Penggunaan antibiotik untu pencegahan pada perunggasan mengalami penurunan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Tahun 2020 merupakan tahun yang berat bagi industri perunggasan, terkhusus di dalamnya usaha budi daya ayam ras pedaging. Jumlah penawaran (produksi) yang lebih besar daripada permintaan (kebutuhan) sejak beberapa tahun silam seringkali membuat harga jual ayam hidup di tingkat peternak jatuh, dan secara langsung mengakibatkan kerugian. Hal ini diperparah dengan adanya pandemi COVID-19 di Indonesia yang kasus pertamanya terkonfirmasi  pada bulan Maret 2020. Gejolak ekonomi yang terjadi membuat penurunan daya beli masyarakat yang secara langsung telah memengaruhi tingkat konsumsi akan produk unggas.
Berbagai upaya untuk kembali menstabilkan kondisi perunggasan terus dilakukan. Salah satunya dengan pengendalian produksi melalui cutting HE fertil dan apkir dini PS. Efek dari hal tersebut saat ini dirasakan secara langsung oleh  Agus Suwarna, seorang peternak ayam ras pedaging dari daerah Bogor. Saat ditemui di kediamannya, Selasa (6/4), dirinya mengungkapkan bahwa kondisi perunggasan di awal tahun ini sudah kembali normal atau lebih baik daripada waktu yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Hal ini tak lepas dari program pengendalian sektor hulu yang telah dilakukan oleh pemerintah.
Lebih lanjut Agus mengakui bahwa memang terjadi peningkatan permintaan akan daging ayam saat momen HBKN terkhusus puasa dan lebaran. Untuk itu biasanya dalam setahun peternak telah membagi proses budi daya menjadi 3 sesi, yaitu peak season, medium season dan low season. Peak season adalah masa ketika permintaan pasar sedang naik, seperti ketika momen liburan sekolah, munggahan, HBKN serta bulan-bulan ketika ramai hajatan dan perayaan. Sedangkan low season adalah waktu di mana serapan pasar sedang rendah, seperti momen suro dan waktu masuk sekolah.
Masih menurut Agus, ketika momen seperti ini akan banyak peternak musiman yang melakukan budi daya. Para peternak ini akan sangat mempersiapkan dan memperhitungkan segala hal terkait budi daya, agar dapat mengoptimalkan peluang yang ada. Namun, untuk peternak yang telah mempunyai langganan dan berbudi daya secara berkelanjutan, puasa dan lebaran tidak terlalu berpengaruh. Adapun kenaikan produksi mungkin sekitar 10 -15 persen.
Setali tiga uang, kenaikan permintaan saat momen puasa dan lebaran juga dirasakan oleh Sudirman, seorang peternak ayam ras petelur asal Tapan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Ia mengaku bahwa dari tahun ke tahun biasanya momen puasa dan lebaran pasti menjadi momentum kenaikan permintaan telur ayam ras.
Sudirman melanjutkan salah satu hal yang mendorong adanya permintaan ini adalah tradisi masyarakat pesisir selatan Sumatra Barat yakni mengantarkan rantang yang berisi makanan ke rumah mertua. “Telur ayam merupakan menu andalan dalam rantang yang diantarkan dalam tradisi Batandang. Tak heran apabila permintaan telur pasti selalu naik ketika sebelum memasuki bulan puasa,” tegasnya.
Tahun ini pun polanya juga sama, seminggu sebelum puasa permintaan telur ayam oleh konsumen naik drastis. Hal ini membuat tak jarang ada konsumen yang datang langsung ke kandang untuk membeli telur ayam. Ketika fase awal puasa hingga pertengahan, permintaan akan melandai atau menurun. “Biasanya puncak permintaan terjadi ketika seminggu sebelum lebaran, hingga terkadang permintaan pasar tidak dapat dipenuhi,” pungkasnya.
Pergerakan harga di pasar tradisional
Harga suatu komoditas selalu berhubungan dengan hukum permintaan dan penawaran. Hal ini merupakan sebuah kelaziman dalam mekanisme pasar. Tak terkecuali pada komoditas produk unggas. Terpantau kenaikan harga telah terjadi di berbagai daerah.
Seperti yang diungkapkan Galih, seorang pedagang daging ayam di Pasar Sore, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur. Saat ditemui Poultry Indonesia di lapaknya, Sabtu (10/4), ia mengungkapkan bahwa kenaikan permintaan daging ayam tak lepas dari adanya tradisi di Jawa yang bernama “megengan“. Megengan adalah tradisi untuk menyambut datangnya bulan Ramadan dimana biasanya akan diadakan kenduri, baik dalam bentuk nasi kotak yang dibagikan atau membuat semacam tumpeng kecil untuk selanjutnya dimakan bersama.
