Oleh : CJ Bio
Industri pakan unggas saat ini menghadapi tantangan besar akibat kenaikan harga bahan baku dan ketidakstabilan rantai pasok. Pakan menyumbang hingga 70% dari total biaya produksi, dan sekitar 95% biaya pakan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi dan protein. Dengan meningkatnya harga bahan baku, penggunaan sumber protein alternatif dapat menjadi salah satu strategi untuk menurunkan biaya pakan.
Dalam memilih sumber protein, banyak faktor yang harus dipertimbangkan, antara lain:
  • Profil asam amino
  • Kandungan energi
  • Faktor anti-nutrisi
  • Variabilitas kandungan nutrien
  • Ketersediaan dan konsistensi mutu
  • Biaya
  • Dampak lingkungan
  • Performa dan kesejahteraan ternak
Selain itu, kecernaan protein juga merupakan faktor penting. Strategi yang hanya berfokus pada biaya termurah sering kali berujung pada penggunaan bahan dengan kecernaan rendah
Dalam praktik formulasi pakan, ransum dengan kandungan protein tercerna tinggi tetap dapat mengandung sejumlah besar protein yang tidak tercerna. Protein ini masuk ke usus belakang (hindgut) dan difermentasi oleh mikroba, yang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan saluran cerna. Protein yang tidak tercerna juga dapat:
  • Menurunkan performa ternak
  • Meningkatkan ekskresi nitrogen
  • Memicu stres
  • Meningkatkan kejadian foot pad dermatitis (FPD)
Karena itu, nutrisionis perlu menggunakan bahan berkecernaan tinggi serta teknologi seperti asam amino pakan dan enzim untuk meningkatkan efisiensi dan menekan biaya.
SBM merupakan sumber protein paling umum dalam ransum unggas karena profil asam amino yang seimbang dan mudah dicerna. Namun, SBM juga mengandung faktor anti-nutrisi, antara lain: Alergen, Trypsin inhibitor, Polisakarida non-pati (galaktomanan) dan Oligosakarida (raffinosa dan stakiosa) , yang dapat memicu respon imun usus serta meningkatkan kelembapan feses.
Kadar SBM yang tinggi dalam ransum dapat memicu respon imun akibat pakan dan mengganggu kesehatan usus, terutama pada ayam muda. SBM juga meningkatkan dietary electrolyte balance (DEB), yang dapat menyebabkan konsumsi air dan kelembapan feses meningkat. Kombinasi litter basah dan nitrogen tinggi meningkatkan risiko FPD.
Strategi Reduksi SBM
Untuk mengurangi SBM tanpa mengorbankan nutrisi, strategi yang efektif meliputi:
  • Asam amino pakan untuk menyeimbangkan profil asam amino
  • Sumber protein alternatif (DDGS, MBM, PBM, fermented SBM, dll.)
  • Enzim protease
Peran Asam Amino Sintetik
Penggunaan asam amino sintetik seperti lysine, methionine, threonine, tryptophan, arginine, valine, dan isoleucine memungkinkan penurunan CP ransum tanpa mengorbankan kebutuhan nutrisi unggas.
Manfaatnya antara lain menekan biaya pakan, mengurangi eksresi nitrogen, menurunkan konsumsi air, memperbaiki kualitas litter, serta meningkatkan kesehatan usus dan kaki ayam.
Studi Formulasi Pakan
Dalam simulasi pakan starter broiler: pakan jagung–SBM standar mengandung 23,72% CP. Dengan penambahan L-valine, protein dapat diturunkan menjadi 22,58%, dan biaya pakan berkurang. Penggunaan bahan alternatif (DDGS, MBM, PBM) memang menurunkan SBM dan biaya, tetapi nilai protein kasar justru meningkat karena kecernaan yang lebih rendah.  Ini menunjukkan bahwa penggunaan protein alternatif harus selalu diimbangi dengan asam amino sintetik, terutama asam amino pembatas ke-4 dan ke-5, agar CP tetap standar. DDGS dan by-product jagung tinggi leusin. Kelebihan leusin akan mempercepat pemecahan valine dan isoleucine, sehingga perlu penyesuaian agar tidak terjadi defisiensi tersembunyi.
Kesimpulan
Penggunaan bahan baku alternatif dengan sumber protein yang berbeda untuk mengurangi ketergantungan pada bungkil kedelai (SBM), yang dikombinasikan dengan suplementasi asam amino pakan guna menyeimbangkan profil asam amino dan memenuhi kebutuhan nutrisi unggas, bertujuan untuk menurunkan biaya ransum serta mengurangi faktor anti-nutrisi yang terkait dengan SBM. Strategi ini memberikan banyak dampak terhadap formulasi ransum, termasuk terhadap konsentrasi asam amino yang digunakan di dalam pakan.
Selain DDGS, MBM, dan PBM, berbagai sumber protein lain juga dapat dimanfaatkan, seperti tepung serangga, corn gluten meal (CGM), kacang tanah, bungkil kelapa sawit dan lain-lain. Kecernaan yang lebih rendah dari sebagian besar bahan tersebut akan menyebabkan peningkatan protein kasar dalam ransum ketika digunakan untuk menggantikan SBM. Penurunan protein melalui suplementasi asam amino pakan seperti L-valine, L-arginine, dan/atau L-isoleucine telah terbukti mampu mengurangi ekskresi nitrogen, memperbaiki kesehatan telapak kaki (foot pad), serta meningkatkan performa ternak.
Menjaga keseimbangan antara kualitas bahan, kecernaan, protein kasar ransum, faktor anti-nutrisi, serta keseimbangan asam amino (seperti BCAA) akan mengoptimalkan kesehatan saluran pencernaan broiler, kondisi lingkungan, ekskresi nutrien, performa ternak, dan pada akhirnya profitabilitas.