disinfeksi untuk mencegah masuknya mikroorganisme patogen
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Cepatnya rotasi produksi tanpa mesin tetas diistirahatkan, tanpa disadari akan menyuburkan tumbuhnya koloni kuman atau mirkroorganisme lainnya yang bisa mempengaruhi daya tetas telur itu sendiri. Debu, bulu, kotoran lainnya dapat dengan mudah dijumpai selesai proses penetasan. Debu lengkap dengan koloni mikrororganismenya bisa dijumpai di rak, lantai mesin tetas, dinding mesin tetas dan sudut-sudut tetas. Karena tuntutan siklus produksi, kegiatan rutin membersihkan dan mendesinfeksi mesin tetas sering “terlupakan”. Kondisi tersebut menjadi media tumbuh mikroorganisme pada periode inkubasi berikutnya. Selain pada debu, bulu-bulu halus dari ayam yang menetas juga sumber tumbuhnya mikroorganisme. Mikroorganisme dapat masuk ke dalam telur yang dalam proses inkubasi selama 21 hari untuk penetasan. Akibat dari masuknya mikroorganisme ini adalah matinya embrio dari telur yang diinkubasi.
Kondisi menurunnya daya tetas telur karena faktor lupanya desinfeksi dalam proses produksi dapat menimbulkan salah interpretasi. Bukan karena telur yang dihasilkan oleh induk ayam tidak baik dan induk perlu diapkir, tetapi perlu ditinjau kembali apakah desinfeksi telah dilakukan secara rutin pada mesin tetas dan dilakukan secara benar atau belum. Banyak yang tidak sadar dan bahkan belum tahu tentang pentingnya desinfeksi pada mesin tetas. Bagi yang tahu, kadang kala menganggap desinfeksi itu membebani dalam proses produksi.
Desfinfeksi adalah langkah tepat dan cepat untuk membunuh mikroorganisme sebelum mesin tetas dipakai kembali setelah proses pembersihan mesin tetas. Desinfeksi pada perusahaan besar merupakan bagian dari proses produksi DOC atau DOD, sedangkan pada masyarakat atau peternak pemula, hal ini seringkali terlupakan karena dianggap tidak perlu dan buang-buang waktu, tenaga dan biaya. Dalam penggunaan desinfektan untuk desinfeksi mesin tetas dikenal adanya ambang batas. Ambang batas penggunaan laruran formaldehida untuk desinfeksi dengan fumigasi adalah 0.5 l/m3.
Baca Juga : Waspada AI Datang Lagi
Penggunaan formaldehida untuk desinfeksi juga memiliki ambang limit waktu, yaitu waktu terpendek (short term exposure) hingga desinfektan ini dapat bekerja efektif dalam membunuh mikroorganisme. Untuk formaldehida, ambang limit waktu adalah selama 15 menit. Konsentrasi maksimal yang bisa dipakai (time weighted average) acuan Belanda adalah 0,12 hingga 1 ppm.
Pada perusahaan penetasan, desinfeksi pada telur tetas dilakukan secara massal untuk menekan kemungkinan adalah infeksi Salmonella spp. Kuman ini berbahaya karena dapat meninfeksi telur dan embrio serta terbawa hingga DOC/DOD terbawa ke kandang komersial milik para peternak. Kerugian akan dialami oleh peternak yang menerima DOC karena akan timbul Salmonellosis atau penyakit Berak Kapur, yang memungkinkan terjadinya kematian ayam pada umur muda dan kekerdilan pada ayam yang sembuh dari sakit.
Dalam proses fumigasi harus memperhatikan besar butiran cairan yang disemprotkan dan lama waktu penyemprotan, jangan sampai kerabang terlur tetas menjadi basah. Daya tetas telur tetas dapat menurun akibat fumigasi yang salah. Fumigasi telur tetas yang terlalu lama dapat menurunkan daya tetas 8% bila fumigasi dilakukan selama 40 menit dengan konsentrasi tinggi formaldehida, lebih tinggi dari 12,5 gram/m3. Kematian saat menetas dapat bisa mencapai 0.83 sampai dengan 1,34%. Nilai ini kelihatannya kecil, tapi kalau dikali dengan jumlah telur tetas yang jutaan, angka ini juga berpotensi menjadi besar. Kerugian bisa dikalkulasi dengan harga DOC yang mau dipasarkan.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2019 dengan judul “Desinfeksi Cegah Infeksi Dini Saat Inkubasi”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153