POULTRYINDONESIA, Bali – Upaya mendorong praktik peternakan ayam petelur yang lebih beretika dan berkelanjutan terus digalakkan di Bali. Animals Don’t Speak Human (ADSH) menggelar Sarasehan Penerapan Kesejahteraan Hewan dan Pengelolaan Peternakan Ayam Petelur Bebas Sangkar (cage-free) di Rumah Hijau Bali, Apuan, pada Rabu (17/12/2025).
Kegiatan ini mempertemukan peternak ayam petelur konvensional, perwakilan pemerintah daerah, organisasi kesejahteraan hewan, asosiasi peternak, hingga pelaku sektor hotel, restoran, dan kafe (HORECA). Sarasehan tersebut menjadi ruang dialog terbuka untuk membahas tantangan, peluang, serta langkah awal transisi menuju sistem cage-free di Bali.
Abiel Syaputra, selaku panitia acara sekaligus perwakilan ADSH, menyampaikan bahwa sarasehan ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain ADSH, Indonesia Cage-Free Association (ICFA), perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, peternak ayam petelur yang telah menerapkan sistem cage-free, serta perwakilan sektor HORECA. Kegiatan ini juga diisi dengan diskusi panel dan sesi tanya jawab yang memberikan ruang bagi peternak untuk menyampaikan kekhawatiran, kebutuhan dukungan, serta kesiapan mereka dalam memulai transisi.
“Sarasehan ini bertujuan memberikan pemahaman praktis kepada peternak konvensional mengenai prinsip kesejahteraan hewan, dasar hukum yang telah berlaku, serta peluang transisi ke sistem cage-free sebagai pasar bernilai tambah,” ujar Abiel.
Ia menilai bahwa sebagian besar produksi telur di Indonesia masih bergantung pada sistem kandang baterai konvensional yang membatasi perilaku alami ayam. Di sisi lain, tren global dan permintaan pasar, terutama dari sektor pariwisata yang menunjukkan meningkatnya kebutuhan akan produk pangan hewani yang dihasilkan secara lebih etis dan bertanggung jawab. Dalam konteks ini, Bali sebagai destinasi pariwisata internasional dinilai memiliki posisi strategis untuk mendorong perubahan.
Dalam sarasehan tersebut, peserta memperoleh pemaparan mengenai prinsip dasar perlindungan dan kesejahteraan hewan, perbandingan sistem peternakan konvensional dan cage-free, serta aspek teknis pengelolaan pakan, kesehatan, dan lingkungan pada sistem cage-free. Selain itu, dibahas pula peluang pasar telur cage-free di Bali, khususnya untuk memenuhi kebutuhan industri perhotelan dan kuliner yang berkomitmen pada rantai pasok berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun pemahaman yang lebih kuat mengenai pentingnya kesejahteraan hewan sekaligus membuka jalan bagi kolaborasi antara peternak, pemerintah, dan sektor swasta. Sarasehan ini juga menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi potensi pengembangan peternakan ayam petelur cage-free di Bali.
I Made Subagia, S.Pi., M.M., selaku Plt. Kepala Dinas Pertanian Tabanan, menyampaikan bahwa saat ini semakin banyak anak muda yang menunjukkan ketertarikan dan keterlibatan dalam pertanian organik serta peternakan berkelanjutan. Ia berharap ke depan semakin banyak pihak yang memberikan perhatian terhadap isu-isu tersebut.
“Sekarang saya banyak menemui anak muda yang tertarik dan terlibat dalam pertanian organik serta peternakan berkelanjutan. Saya berharap semakin banyak pihak yang peduli terhadap isu-isu ini,” tambahnya.
Ke depan, penerapan sistem peternakan yang lebih ramah hewan diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ayam petelur, tetapi juga memperkuat daya saing produk telur lokal Bali di tengah tuntutan pasar global yang semakin berorientasi pada keberlanjutan dan etika produksi pangan.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.