Penyakit pada ayam umumnya meningkat di musim penghujan (sumber gambar: www.freepik.com)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan (ADHPI) bersama dengan Food and Agriculture Organization (FAO) ECTAD Indonesia menyelenggarakan Obrolan Ringan Akhir Pekan Seputar Unggas (OBRASS) via Zoom, Sabtu (19/6). Acara yang menghadirkan akademisi, pihak swasta, organisasi, dan pemerintah ini membahas mengenai Survaillance dan Review Penyakit Unggas Selama Masa Pandemi COVID-19.
Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si selaku Direktur Kesehatan Hewan, Kementan mengapresiasi diadakannya acara ini untuk berbagi seputar pengalaman maupun informasi terbaru di bidang perunggasan. Update mengenai penyakit perunggasan ini diperlukan untuk mencari upaya dan masukan dalam merumuskan kebijakan untuk meningkatkan produktivitas unggas.
“Harapannya acara ini dapat terus berlangsung, sehingga kedekatan antara pemerintah, swasta, dan akademisi dapat memberikan output yang dapat meningkatkan produktivitas unggas. Mengingat sektor perunggasan menyumbangkan protein hewani terbesar,” ujarnya.
Baca Juga: Pengaruh Penyakit Pada Produktivitas
drh. Kammaludin zarkasie selaku Ketua Umum ADHPI mengatakan bahwa dokter hewan perlu selalu update mengenai penyakit unggas dan melakukan pengendalian penyakit secara keseluruhan. “Tentunya pengendalian ini menjadi tanggung jawab sebagai dokter hewan,” katanya.
drh. Didit Prigastono selaku Deputy Health of Poultry Health Service and QC Breeding Division PT Japfa Comfeed Indonesia memaparkan bahwa berdasarkan temuan penyakit yang ia dapatakan sejak tahun 2010 – 2015, memiliki trend yang hampir sama setiap tahunnya. Didit menemukan bahwa penyakit-penyakit yang dilaporkan akan meningkat pada saat musim penghujan.
“Kalau kita gabungkan laporan per tahun, polanya hampir sama saat musim penghujan akan banyak kasus ND yang terjadi, sementara IBD tidak sampai 5%. Selanjutnya kasus IB lebih banyak ditemukan pada layer dan sempat menurun di bulan januari dan Februari,” jelasnya.