POULTRYINDONESIA, Jakarta – Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) menggelar seminar nasional outlook bisnis peternakan. Seminar nasional ini merupakan agenda rutin tahunan ASOHI, yang sudah diselenggarakan sejak tahun 2014. Pada seminar nasional tersebut, ASOHI mengusung tema “Melangkah Hadapi Ketidakpastian Global”, yang membahas mengenai potret industri pembibitan ayam ras, pakan, pasar, dan obat hewan sepanjang tahun 2022 beserta proyeksinya di tahun 2023. Acara ini dilaksanakan di Menara 165 Cilandak, Jakarta, Selasa (22/11).
Selaku Ketua Panitia, drh. Akhmad Harris Priyadi menyebutkan bahwa banyak peristiwa yang terjadi diluar prediksi pada sepanjang tahun 2022. Setelah melalui masa pandemi Covid-19, peternakan menghadapi tantangan penurunan daya beli, namun di sisi lain terjadi perubahan pola belanja masyarakat dimana penjualan daging beku dan transaksi online mengalami peningkatan. Namun seiring sudah mulai meratanya vaksinasi, kegiatan kini sudah berangsur seperti sedia kala.
“ASOHI dan segenap asosiasi pemangku kepentingan industri peternakan, melaksanakan seminar nasional ini dan diharapkan dapat menjadi salah satu referensi penting bagi kalangan pelaku usaha peternakan dalam menyusun rencana dan melakukan evaluasi bisnis. Selain itu pemerintah juga menerima berbagai masukan dari seminar ini sebagai salah satu referensi kebijakan di bidang peternakan,” kata Harris.
Selanjutnya, drh. Irawati Fari selaku Ketua Umum ASOHI mengatakan bahwa seminar nasional ini menjadi ajang yang sangat penting bagi para stakeholders. Seminar ini digelar untuk memberikan gambaran potensi bisnis peternakan Indonesia untuk tahun 2023, sembari tapak tilas kejadian di sepanjang tahun 2022.
Baca Juga: Indonesia Deklarasikan 5 Langkah Konkrit Kendalikan Resistensi Antimikroba
“Pada seminar ini kita bisa mendengar pemaparan dari beberapa narasumber, bagaimana kondisi peternakan di Indonesia. Tetapi apapun kondisinya, kita harus tetap sepakat optimis bahwa sebagai penyumbang protein hewani nasional, stakheholders peternakan harus bisa semangat dan bangkit menjadi lebih baik lagi, sehingga dapat memberikan dampak positif bagi industri obat hewan dan industri yang terkait,” ucap Irawati.
Sambutan terakhir sekaligus membuka acara ini drh. Ira Firgorita selaku Koordinator Substansi Perlindungan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI mengatakan bahwa secara umum masa pandemi Covid-19, sektor pertanian merupakan sektor yang tidak mengalami kemunduran. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan PDB sektor pertanian.
“Secara umum dalam masa pandemi sektor Pertanian merupakan sektor yang tidak
mengalami kemunduran. Terbukti selama tahun 2021 kenaikan PDB sektor Pertanian meningkat signifikan sebesar 12,93%, perkembangan nilai tukar petani (NTP) yang mengalami rata-rata peningkatan 0.49% dibanding periode sebelumnya dan nilai tukar usaha pertanian (NTUP) juga mengalami kenaikan sebesar 0.51%. Selain itu nilai eksport pertanian selama tahun 2021 mengalami kenaikan sebsar 42,47% untuk produk pangan dan non pangan, serta realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) subsektor Peternakan pada tahun 2021 naik sebesar 15,6% dari target,” jelas Rita.
Dalam materinya Ir. Achmad Dawami selaku Ketua Umum GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas) memaparkan materi mengenai bisnis pembibitan unggas sepanjang tahun 2022 dan prospeknya di tahun 2023 mendatang. Menurutnya terdapat gejolak harga LB (livebird) pada sepanjang tahun 2022 yang disebabkan oleh beberapa hal seperti kenaikan kasus Covid-19, kenaikan BBM, dan tahun ajaran baru.
