jenis asam amino. Telur bisa diolah menjadi bermacam-macam masakan dan teksturnya pun relatif mudah untuk diterima bayi. Telur mengandung protein, kolin, selenium, yodium, fosfor, besi, seng, serta vitamin A, B, D, dan K, yang sangat bermanfaat untuk memenuhi sebagian kebutuhan gizi anak selama masa pertumbuhan. Kelebihan lainnya adalah, telur juga mengandung berbagai vitamin, mineral, dan antioksidan yang sangat baik untuk mencukupi kebutuhan gizi anak. Cara mengolah telur menjadi menu MPASI pun tidak sulit, misalnya dengan memasaknya dengan diceplok, dadar, orak-arik, direbus, atau diolah bersama sayuran dan sumber protein lainnya. 
Saran pengolahan
Karena mengandung komponen daging atau telur ayam -yang rentan terkontaminasi kuman berbahaya, maka MPASI yang dibuat disarankan untuk disiapkan dan diolah dengan selalu menjaga kebersihan diri dan bahan masakannya. Pastikan untuk selalu mencuci tangan sampai bersih sebelum menyiapkan MPASI baik setelah menyentuh makanan mentah, menyentuh tempat sampah, hingga sehabis menyentuh hewan peliharaan. Juga, selalu menggunakan peralatan masak serta wadah yang sudah dicuci bersih. 
Telur atau daging ayam yang digunakan sebagai salah satu bahan MPASI harus dimasak hingga matang sempurna. Bayi sangat rentan mengalami keracunan makanan yang bisa disebabkan oleh konsumsi daging atau telur yang kurang matang. Sehingga pengolahan daging atau telur ayam harus dimasak hingga matang sempurna agar kuman merugikan yang mungkin ada, dapat dimatikan dengan pemanasan tersebut. Selain itu, MPASI yang dimasak hingga matang sempurna juga menjadikannya lebih empuk sehingga teksturnya sesuai dengan bayi, karena dia sedang berada pada tahap belajar untuk menggerakkan makanan di dalam mulutnya, untuk kemudian mengunyah dan menelannya.
Untuk lebih efisien dalam pemasakannya, MPASI dapat dibuat dalam jumlah beberapa porsi untuk beberapa hari ke depan, yang dapat disimpan di kulkas. Penyimpanan di kulkas sebaiknya letakkan di wadah terpisah dari bahan makanan mentah yang dapat mengontaminasi, misalnya daging mentah atau sayur mentah. MPASI yang akan disimpan kulkas sebaiknya didinginkan secepat mungkin, paling lama 2 jam setelah dimasak. Setelah dingin, MPASI dimasukkan ke dalam wadah-wadah dengan porsi kecil agar mudah pada saat penggunaannya. Setelah itu simpan di dalam kulkas di ruang dingin (chilled) atau bekukan segera MPASI tersebut untuk masa penyimpanan lebih lama. Jika metode pembekuannya sudah sesuai, maka MPASI dapat bertahan hingga 3 bulan.
Ketika akan dihidangkan untuk bayi, maka MPASI beku dapat dicairkan kembali (thawing) dengan meletakkannya di dalam ruangan chiller (pendingin), atau bisa juga dilakukan dengan direndam dalam air dingin. Setelah cair, MPASI dalam wadah porsi kecil tersebut dapat dihangatkan untuk kemudian disuapkan ke anak.
Artikel ini merupakan rubrik Pascapanen pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com