Dengan sifatnya yang mutagenik, Avian Influenza selalu menjadi penyakit perunggasan yang perlu diwaspadai. Penerapan biosekuriti yang ketat serta dipadukan dengan program vaksinasi yang tepat menjadi langkah pencegahan yang harus dilakukan.

Ketika mendengar penyakit Avian Influenza (AI), atau lumrah disebut flu burung, masyarakat umum mungkin akan langsung teringat tentang penyakit yang sempat menghadirkan ketakutan bagi masyarakat belasan tahun lalu. Di mana pada tahun 2004 yang merupakan titik mula merebaknya virus ini yaitu jenis H5N1 di Indonesia, telah membuat berbagai pihak ramai membicarakannya. 

Penyakit yang pada mulanya menyerang unggas ini sontak membuat resah. Peternak pun dikagetkan dengan ribuan ayam yang mendadak mati. Kekhawatiran terhadap virus ini kian memuncak tatkala diberitakan manusia yang turut menjadi korban. Sontak saat itu, Avian Influenza pun benar-benar mampu menyita perhatian bahkan menebar ketakutan publik secara luas dan cepat.

Dinamika Avian Influenza

Perkembangan penyakit ini terbilang cukup cepat. Virus yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produksi ternak ini bahkan terus mengalami mutasi. Dalam sebuah artikel berjudul “Kembali Mewaspadai Ancaman AI” yang diterbitkan oleh Poultry Indonesia edisi Maret 2023, Prof. Wayan Teguh Wibawan menyampaikan bahwa sulitnya pengendalian penyakit Avian Influenza juga disebabkan oleh sifat dari virus Avian Influenza sendiri yang mutagenik atau mampu bermutasi dengan cepat jika terus menerus diberikan tantangan. Dengan ini, maka virus Avian Influenza dapat melawan sistem kekebalan tubuh untuk menginfeksi sel. Berbeda dengan virus lain seperti cacar yang cukup dengan satu kali vaksinasi bisa memberikan kekebalan seumur hidup karena tidak memiliki kemampuan mutagenik seperti Avian Influenza.

Dirinya melihat bahwa setiap virus Avian Influenza dari mulai H1Nx sampai H12Nx itu memiliki tingkat mutasi yang tinggi karena memang sifat alamiah dari virus influenza untuk mempertahankan keberlangsungan hidup dari virus itu sendiri. Seperti misalnya virus Avian Influenza, Covid-19, dan Infectious Bronchitis yang memiliki tingkat mutasi tinggi, sedangkan untuk virus seperti Newcastle Disease (ND) itu relatif rendah laju mutasinya karena memang hanya memiliki satu serotipe, walaupun terkadang ditemui serangan subklinis untuk ND. Dengan sifatnya tersebut, tak heran apabila perkembangan Avian Influenza terus menjadi perbincangan, bahkan hingga saat ini.

Seperti halnya pada awal tahun 2023, industri perunggasan global dihadapkan dengan ancaman Avian Influenza jenis HPAI subtipe H5N1 clade 2.3.4.4.b dan clade 2.3.2.1.c yang telah menyerang dan mengakibatkan depopulasi massal unggas di berbagai negara. Penyebaran virus tersebut pun sangat sulit untuk dikendalikan karena melibatkan burung-burung liar yang bermigrasi antar wilayah. 

Untuk di Indonesia sendiri, kala itu diterbitkan Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) No.16183/Pk,320/F/01/2023 yang dikeluarkan pada 16 Januari 2023 Dirjen PKH, yang menjelaskan bahwa telah teridentifikasi positif virus H5N1 clade 2.3.4.4.b melalui uji PCR dan sekuensing di peternakan komersial bebek peking di Provinsi Kalimantan Selatan pada bulan Mei 2022. Untuk itu, pemerintah menghimbau seluruh stakeholders peternakan untuk meningkatkan kewaspadaannya.

Kemudian baru-baru ini, fenomena Avian Influenza kembali menjadi perbincangan hangat bagi para stakeholders perunggasan dan peternakan di dunia. Pasalnya pada bulan Maret 2024, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (World Organization of Animal Health/WOAH) menyebutkan bahwa dua negara bagian Amerika Serikat (AS) yakni Kansas dan Texas melaporkan terjadinya kasus infeksi Avian Influenza pada sapi perah. 

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com