Sederhananya, patogenesis SHS akan diawali dengan penyakit imunosupresif, seperti Infectious Bursal Disease (IBD), Marek’s Disases (MD), Lymphoid Leukosis (LL), dan Chicken Anemia Agent (CAA). Penurunan kekebalan tubuh akibat serangan beberapa penyakit tersebut melancarkan jalan infeksi sekunder untuk menyerang sinus dan konjungtiva, seperti Mycoplasma sp., Haemophilus sp., Infectious Bronchitis (IB), Pneumovirus, Avian Influenza (AI), dan Newcastle Disease (ND), yang menyerang saluran pernapasan bagian atas dan konjungtiva.

“Faktor lainnya yang memperparah adalah stres lingkungan, seperti kelembapan dan temperatur yang tinggi, dimana kedua hal ini akan menyebabkan stres pada hewan yang membuat hormon kortisol meningkat, sehingga menyebabkan imunosupresi,” terangnya.

Pada kondisi kandang yang kotor, kadar amonia tinggi akan merusak silia pada saluran respirasi atau bahkan merusak mukosa dari konjungtiva, sehingga mengakibatkan perlukaan yang membuat infeksi sekunder dari E. coli mudah untuk masuk. Apalagi ditambah dengan sistem ventilasi yang kurang baik, kadar amonia yang sulit untuk dikurangi di kandang menyebabkan iritasi yang berulang dan menyebabkan luka pada mukosa ayam.
“Infeksi sekunder yang seringkali terjadi cukup parah adalah yang diakibatkan oleh E. coli. Jumlah E. coli yang banyak pada kandang bisa masuk melalui luka yang terjadi di konjungtiva maupun sinus yang kemudian akan mengakibatkan peradangan bawah kulit,” tambahnya.
Baca Juga: Swollen Head Syndrome, Penyakit Multifaktorial yang Harus Dientaskan
Secara patologi, pembengkakan terjadi karena adanya selulitis, terutama di area periorbital. Namun, ada juga peradangan di bagian saluran respirasi bagian atas, terutama tracheitis akut yang ditandai dengan hyperemia trakea. Selain itu, juga ada peradangan respirasi bagian bawah. Peradangan pada respirasi bagian bawah seringkali diakibatkan oleh E. coli dan mycoplasmosis dimana paru-paru akan konsolidasi (ditemukan gambaran bercak berawan).
“Polyserositis atau peradangan pada membran serosa secara bersamaan juga ditemukan pada kasus infeksi sekunder oleh E. coli dan mencerminkan adanya indikasi kemungkinan kolibasilosis. Polyserositis yang ditemukan pada ayam adalah airsacculitis, perihepatitis, dan peritonitis. Jika hepar dan jantung diangkat sedikit, maka akan kita temukan kantong udara yang menebal dan mengeruh akibat airsacculitis. Ini yang kita sebut dengan polyserositis, salah satu gambaran indikasi kasus infeksi E. coli atau kolibasilosis pada ayam,” jelasnya.
Lebih lanjut, Vetnizah menjelaskan bahwa indikasi-indikasi lain penyebab imunosupresi ada bermacam-macam, tergantung dari penyakitnya. Pada kasus Infectious Bursal Disease (IBD) atau Chicken Anemia Agent (CAA), akan ditemukan atrofi pada bursa fabricius atau timus. Jika ditemukan adanya tumor, maka penyebab imunosupresinya bisa jadi Marek’s Disease (MD) dan Lymphoid Leukosis (LL). Gambaran yang ditemukan beragam, akan tetapi yang sudah pasti mengindikasikan SHS adalah adanya selulitis di periorbital.
Diagnosis dan penanganan SHS
Diagnosis kasus Swollen Head Syndrome (SHS) tidaklah sulit. Menurut Vetnizah, untuk mendiagnosis kejadian ini, kita bisa lihat langsung selulitis periorbital dari gambaran patologi anatomi. Untuk memperjelas penyakit lainnya, diagnosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium menggunakan histopatologi untuk melihat adanya tumor maupun bursitis (gambaran abnormalitas sumsum tulang).
“Isolasi dan identifikasi agen penyakit, seperti E. coli, dapat dilakukan untuk memastikan kasus ini. Sedangkan untuk identifikasi imunosupresi akibat penyakit lainnya, seperti ND, IB, dan Marek’s Disease, maka dapat dilihat dari titer antibodinya yang otomatis menurun,” terangnya.
Karena SHS merupakan penyakit multifaktorial, maka penanganannya harus menggunakan multi proses, seperti penggunaan antibiotik spektrum luas dan multivitamin, terutama yang mengandung banyak asam amino, dimana asam amino akan berperan dalam pembentukan protein yang berguna dalam regenerasi jaringan yang rusak.
“Untuk mencegah adanya infeksi sekunder mikroba, terutama mikroba saluran pencernaan, kita bisa gunakan probiotik untuk mencegah bakteri patogen masuk dan menginfiltrasi lewat usus. Probiotik, bakteri baiknya bisa dikeluarkan lewat feses dan kemudian berkoloni pada alas kandang. Bakteri yang tumbuh bisa bermanfaat dalam mengurangi populasi bakteri patogen di alas kandang,” terang Vetnizah.
Menurutnya, salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah mematikan sumber bakteri. Air, tempat E. coli biasa ditemukan, bisa diberikan klorin (klorinasi). Bahkan, pada beberapa kasus, ada peternak yang menggunakan acidifier pada air. Air dengan pH rendah akan membuat bakteri patogen sulit berkembang. Namun, dengan segala upaya identifikasi penyebab dan pencegahannya, kejadian SHS tentu menjadi bukti bahwa program biosekuriti dan vaksinasi di kandang tersebut harus ditinjau kembali.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com