Akademisi memiliki peran penting dalam pembangunan dan arah kebijakan perunggasan tanah air
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Harga ayam hidup di tingkat peternak yang terus menurun membuat peternak harus banyak bersabar menghadapi kenyataan ketika harga turun sejak setelah momen Idul Fitri. Beberapa hari yang lalu, masih banyak peternak di Jawa Tengah yang menjual ayamnya dengan harga Rp 6.000-Rp 7.000 per kilogram hidup. Oleh karena itu dibutuhkan solusi konkret untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Prof. Ali Agus Selaku Akademisi sekaligus Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyatakan bahwa Industri peternakan broiler merupakan sektor yang berkontribusi menyerap tenaga kerja, sehingga perlu adanya pembenahan agar tidak berdampak lebih luas. “Industri peternakan ayam broiler di Indonesia dari hulu ke hilir telah melibatkan puluhan ribu bahkan beberapa juta tenaga kerja. Terpuruknya harga ayam broiler tidak boleh berlangsung lebih lama lagi dan perlu segera upaya penyelamatan, untuk menghindari dampak buruk lanjutan seperti pengangguran, langkanya daging ayam broiler karena peternak meninggalkan lapangan usahanya, hingga dampak negatif sosial ekonomi di tengah – tengah masyarakat,” ujarnya ketika memberikan keterangan kepada tim PI melalui pesan elektronik (26/6).
Baca Juga : Upaya Ditjen PKH Kementan Stabilkan Harga Ayam di Tingkat Peternak
Maka dari itu, Ali Agus menyarankan agar pemerintah segera menetapkan harga acuan atas dan harga acuan bawah baik untuk DOC, pakan, live bird maupun karkas sehingga setiap pelaku usaha baik yang di hulu maupun yang di hilir memiliki ruang yang fair dan adil dalam memperoleh keuntungan dari usahanya. Harga acuan tersebut secara reguler dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan keadaan. “Pemerintah perlu membantu memfasilitasi peternak atau pelaku usaha peternakan untuk memiliki usaha pemotongan (RPA/RPU) dan gudang penyimpanan (cold storage), di samping untuk infrastruktur perkandangan yang lebih memadai dan nyaman bagi ayam,” ujarnya.
Solusi jangka menengah dan jangka panjang yang ditawarkan oleh Ali Agus adalah meliputi restrukturisasi industri peternakan tanah air yang efisien namun juga tetap berkeadilan. “Dalam jangka menengah dan panjang, restrukturisasi industri perunggasan yang efisien, berkeadilan dan yang memberikan ruang bagi pemerataan akses berusaha perlu segera di fikirkan secara komprehensif, demi menjamin kepastian usaha dan kesejahteraan pelaku usaha peternakan ayam,” jelasnya. PI