Oleh: Tony Unandar*
Terjadinya akumulasi debu dan mikroorganisme kontaminan pada permukaan saluran pernapasan tadi tentu saja dapat mengakibatkan kerusakan-kerusakan pada saluran pernapasan itu sendiri. Lapisan permukaan saluran pernapasan yang tidak utuh lagi akan memungkinkan partikel-partikel debu masuk ke dalam jaringan tubuh ayam yang lebih dalam. Dalam jaringan tubuh ayam, debu selanjutnya akan dicoba dieliminasi oleh sel-sel fagosit (bagian dari sel-sel darah putih), misalnya oleh makrofag dan heterofil. Karena sebagian partikel debu tidak bisa dihancurkan secara enzimatis dengan baik via aktifitas fagositosis, maka akan terjadi pemborosan dalam penggunaan heterofil dan atau menurunnya aktivitas makrofag dalam melakukan proses fagositosis yang berulang-ulang (phagocyte capability). Jika kondisi ini terjadi, maka:
Daya tahan tubuh ayam secara umum berarti akan menurun, karena sistem pertahanan tubuh melalui sel-sel darah putih (innate immunity) tidak dalam kondisi prima. Keadaan ini tentu saja akan mengakibatkan meningkatnya suseptibilitas (kepekaan) ayam yang dipelihara terhadap adanya infeksi oleh mikroorganisme lain.
Dalam melakukan aktivitas fagositosis, sel-sel fagosit jelas membutuhkan sejumlah “energi” tertentu. Aktifitas fagositosis yang berlebihan (dan terlihat sia-sia) akan mengakibatkan terjadinya pemborosan dalam penggunaan energi yang ada. Dengan demikian, pertambahan bobot badan rata-rata per-hari (ADG = average daily gain) ayam menjadi berkurang dan konversi pakan (FCR = feed conversion rate) akan membengkak. Energi yang terkandung dalam pakan tidak dikonversi menjadi daging, akan tetapi terbuang percuma. Bukankah pada kandang yang kotor dan berdebu penampilan ayam yang dipelihara tidak pernah optimal (sesuai dengan standar galur)?
Debu kandang dan infeksi Mikoplasma
Dr. Shapiro, dalam Poultry Mycoplasma Workshop di Davis – Kalifornia Amerika (1994), memberikan data tentang tingginya prevalensi kasus infeksi Mikoplasma pada ayam, baik oleh Mg (Mycoplasma gallisepticum) maupun oleh Ms (Mycoplasma synoviae), pada kondisi kandang yang berdebu dibandingkan dengan yang tidak. Reaksi pasca vaksinasi pada kandang yang berdebu juga lebih hebat. Kedua kejadian ini diduga berhubungan erat dengan kondisi tubuh ayam secara umum, di mana dalam lingkungan yang tidak nyaman atau berdebu, ayam akan mengalami stres dengan derajat yang relatif lebih tinggi. Adanya stres jelas akan mengakibatkan kondisi imunosupresi. Di lain pihak, adanya infeksi Mikoplasma jelas akan menginduksi terjadinya gangguan-gangguan pernafasan lebih lanjut.
Debu kandang dan pengaruh mediator reaksi radang
Dalam konferensi teknis “Poultry Beyond 2000” (Maret 1997) di Selandia Baru, Dr. Kirk C. Klasing dari Universitas Kalifornia (Davis – Amerika), memaparkan hubungan antara beberapa mediator reaksi radang (disebut juga sitokin) seperti Interleukin-1 (IL-1), Interleukin-6 (IL-6) dan Tumor Necrosis Factor (TNF) dengan aktivitas fisiologis broiler.
Tabel 2. Efek beberapa sitokin terhadap fisiologis tubuh ayam
Jenis Sitokin: |
Efek yang Ditimbulkan: |
IL-1 ; TNF |
Menurunkan konsumsi pakan (feed intake) |
IL-1 ; TNF |
Meningkatkan penggunaan energi waktu istirahat (resting energy) |
IL-1 ; IL-6 |
Meningkatkan suhu tubuh |
IL-1 |
Meningkatkan degradasi protein otot |
IL-1 ; IL-6 |
Meningkatkan sekresi kortikosteroid |
IL-1 |
Menurunkan sekresi hormon tiroksin |










