Oleh: Prof. Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS.*
Protein adalah salah satu zat gizi makro yang diperlukan oleh tubuh manusia. Dalam pemenuhan kebutuhannya, telur ayam ras menjadi sumber protein primadona. Selain mudah didapatkan, harganya pun relatif terjangkau dibandingkan bahan pangan sumber protein lainnya. Konsumsi telur ayam di Indonesia sendiri pun diperkirakan akan terus meningkat. Peningkatan konsumsi tersebut menjadi suatu dorongan bagi peternak dalam budi daya ayam petelur dan mampu menyediakan kebutuhan telur yang cukup bagi masyarakat Indonesia.
Keberadaan tungau O. bursa dan M. ginglymura yang ditemukan pada peternakan ayam petelur di Pulau Jawa patut diwaspadai. Tidak hanya mengganggu performa ayam petelur, tungau tersebut juga mengganggu kenyamanan para pekerja kandang.
Pada pemeliharaannya, setiap peternak pasti berkeinginan untuk mendapatkan performa produksi yang terbaik bagi usahanya. Segala faktor apapun yang menyebabkan penurunan performa harus dicegah dan dihindari oleh peternak. Satu diantara faktor penyebab penurunan performa ayam petelur yang sering kali dialami di lapangan adalah gangguan ektoparasit, seperti kutu dan tungau.
Menurut laporan Santillan et al, (2015), infestasi tungau atau gurem dapat menimbulkan anemia, penurunan bobot badan, produksi telur, kualitas telur, menyebabkan bintik-bintik pada telur, bulu tidak simetris, dan kematian secara tiba-tiba pada anak ayam asal telur yang baru menetas. Pada spesies lainnya, Mullens et al. (2009) menyatakan bahwa infestasi tungau ayam O. sylviarum dapat menurunkan produksi telur sebesar 2,1-4,0%, penurunan bobot badan 0,5-2,2% dan efisiensi konversi pakan sampai 5,7%, sehingga menyebabkan kerugian sebanyak 1000-1500 rupiah (0,07-0,10 USD; asumsi 1 USD = Rp 15 000) per ayam dalam waktu 10 minggu.
Selain menyebabkan kerugian pada ayam, kedatangan tungau juga memberikan dampak negatif bagi para tenaga kandang. Infestasi tungau pada manusia dapat mengakibatkan gangguan kulit (Bassini-Silva et al, 2019). Namun demikian, penulis merasa informasi tentang prevalensi dan derajat infestasi tungau ayam di Indonesia belum banyak diteliti. Literatur mengenai kejadian tungau di Indonesia pun sangat terbatas. Padahal, dampak kerugian yang ditimbulkan oleh gangguan tungau pada peternakan ayam petelur cukup besar karena produksi telur menjadi tidak maksimal, dan sangat mengganggu kenyamanan para pekerja. Hal ini mendorong penulis untuk melakukan riset dan memberikan gambaran kepada para pembaca Poultry Indonesia agar dapat mengetahui prevalensi, derajat infestasi dan sebaran tungau di peternakan ayam petelur yang tersebar di beberapa daerah di Pulau Jawa.
Wilayah yang menjadi tempat penelitian berada di berbagai daerah Pulau Jawa. Daerah yang mewakili Jawa Timur adalah Blitar dan Kediri. Kemudian, untuk Jawa Barat dilakukan di daerah Bogor dan Kuningan, serta Jawa Tengah di Purbalingga. Sebanyak 13 peternakan ayam petelur dijadikan sebagai tempat pengambilan sampel ayam, dan pada setiap peternakan diambil sebanyak 20 ekor ayam petelur yang berusia sekitar 50 minggu.
Pengumpulan sampel ektoparasit meliputi pemeriksaan tubuh ayam pada bagian kepala, leher, sayap, toraks, abdomen, ekor, dan kaki. Tungau pada masing-masing bagian tubuh diambil dalam waktu 3-5 menit menggunakan kuas yang sudah dicelupkan ke alkohol. Sampel parasit dipindahkan dengan pinset atau kuas dan dipindahkan ke botol yang berisi alkohol 70% dan kemudian diberi label. Selanjutnya, diproses untuk identifikasi jenis dan spesies tungau.
Jenis tungau yang ditemukan
Dari riset yang dilakukan, jenis tungau pengganggu yang berada pada peternakan ayam petelur di Pulau Jawa adalah Ornithonyssus bursa dan Megninia ginglymura. Hal yang harus digarisbawahi adalah morfologi tungau O. bursa sangat mirip dengan O. sylviarum, sehingga dalam melakukan identifikasi harus memperhatikan beberapa fitur tubuh seperti dorsal plate, genital plate, dan sternal plate. Dalam hal ini, tungau O. bursa memiliki dorsal plate cenderung lebar di bagian posterior. Kemudian, bagian genital plate memanjang, dan pada sternal plate tungau O. bursa memiliki tiga pasang setae (bulu-bulu untuk membantu pergerakan tungau).
