POULTRY INDONESIA, Malang – Daging unggas rupanya menjadi pilihan favorit masyarakat Negara Italia,hal ini terlihat dari data persebaran pasar daging di Italia, dimana daging unggas memiliki market share sebanyak 35 %,dengan komposisi perpaduan antara daging ayam dan daging kalkun.
Kemudian diikuti oleh pasar daging sapi sebanyak 33 %, sisanya sebanyak 21 % adalah pasar daging babi, seperti yang diungkapkan oleh Alice Cartoni Mancinelli, Ph.D dari Perugia University, Italia dalam acara ‘Program 3 in 1 Universitas Brawijaya Seri 3’ yang diadakan oleh Fakultas Peternakan (Fapet), Universitas Brawijaya (UB), Malang pada Senin ( 8/11), via Zoom Meeting.
Baca juga : Daging Ayam Hasil Kultur Jaringan sudah Diproduksi di Singapura
Menurut Alice untuk sektor telur ayam juga terlihat cukup besar, dengan produksi pada tahun 2020 sebanyak 12,6 miliar butir telur, yang setara dengan 796 ribu ton, dengan total keuangan sekitar 1,4 miliar euro.
“Kondisi ini menjadikan Italia termasuk peringkat keempat dari negara-negara eropa penghasil telur, dengan peringkat pertama ditempati Prancis,kedua Jerman dan spanyol di urutan ketiga,” terangnya.
Ia menjelaskan secara umum sektor peternakan ayam merupakan sektor yang cukup besar di Italia, yang mampu menyerap tenaga kerja sekitar 64 ribu orang, termasuk yang bekerja di breeding dan segmen yang lain, dimana sektor ini memiliki per putaran uang sekitar 5,7 miliar Euro.
Alice menyampaikan bahwa kedepan sektor perunggasan akan bergerak pada sustainable farming system, dengan lebih memperhatikan pada lingkungan dan animal welfare (kesejahteraan hewan) dengan membuat sistem pemeliharaan secara baik. Sebab, kedepan konsumen sudah sangat kritis terhadap proses produksi pada apa yang akan mereka beli.
“Ayam yang tumbuh secara lambat lebih menunjukkan kesejahteraan hewan, dan lebih mudah beradaptasi dengan sistem organik lingkungan sekitar bila dibandingkan dengan ayam yang tumbuh dengan cepat, disertai dengan performa yang baik. Namun,tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan luar, yang tercermin dengan banyaknya tingkat kematian (mortality),” ungkapnya.