POULTRYINDONESIA, Malang – Fokus pada masalah dan mencari solusi pada masalah yang ditemui adalah jalan yang bisa ditempuh untuk mengawali bisnis. Hal ini seperti disampaikan oleh Ashab Al Kahfi, Founder and President Chick In Indonesia dalam Talk Show Asik Entrepreneur (Toksiner), dengan tema “Explore The Potential off Young Entrepreneur for Developing Livestock Business in industry 4.0”, yang diadakan oleh BEM Fakultas Peternakan (Fapet), Universitas Brawijaya (UB) Malang pada, Sabtu (26/3).
Baca juga : Berbagai Cara Untuk Tingkatkan Hulu Hilir Peternakan Dibahas dalam Seminar ISPI
Menurutnya banyak yang memulai bisnis dengan produk. Namun, pada akhirnya tidak mampu bertahan karena tidak mampu untuk menyelesaikan permasalah yang dihadapi, semisal masalah marketing.
“Kami berpendapat bahwa produk itu bukan yang utama. Yang lebih utama adalah bagaimana menemukan permasalahan dan bagaimana menemukan solusinya, sedang produk adalah sebagai bentuk alternatif solusi,” terangnya.
Ia bercerita bahwa pada dasarnya ia adalah mahasiswa pertanian UB dan selalu mencoba mencari permasalahan yang ada di pertanian. Namun, setelah melakukan riset lebih dalam, ternyata permasalahan yang lebih kompleks itu ada di dunia peternakan, bukan di pertanian itu sendiri.
“Saya pernah mengkaji lebih dalam pada peternakan ruminansia. Namun, pada akhirnya kurang cocok, hingga akhirnya yang paling cocok adalah pada peternakan unggas,” terangnya.
Lebih lanjut Ia menceritakan bahwa dalam perunggasan terdapat banyak sekali permasalahan. Ia menemukan banyak sekali masalah baik dari segi Hulu (upstream), Hilir (downstream), supply, demand, juga distribusinya.
“Pada awalnya kami menyangka permasalahan itu hanya ada di suplai. Namun, setelah dikaji ternyata pada demand juga bermasalah,” terangnya.
Masih dalam acara yang sama, menurutnya dalam hal suplai ada banyak ketidakefisienan dari segi budidaya, begitu pula dalam distribusi produknya. Menurut pemahaman Ashab, dalam perjalanan distribusi produk unggas masih banyak broker atau pemain perantara. “Hal tersebut mengakibatkan harga sampai ke end user harganya sangat tinggi. Terkadang dapat harga ayam murah dari peternak, namun, di pasar masih tinggi. Hal ini disebabkan oleh problem di middleman masih belum tertangani dengan baik,” tegasnya.
Sedang dalam segi demand ternyata Ashab juga masih melihat adanya masalah, yakni dengan rendahnya tingkat konsumsi masyarakat Indonesia, yang hanya 7 kg/ kap/tahun. Berbeda dengan negara Asia lain yang bisa dua sampai tiga kali lipat.
“Industri perunggasan itu seksi, banyak permasalahan di dalamnya tapi banyak pula peluangnya, menurut data yang ada, tiga milyar ayam yang diproduksi setiap tahunnya dengan annual value bisa mencapai 17 miliar dolar per tahun,” pungkasnya.