Industri horeka juga ikut terdampak COVID-19. (Sumber gambar: www.crystallinestudio.com)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Serangan COVID-19 dalam beberapa bulan sejak kasus pertamanya, telah menyita perhatian seluruh dunia. Tak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi virus ini juga menggoyahkan stabilitas ekonomi negara. Dampak tersebut juga dirasakan oleh para produsen pakan ternak. Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto B Utomo, saat dihubungi Poultry Indonesia melalui sambungan telepon, Selasa (7/4), mengatakan bahwa hidup matinya industri pakan sangat tergantung dari industri budi daya perunggasan karena 90 persen serapan pakan ada di sana.
Adanya pandemi COVID-19 yang sedang melanda seluruh dunia dan Indonesia, menurutnya berdampak terhadap industri pakan ternak yakni terhambatnya proses importasi bahan pakan seperti premiks, vitamin, dan mineral dari Tiongkok. Walaupun secara volume pada ransum pakan hanya 30 persen, akan tetapi bahan pakan tersebut sangat vital dan harus ada. Hal tersebut membuat para produsen pakan ternak cukup khawatir.
Tak jauh berbeda, Achmad Dawami, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), juga meyoroti dampak COVID-19 terhadap industri perunggasan. Saat dihubungi Poultry Indonesia melalui sambungan telepon, Senin (13/4), ia menjelaskan bahwa horeka (hotel, restoran, dan katering) pada kondisi normal mampu menyerap lebih dari 50 persen dari total permintaan. Akan tetapi dengan kondisi saat ini, serapan dari horeka terhenti dan beralih kepada konsumsi rumah tangga, sehingga banyak horeka yang tutup.
Baca Juga: Sistem Logistik Pakan yang Efisien Ditengah Pandemi COVID-19
Selain itu, Dawami juga menyoroti terkait sepi bahkan tutupnya pasar tradisional saat ini. Ia menjelaskan bahwa mayoritas daging ayam ras di Indonesia dipasarkan melalui pasar tradisional dan hanya dalam porsi kecil melalui pasar modern. Hal ini jelas menyebabkan turunnya permintaan dan akan terjadi hukum ekonomi yaitu ketika stok melimpah yang tidak diimbangi dengan tingginya permintaan, maka harga produk tersebut akan jatuh.
Masih menurut Dawami, dengan fenomena turunnya permintaan daging ayam ras di masyarakat, maka akan berimbas juga pada turunnya permintaan bibit oleh para peternak. Bibit yang awalnya disiapkan dengan jumlah besar untuk momen puasa dan lebaran, dengan kondisi demikian terpaksa harus dilakukan pemangkasan. Data jumlah pemangkasan yang terjadi pun masih belum diketahui secara pasti. Hal ini disebabkan oleh penurunan permintaan yang sulit diprediksi akibat pandemi COVID-19 yang tidak diduga sebelumnya.
Senada dengan Dawami, Sekretaris Jenderal Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN), Tri Kisowo Jumino, menjelaskan bahwa penurunan permintaan akan daging ayam ras juga disebabkan oleh menurunnya tingkat pendapatan dan daya beli masyarakat. Parahnya krisis ekonomi yang disebabkan oleh COVID-19, membuat banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), potong gaji dan lain sebagainya. Selain itu, masyarakat cenderung akan memilih membelanjakan uangnya untuk bahan pangan yang mempunyai daya simpan yang lama seperti mi instan, beras dan telur. Sandi, Farid
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2020 dengan judul ”Kondisi Perunggasan Mendekati Bulan Puasa”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153