Tungau O. bursa termasuk ke dalam golongan poultry red mite. Hal ini lantaran ketika O. bursa sudah menghisap darah tubuh inangnya, maka sang tungau akan berubah warna menjadi merah, Tungau ini sangat memengaruhi performa ayam petelur. Menurut beberapa laporan, tungau O. bursa mampu menyebabkan anemia, penurunan bobot badan, produksi telur, kualitas telur, dan kematian secara tiba-tiba pada anak ayam yang baru menetas. Tak hanya itu, menurut laporan Denmark dan Cronmoy (2012), keberadaan O. bursa mengganggu pekerja kandang yang dapat menyebabkan iritas kulit dan dermatitis.
Selain itu, hal yang membahayakan lainnya adalah tungau O. bursa mampu mentransmisikan bakteri dan virus. Santilan et al (2015) melaporkan, telah menemukan Alphavirus, Flavivirus, dan Bunyavirus pada O. bursa yang diambil dari tiga spesies unggas. Hal ini menandakan, virus tersebut mampu bertahan hidup di dalam tubuh O. bursa dan berpotensi untuk ditularkan ke unggas. Meskipun di Indonesia belum terdapat laporannya, namun hal ini patut diwaspadai oleh peternak.
Beralih ke M. ginglymura, sebuah jenis tungau yang juga ditemukan pada peternakan ayam petelur di Pulau Jawa. Berbeda dengan O. bursa yang penghisap darah, tungau M. ginglymura mengganggu dengan cara memakan reruntuhan atau debris epidermis kulit tubuh ayam. Masih dari keluarga yang sama, Tucci et al (2005) melaporkan, adanya penurunan produksi telur sebanyak 20% akibat infestasi M. cubitalis. Walaupun berbeda spesies antara M. ginglymura dan M. cubitalis, namun dampak kerugian yang diterima diduga tak jauh berbeda.
Derajat infestasi tungau
Pemilihan bahan merupakan bagian perencanaan penting sebelum peternak memutuskan bangun kandang. Kesalahan dalam memilih bahan kandang saja dapat memicu datangnya mara bahaya, salah satunya parasit. Dari penelitian ini, penulis melaporkan bahwa bahan kandang yang memiliki peluang terbesar memberikan pengaruh terhadap derajat infestasi tungau adalah bahan kandang dari bambu.
Persentase peluang dari masing-masing bahan kandang untuk memberikan pengaruh terhadap jumlah tungau antara lain bambu sebesar 96,43%, kayu sebesar 11,9%, dan besi 21,48%. Hal ini disebabkan struktur kandang berbahan bambu memungkinkan tungau untuk bersembunyi dan berkembang biak dengan optimal. Pasalnya, struktur bambu memiliki sifat untuk mempermudah terjadinya penumpukan debu, yang berpotensi meningkatkan populasi tungau berkembang dengan cepat.
Didukung oleh laporannya Yakhchali et al (2013), yang menyatakan bahwa debu yang tertumpuk menjadi tempat tungau bersembunyi dan mengancam terjadinya infestasi ulang ketika dilakukan pembaharuan populasi ayam. Hal tersebut lantaran, banyaknya celah dan retakan pada kandang berbahan bambu yang menyebabkan pengendalian tungau menjadi lebih sulit untuk dilakukan dibandingkan dengan kandang ayam berbahan besi.
Distribusi tungau
Distribusi tungau berdasarkan regio tubuh ayam disajikan dalam Tabel 1. Tungau O. bursa paling banyak ditemukan pada toraks (39,3%), sedangkan M. ginglymura paling banyak ditemukan di ekor (37,7%). Pada tungau M. ginglymura, Horn et al (2017) melaporkan bahwa daerah seputar kloaka menjadi tempat yang paling banyak ditemukannya tungau M. ginglymura. Jenis tungau ini menghabiskan seluruh hidupnya pada tubuh inang dan umumnya berada di atas permukaan kulit atau tubuh ayam.
Tabel 1. Distribusi tungau berdasarkan regio tubuh ayam
Jenis tungau |
Kepala dan leher |
Toraks |
Abdomen |
Sayap |
Ekor |
Kaki |
(%) |
||||||
O. bursa |
4,5 |
39,3 |
16,1 |
2,7 |
26,8 |
10,6 |
M. ginglymura |
7,3 |
17,3 |
13,4 |
11,5 |
37,7 |
12,8 |