“Impor GPS (Grand Parent Stock) broiler dari tahun 2019 sampai 2022 selalu mengalami penurunan. Jika selama ini permasalahannya harga LB (livebird) selalu rendah, berarti masalahnya bukan di bagian produksi, melainkan rendahnya tingkat konsumsi daging ayam oleh masyarakat Indonesia. Bahkan menurut Badan Pusat Statistik, masyarakat Indonesia lebih banyak mengeluarkan uang untuk membeli rokok dengan persentase 12% dibanding membeli daging (termasuk ayam) dengan persentase 5%,” terang Dawami.
Dalam upaya pengembangan pembibitan ayam ras Indonesia, Dawami mengatakan bahwa ada 4 kunci yang harus diperhatikan. Faktor tersebut adalah kolaborasi antar stakeholder, cutting distribution channel, peningkatan value added produk ayam ras, dan peningkatan kesadaran serta konsumsi produk ayam ras. Meskipun tahun 2023 ada ancaman inflasi, Indonesia tetap optimis menuju perekonomian yang lebih baik.
“Prognosa supply bibit ayam ras pada tahun 2023 adalah 3,7 juta ekor dengan demand 2,9 juta ekor. Terdapat kenaikan supply 5% dari tahun sebelumnya,” lanjut Dawami.
Mengenai industri pakan, drh. Desianto Budi Utomo, Ph.D. selaku Ketua Umum GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak) mengatakan bahwa sekitar 90% produksi pakan di Indonesia dipenuhi oleh indistri perunggasan. Di tahun 2022, kapasitas terpasang pada pabrik pakan nasional sebesar 29,7 juta ton per tahun dengan produksi pakan agro sebesar 18,2 juta ton.
“Dari tahun 2022 ke 2023, terdapat estimasi peningkatan produksi pakan agro dengan maksimal sebesar 3%, sehingga produksi pakan agro akan mencapai 18,7 juta ton per tahun,” kata Desianto.
Kemudian, pasar perunggasan, kata Ir. H. Eddy Wahyudin, MBA. selaku Wakil Ketua Umum PINSAR Indonesia (Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia), harga LB di tingkat peternak masih bersifat fluktuatif. Bahkan di Pulau Jawa, harga LB menyentuh di kisaran harga Rp13.500 sampai Rp14.500.
“Struktur biaya input di tingkat peternak rakyat mandiri semakin meningkat, harga LB masih terus berfluktuasi. Hal ini dikarenakan pasar LB masih mengalami over supply. Penurunan harga LB terjadi pada bulan Agustus, September, dan Oktober. Walaupun terjadi kenaikan harga di bulan November, nyatanya masih di bawah harga acuan ayam hidup yaitu di angka Rp.21.000,” ucap Eddy.
Kendati demikian, harga telur di tingkat peternak memiliki grafik yang relatif meningkat. Meningkatnya harga jual telur tersebut telah dirasakan oleh peternak sejak bulan Juli lalu. Hal tersebut disinyalir adanya penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai untuk pembelian telur pada bulan Agustus yang dirapel menjadi 3 bulan.
Masih dalam acara yang sama, drh Irawati Fari, Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) mengatakan bahwa kondisi industri obat hewan di indonesia pada tahun 2022 mengalami beberapa keadaan yang tidak stabil, efek setelah pandemi Covid-19 yang mengakibatkan terjadinya pemulihan perekonomian. Tetapi disisi lain, industri obat hewan juga mengalami peningkatan dari beberapa jenis produk kategori seperti produk biosekuriti (desinfektan).
“Situasi umum industri obat hewan terdampak oleh beberapa hal lain seperti inflasi, melemahnya rupiah, dan tidak stabilnya antara supply dan demand, serta kurangnya pemanfaatan teknologi digital,” ujar ira.
Lebih lanjut Ira mengungkapkan, produsen obat hewan telah meningkat sebesar 48% dari tahun 2015 sampai 2022. Hal ini dikarenakan kebijakan pemerintah yang mengkampanyekan terkait produk dalam negeri. Walau prediksi ASOHI untuk prospek bisnis obat hewan masih tidak stabil, ASOHI tetap menyiapkan solusi dengan berkomitmen secara konsisten melakukan kampanye edukasi pentingnya protein hewani.