Daging ayam pada etalase supermarket (sumber: nationalgeographic.com)
Oleh: Dr. Ir. Sutawi, M.P.
Penulis mengikuti lokakarya ‘Konsolidasi Data untuk Akurasi Perhitungan Permintaan dan Penawaran Daging Sapi Nasional’ di Fakultas Peternakan UGM tanggal 22 Oktober 2015. Lokakarya itu diadakan sebagai tindak lanjut dari Rakornas “Menuju ‘SATU DATA NASIONAL’ tentang Produksi dan Konsumsi Daging Sapi di Indonesia” di Kantor Wantimpres pada Agustus 2015. Data di berbagai instansi berbeda-beda sehingga perlu adanya penyatuan angka nasional tentang produksi dan konsumsi daging sapi di Indonesia . Ketika itu harga daging sapi melonjak sampai Rp100-130 ribu per kilogram. Presiden Joko Widodo memerintahkan sejumlah menteri agar segera berupaya menurunkan harga daging sapi di bawah Rp80 ribu per kilogram sebelum Lebaran 2016. Pemerintah berencana mengimpor daging sapi untuk menekan harga daging sapi, tetapi terkendala masalah data yang bervariasi dari berbagai lembaga resmi.
Baca Juga: Kementan Pastikan Stok Pangan Pokok Asal Hewan Cukup Jelang Lebaran
Perbedaan data dari berbagai instansi pemerintah ini terjadi karena perbedaan penyelenggara survei, petugas survei, responden, metode, waktu, tempat, dana, dan sebagainya. Akhirnya, tercapailah data “kompromi”. Jadi, untuk masalah nasional sebesar itu, data yang digunakan adalah data “kompromi”, bukan data hasil survei lembaga resmi yang validitas dan reliabilitasnya terjamin. Entah karena data tidak valid dan reliabel atau faktor-faktor lain, sampai hari ini harga daging sapi di seluruh Indonesia tidak pernah turun di bawah Rp100 ribu per kilogram.
Tabel 1. Konsumsi Daging Sapi, Telur, dan Daging Ayam (kg/kapita/tahun)
Tahun
Daging Sapi
Telur
Daging Ayam
(Pusdatin)
(Pusdatin)
(Pusdatin)
(Statistik PKH)
GPPU
2017
2,361
6,65
5,67
5,683
12,76
2018
2,500
6,491
5,55
5,579
13,12
2019
2,560
17,692
5,80
 
15,50
2020
2,6803
 
6,033
 
15,743
Ket: 1 = konsumsi telur rumah tangga
        2 = total konsumsi telur (RT, Horeka, dan PMM, Industri, dan Jasa Kesehatan)
        3 = angka prediksi (sebelum adanya pandemi COVID-19)
Terakhir, pada awal Juli 2020 penulis mengirim artikel ke majalah PI berjudul “Ketahanan Pangan Produk Peternakan Masa Pandemi COVID-19” yang sudah terbit pada edisi Agustus 2020 dalam rubrik Opini. Biasanya, artikel penulis di PI itu dimuat atau ditolak tanpa diskusi. Kali ini, penulis perlu menyampaikan apresiasi kepada Redaktur PI. Penulis mencantumkan data konsumsi daging sapi 2,56 kg (2019), telur 6,49 kg (2018), dan daging ayam 5,55 kg (2018) per kapita per tahun. Redaktur PI menyangsikan data konsumsi daging ayam tersebut. Menurut Redaktur PI, pelaku industri mengatakan saat ini konsumsi daging broiler sudah mencapai 14-15 kg/kapita/tahun dan telur ayam sudah mencapai 175 butir setara 11 kg/kapita/tahun. Penulis konfirmasi ulang kepada Redaktur PI dengan melampirkan sumber data resmi yaitu Outlook Daging Ayam Pedaging 2019, Outlook Daging Sapi 2019, dan Outlook Telur Ayam 2019, ketiganya diterbitkan Pusdatin Sekjen Kementan.
Tabel 2. Konsumsi Daging Ayam Versi Pemerintah dan GPPU (kg/kapita/tahun)
Lembaga
Uraian
Konsumsi
Keterangan
BPS, Kementan, Ditjen PKH
Konsumsi langsung (RT)
5,47
BPS dalam Rakor Perunggasan 24 Januari 2020 di Kemenko  Perekonomian Jakarta
Horeka dan PMM Lainnya
6,08
Industri (Besar, Sedang, IMK)
1,21
Jasa Kesehatan
0,03
Total
12,79
GPPU
Tahun 2017:
Tonase Kaskas: 3.340.125.389
Jml Penduduk: 261.686.700
12,76
Bisnis Peternakan Era Pemerintahan Jokowi Periode Ke 2 (Achmad Dawami, Menara 165 Jakarta,  20 November 2019)
 
Tahun 2018:
Tonase Karkas: 3.467.272.446
Jml Penduduk: 264.330.000
13,12
Tahun 2019:
Tonase Karkas: 4.138.682.939
Jml Penduduk: 267.000.000
15,50
Redaktur PI kemudian mengirim balasan berupa bahan presentasi (slide ppt) dari Bapak Achmad Dawami (GPPU) berjudul “Bisnis Peternakan Era Pemerintahan Jokowi Periode Ke-2” bertanggal 20 November 2019. Pada slide presentasi tercantum dua macam data konsumsi daging ayam ras yaitu 5,683 kg (BPS, 2017) dan 15,50 kg/kapita/tahun (GPPU, 2019). Penulis kembali melengkapi data konsumsi dari Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2019 yang diterbitkan Ditjen PKH sebesar 5,579 kg/kapita/tahun (Tabel 1). Pemerintah (Ditjen PKH) terakhir menyebutkan 12,79 kg/kapita/tahun (www.poultryindonesia.com), 6 Maret 2020). Menurut Dirjen PKH, berdasarkan hasil Survei Konsumsi Bahan Pokok (VKBP) tahun 2017 dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2019 yang dilaksanakan BPS, konsumsi daging ayam ras adalah sebesar 12,79 kg/kapita/tahun. Akhirnya, penulis dan Redaktur PI menggunakan data “kompromi” dari Ditjen PKH tersebut.
Penulis mencoba menggali di mana letak perbedaan data konsumsi daging ayam. Pemerintah (BPS, Kementan, Ditjen PKH) menghitung kebutuhan daging ayam ras berdasarkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga hasil Susenas 2019, horeka, rumah makan dan PMM, serta industri, sedangkan GPPU berdasarkan produksi karkas ayam tahunan dibagi jumlah penduduk (Tabel 2). Jelaslah bahwa konsumsi daging ayam 5,55 kg/kapita/tahun yang tertulis di Outlook Daging Ayam 2019 dan Statistik PKH 2019 adalah konsumsi langsung rumah tangga, konsumsi 12,79 kg/kapita/tahun yang disebutkan Dirjen PKH adalah total konsumsi (RT, Horeka dan PMM, Industri, dan Jasa Kesehatan), dan konsumsi 15,50 kg/kapita/tahun yang dihitung GPPU adalah produksi karkas ayam tahunan dibagi jumlah penduduk. Dosen Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi September 2020 dengan judul “Berapakah Data Konsumsi Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153