Broiler yang dipelihara pada kandang terbuka
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Hal inilah yang dirasakan Saiful, seorang peternak ayam pedaging dari daerah Indramayu. Ketika diwawancarai tim Poultry Indonesia melalui sambungan telepon, Kamis (16/7), ia menjelaskan bahwa sempat terjadi penurunan yang cukup signifikan terhadap permintaan ayam di kandang, terutama ketika awal pandemi COVID-19 menyerang sekitar bulan April sampai Mei. Lebih lanjut dirinya menceritakan, bahwa kala itu kerugian di peternakannya tidak dapat dihindarkan karena harga jual telah berada di bawah harga pokok produksi (HPP).
Pernyataan senada dilontarkan oleh Ashadi seorang pedagang ayam pedaging dari Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara saat bertemu dengan tim Poultry Indonesia di kediamannya, Senin (20/7). Ashadi menyampaikan bahwa saat awal ramainya pandemi COVID-19 permintaan akan ayam pedaging sangatlah rendah. “Saat itu, walaupun harga rendah, konsumen pun sedikit yang membeli. Naik turunnya penjualan itu disebabkan oleh permintaan yang tidak menentu, jelasnya.
Terlebih ketika beberapa bulan lalu banyak warung dan pasar yang tutup sehingga permintaan pun jelas turun. Sembari mengingat, dirinya menceritakan permintaan ayam pedaging saat bulan puasa dan lebaran tahun ini tidak seramai tahun sebelumnya. “Biasanya permintaan akan naik ketika bulan-bulan tertentu yang banyak terjadi hajatan dan ketika hari raya, tapi tahun ini sedikit berbeda,” tandasnya.
Lebih lanjut faktor kedua penyebab turunnya permintaan ayam pedaging adalah menurunnya daya beli masyarakat. Kebijakan-kebijakan untuk menanggulangi pandemi COVID-19 membuat banyak industri terpaksa harus merumahkan atau bahkan memberhentikan karyawannya (PHK). Imbasnya banyak masyarakat yang kehilangan pendapatan.
Berdasarkan data yang disampaikan oleh Kementerian Ketenagakerjaan pada laman kemnaker.go.id hingga akhir bulan Mei terdapat 1.792.108 pekerja di Indonesia yang terpaksa dirumahkan atau terkena PHK lantaran dampak corona. Mereka terdiri dari 1.058.284 pekerja formal dirumahkan, 380.221 terkena PHK, 318.959 pekerja sektor informal terdampak, 34.179 calon pekerja migran gagal berangkat dan 465 pemagang yang dipulangkan. Belum lagi jika disandingkan dengan data dari Kadin Indonesia (Juni 2020) yang menyebutkan bahwa sudah ada 6,4 juta tenaga kerja yang dirumahkan dan diberhentikan bekerja selama pandemi COVID-19 melanda Indonesia, tentu hal ini semakin membuat daya beli masyarakat melemah akibat mereka kehilangan pendapatan.
Hal ini terkonfirmasi melalui pernyataan Sri Anik, konsumen telur dan daging ayam yang bertempat tinggal di Karanggondang, Kabupaten Jepara. Ketika ditemui oleh Poultry Indonesia, Rabu (15/7), ia menerangkan bahwa pos belanja saat pandemi mengalami penurunan dan pergeseran. Hal ini disebabkan oleh faktor keadaan ekonomi yang serba tidak pasti dan efek ketakutan yang berlebihan di masyarakat sehingga cenderung akan menghindari tempat yang ramai seperti halnya pasar.
Baca Juga: Harga Jual Bagus Momen Menambah Populasi Ayam Petelur
Tak bisa dipungkiri bahwa ketika ayam ras hidup mengalami gejolak harga yang luar biasa, harga telur ayam ras justru cenderung stabil pada saat pandemi melanda. Melansir dari laman www.pinsarindonesia.com, dalam kurun waktu April hingga Juli, harga ayam hidup mengalami banyak sekali fluktuasi, mulai dari terendah Rp6.000 hingga Rp22.000, sedangkan untuk telur ayam ras stabil bagus di atas Rp19.000 per kilogramnya.
Hadi Suyono, peternak ayam petelur di Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto ketika ditemui Poultry Indonesia, Jumat (10/7) mengungkapkan bahwa pada masa COVID-19 tidak bisa dipungkiri telah berdampak pada usaha ayam petelur yang sedang digelutinya. Namun, dampak yang terjadi tidaklah lama dan boleh dibilang hanya hitungan mingguan saja. Apabila diakumulasi, sejak awal COVID-19 hingga saat ini, hitungannya tetaplah untung. Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa semakin ke sini permintaan akan telur masyarakat semakin meningkat. Hal ini membuat kondisi pasar telur sedang berada di atas dengan level harga yang tinggi.
Lebih stabilnya kondisi ayam petelur juga dirasakan oleh Fatkhuroji peternak ayam petelur yang berada di daerah Sukabumi ketika berhasil diwawancarai tim Poultry Indonesia melalui sambungan telepon, Rabu (15/7) mengaku optimis dengan perkembangan pasar petelur saat ini. Ia menjelaskan adanya kenaikan penjualan karena beberapa toko dan aktivitas di pasar sudah mulai dibuka kembali. “Saya optimis dengan kondisi saat ini, penjualan sudah mulai naik meskipun sedikit demi sedikit” tuturnya.
Ia sempat mengalami keresahan karena mengalami penurunan penjualan saat terjadi kebijakan PSBB. Pasalnya, hal itu berpengaruh pada perputaran ekonomi yang tidak maksimal, bahkan mengalami kerugian. “Telur sempat tertahan, tapi tidak berlangsung lama dan segera pulih kembali. Meskipun peningkatan terjadi secara perlahan, saya tetap optimis dengan perkembangan pasar telur saat ini,” ungkapnya.
Fenomena ini diperkuat oleh Toni Komara  pemilik ayamsehat.com, sebuah lapak dagang bahan pangan yang memadukan sistem konvensional dan sistem daring. Kala dikonfirmasi tim Poultry Indonesia melalui aplikasi perpesanan WhatsApp, Kamis (9/7), dirinya mengaku bahwa telah terjadi penurunan omset hingga 30 persen saat pemberlakuan PSBB dan mayoritas pada karkas ayam. “Saat PSBB berlangsung terjadi penurunan permintaan ayam, tapi terjadi kenaikan permintaan pada telur dan sayur,” ungkapnya.
Sifat telur yang praktis dan mudah disimpan disinyalir menjadi salah satu penyebab meningkatnya permintaan masyarakat. Menurutnya, memasak telur lebih mudah dan praktis dibandingkan dengan ayam, selain itu dari segi harga juga lebih murah. “Kenaikan penjualan terjadi pada produk siap masak lain seperti pangan beku (frozen food) dan produk olahan lainnya,” tutup Toni. Sandi, Zain, Yafi, Domi
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2020 dengan judul “Pandemi COVID-19 Melanda, Bisnis Perunggasan Merana”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153