Pandemi berpengaruh terhadap peternakan bebek
POULTRYINDONESIA, Sidoarjo – Masa Pandemi covid 19,merupakan masa yang tidak mudah untuk dilalui begitu saja. Sebab, dampaknya menjadi multi sektoral. Peternak ayam petelur sudah sekian lama harus berjuang untuk bertahan, dan tak jarang ada yang tumbang, karena tidak mampu untuk menanggung biaya produksi yang tinggi, sementara harga jual telur cenderung melemah, jauh dibawah biaya produksi.
Hal yang sama juga terjadi pada peternak ayam pedaging, dan rupanya sektor peternakan bebek petelur juga terkena imbasnya, salah satu contohnya seperti yang dialami oleh Sulaiman, Peternak bebek petelur yang berlokasi di Desa Kebonsari, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur ketika ditemui wartawan Poultry Indonesia, Rabu (1/9).
Sulaiman mengaku hanya bisa pasrah dengan keadaan yang ada. Namun, ia tetap memutar roda usahanya, meski hanya sebatas separuh populasi.
Baca juga : Indonesia Livestock Club ILC Edisi10 : Masa Depan Bisnis Itik Pasca Pandemi-Covid-19
“Sebelum pandemi, populasi bebek saya sekitar 2000 ekor, dan semua lancar, termasuk pasarnya juga sangat lancar, bahkan pesanan dari luar daerah juga banyak,” tegasnya.
Namun, lanjutnya sejak pandemi melanda ia harus mengurangi populasi bebek nya menjadi 1000 ekor saja. Tindakan ini ia lakukan karena semakin menurunnya konsumen telur bebek. Selain beternak, Sulaiman sekaligus produksi telur asin yang dijual di kios depan rumahnya, serta melayani pesanan. Telur asin yang diproduksinya ada dua jenis: original dan asap, dengan varian berbagai rasa. Untuk telur asin varian original sebagian besar melayani pemesanan untuk orang hajatan. Namun, sejak pandemi pesanan telur menurun drastis, bahkan yang sudah menaruh uang juga dibatalkan.
Sedang untuk telur asin asap adalah sebagai oleh-oleh khas Sidoarjo,dimana sebelumnya pemerintah setempat menetapkan Desa Kebonsari, sebagai Kampung Bebek, dengan demikian banyak pengunjung yang sengaja datang ke kampung bebek dengan tujuan memberi telur asin, sebagai oleh -oleh.
“Namun, saat adanya pembatasan, praktis tidak ada pengunjung yang datang ke kampung kami,” tegas Sulaiman.
Namun, yang menarik dari bebek petelur ini, ternyata harga jual telur tidak berubah ataupun mengalami penurunan yang tajam seperti telur ayam negeri. Menurut Sulaiman, harga telur bebek Rp. 2.300 per butir, harga telur asin original Rp.3000 per butir, sedang telur asin asap Rp.3.500 per butir. Ia berharap, masa sulit ini segera terlewati, agar peternak kembali bangkit. Lebih jauh, menurutnya yang paling penting untuk menjadi catatan adalah, bagaimana menjaga kondisi kesehatan. Sebab, di masa pandemi ini kondisi kesehatan sangat dibutuhkan, agar tidak sakit.
“Kalau sudah sakit, maka tidak mampu untuk meneruskan usaha peternakan ini,” pungkasnya.