Oleh : drh Sigit Pambudi*
Industri perunggasan nasional, khususnya broiler sudah mulai pulih dari krisis akibat pandemi Covid 19 dan telah kembali berkembang pesat sesuai dengan kapasitas produksinya. Bahkan, tren produksi broiler nasional di beberapa waktu terakhir mengarah kepada kondisi surplus. Kelebihan produksi ini selayaknya dapat dikelola dengan baik, sehingga mampu menjadi kekuatan tersendiri di sektor ini. Namun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa industri ini masih mengalami kesulitan terkait tata niaga di sisi hilirnya. Saat ini ayam hidup yang merupakan produk utama dari industri broiler, masih bersifat komoditas yang mayoritas banyak beredar di pasar tradisional. Hal ini membuat harganya tidak stabil dan seringkali menghadapi gejolak.
Dalam kurun beberapa waktu terakhir, industri RPHU nasional mengalami tren perkembangan yang positif. Hanya saja peningkatan kapasitas produksi serta upaya edukasi kepada konsumen harus tetap digalakkan.
Di tengah situasi seperti ini, penataan di sektor hilir merupakan hal mutlak yang harus diupayakan. Hal ini tentu tidak terlepas dari peran industri Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) di dalamnya. Produk yang dihasilkan oleh RPHU terjamin kehalalannya, higienitasnya serta masa penyimpanannya yang lebih lama karena proses produksinya langsung masuk ke dalam rantai dingin, sehingga tidak memberi kesempatan bakteri berkembang biak didalam dagingnya.
Di sisi lain, banyak pihak berharap agar RPHU dapat berperan sebagai buffer stock maupun stabilisator harga di dalam bisnis broiler ini. Namun, penulis melihat fungsi tersebut masih belum dapat diemban secara optimal. Pasalnya kapasitas produksi dari 45 perusahaan di bawah naungan Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN) masih berada diangka 25-30 % dari total produksi ayam broiler nasional, dan sebagian besar masih beredar di pasar tradisional berupa ayam hidup.
Artinya dengan persentase tersebut, RPHU belum dapat dapat bertugas sebagai penjamin ketersediaan stok maupun stabilisator harga daging nasional. Bahkan untuk karkas utuh (whole chicken), RPHU mau tidak mau masih mengikuti harga pasar live bird, di mana apabila harga ayam hidup jatuh produk karkas RPHU juga turut tertarik ke bawah. Padahal terkadang produk tersebut berasal dari bahan baku ayam hidup harga mahal beberapa waktu sebelumnya.
Peningkatan kapasitas produksi ini masih menjadi tantangan tersendiri bagi industri RPHU nasional. Untuk itu, asosiasi secara bertahap terus mengupayakan pertumbuhan dan peningkatan kapasitas produksi anggota-anggotanya. Dan paling tidak, ketika kapasitas produksi telah mencapai 75% dari total produksi ayam broiler nasional, maka industri RPHU lebih bisa berperan sebagai stabilisator daging ayam secara nasional.
Penulis melihat bahwa dalam beberapa waktu terakhir, industri RPHU mengalami pertumbuhan yang positif. Tidak hanya para perusahaan integrasi yang menambah kapasitas produksi, namun juga para peternak besar yang populasinya di atas 300.000 ekor juga telah mulai sadar akan perlunya RPHU, sehingga mulai muncul banyak RPHU baru. Hal ini mengindikasikan bahwa bisnis RPHU mulai dilirik, selain karena adanya kewajiban yang tertuang dalam Permentan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi. Dengan perkembangan ini, penulis optimis bahwa Indonesia kedepan akan mengalami modernisasi di sektor hilir yang lebih besar dibandingkan saat ini.
Hal ini juga didorong oleh kebiasaan baru di masyarakat yang beberapa tahun lalu lebih memilih produk chilled, namun saat ini sudah mulai banyak yang beralih ke produk frozen. Fenomena ini juga diakselerasi oleh adanya pandemi Covid-19, yang tercermin dari peningkatan penjualan produk frozen ketika pandemi terjadi. Selain itu, kebiasan pembelian online melalui marketplace turut menjadi pemicu perkembangan permintaan produk frozen.
Di sisi lain, edukasi produk frozen kepada konsumen masih menjadi tantangan. Bagaimana produk frozen ini dapat diterima konsumen tanpa keraguan lagi. Untuk itu, asosiasi dibantu oleh pemerintah dalam hal ini Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner – Ditjen PKH, terus berusaha menggalakkan kampanye konsumsi produk frozen ke masyarakat.
Kemudian, penulis melihat bahwa industri ini akan semakin menarik, karena dari sisi konsumen pun sudah mulai terbentuk. Peluang ini harus disertai dengan langkah yang tepat dari para pelaku usaha di dalamnya. Industri RPHU harus bisa memotong mata rantai distribusi daging broiler dan berusaha mendekatkan diri, sedekat mungkin kepada konsumen dengan cara memperbesar dan memperbanyak jaringan distribusi yang ada, seperti gerai, meat shop dan lainnya. Konsumen akan mendapatkan produk daging ayam yang terjamin kualitasnya serta terjangkau harganya. Selain itu, pemanfaatan media social dan berbagai macam marketplace untuk menjangkau konsumen yang lebih luas juga penting dilakukan.
Penulis juga melihat bahwa industri ini mempunyai peluang ekspor yang sangat luas. Hal ini tercermin dari seringnya anggota asosiasi dihubungi oleh para buyer ataupun middleman yang akan melakukan ekspor ke luar negeri, seperti negara-negara Cina, Timur Tengah, Hongkong, Singapura, dan Brunei. Tidak bisa dipungkiri bahwa secara kualitas produk Indonesia berani bersaing, namun secara harga masih sulit bersaing, apabila dibandingkan beberapa negara seperti Brasil, Argentina dan Thailand.
Sebenarnya sederet proses ekspor yang ada dapat dipenuhi oleh anggota asosiasi, mulai dari penyiapan produk, pengurusan dokumen maupun berbagai persyaratan lain. Akan tetapi kendala perjanjian kerjasama Goverment to Goverment (G to G) masih belum menemukan solusi, sehingga peluang ekspor belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Banyak faktor yang perlu kita telaah lebih dalam, misalnya kita bisa ekspor produk ceker ayam ke Cina, tapi sebaliknya Cina juga minta boleh memasukkan produk daging ayamnya ke Indonesia. Nah apakah ini merupakan langkah yang terbaik? Jangan sampai hal ini justru menjadi bumerang bagi kita. Penulis melihat bahwa pangsa pasar ekspor ini menjadi peluang besar di masa depan, yang harus mulai kita persiapkan dari sekarang. Tantangan efisiensi di keseluruhan proses produksi daging broiler harus dapat kita pecahkan, agar produk-produk kita semakin mempunyai daya saing di pasar internasional. *Wakil Ketua Umum Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN)
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Suara Asosiasi pada Majalah Poultry Indonesia edisi September 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, sila mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...