Pola serupa juga dirasakan oleh Zet, seorang pedagang daging ayam di Pasar Inpres Painan, Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Kepada Poultry Indonesia, Rabu (14/4), Zet mengaku bahwa kenaikan harga ayam mulai tampak sekitar satu minggu sebelum memasuki bulan puasa kemarin.
Di tempat berbeda, Tulus seorang pedagang ayam hidup di daerah Yogyakarta mengungkapkan bahwa kenaikan permintaan produk daging ayam di pasar menjelang bulan puasa menyebabkan adanya kenaikan harga.  Lebih lanjut, kenaikan permintaan ini membuat dirinya sedikit kesulitan mencari stok ayam. Ia menjelaskan kondisi ayam di pasar masih tetap ada, hanya saja memang dengan gejolak pasar di saat mendekati hari raya membuat harga mengalami kenaikan karena banyaknya permintaan yang terus naik.
Hal sedikit berbeda dirasakan oleh Susi, seorang pedagang daging ayam ras di Pasar Wage, Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas. Dirinya mengeluhkan kenaikan harga daging ayam ras  saat memasuki bulan puasa tahun ini.
Susi yang sudah puluhan tahun berdagang daging ayam ras merasakan penurunan omset yang signifikan selama pandemi COVID-19. Menurut penuturannya, biasanya saat puasa atau lebaran ramai, tetapi saat ini masih sepi karena pandemi sehingga omzetnya menurun. Walaupun pasokan daging ayam dari distributor terpenuhi tetapi dari sisi penjualan belum bisa maksimal. Ditambah lagi, fluktuasi harga ayam hidup yang tidak bisa diprediksi berimbas pada ketidakpastian omzet yang didapat. Kondisi seperti ini tentunya berat bagi para pedagang dan tidak tahu pasti kapan membaiknya.
Tak beda jauh dengan daging ayam ras, komoditas telur ayam ras juga mengalami kenaikan harga ketika memasuki momen puasa dan lebaran tahun ini. Indah, seorang pedagang telur di Pasar Legi, Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur ketika ditemui Poultry Indonesia, Sabtu (10/4), menegaskan bahwa telah terjadi tren peningkatan permintaan telur menjelang bulan puasa. Namun tren peningkatan itu akan terjadi lagi ketika menjelang lebaran dan selebihnya akan fluktuatif. Harga jual telur ketika ditemui Poultry Indonesia mencapai Rp25.000 per kilogram setelah sebelumnya sekitar Rp23.000 – 24.000 per kilogram.
Berbeda halnya dengan kondisi yang terjadi di Pasar Pagi, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Saat bertemu dengan  Poultry Indonesia di kiosnya, Selasa (20/4,) Abdul Ghofur, seorang agen pemasok telur di pasar tersebut menyampaikan bahwa fluktuasi harga membuat  penjualan di tingkat agen menurun.
Peningkatan harga jual bahan pangan pokok produk unggas juga terjadi di pasar tradisional di kota besar seperti Jakarta. Berdasarkan pantauan Poultry Indonesia di Pasar Nangka Bungur, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (23/4), harga daging ayam saat ini sekitar Rp35.000 – 40.000 per kilogram. Suwito salah satu pedagang daging ayam ras di pasar tersebut mengaku kenaikan ini terjadi sejak menjelang puasa.
Lain halnya dengan Slamet, pedagang telur ayam ras yang juga berjualan di pasar tersebut. Ia mengaku bahwa harga telur saat ini masih berfluktuasi dan terjadi sedikit kenaikan.
Suara konsumen
Kendati terjadi kenaikan harga produk unggas di berbagai daerah, namun tak menyurutkan antusiasme konsumen untuk menambahkan telur dan daging ayam pada daftar catatan belanja di momen puasa dan lebaran tahun ini. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Rini, seorang ibu rumah tangga yang ditemui oleh Poultry Indonesia saat berbelanja di Pasar Pasar Wage, Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Kamis (15/4). Dirinya mengaku bahwa telur atau daging ayam seakan menjadi menu masakan yang harus ada ketika momen berbuka atau sahur.
Hal ini diamini oleh Marwa, seorang konsumen asal Wonosobo yang rutin berbelanja produk unggas di pasar tradisional. Marwa mengaku bahwa dirinya memerlukan lebih banyak konsumsi protein hewani untuk menjaga kesehatan selama bulan puasa. Untuk itu, ia mengalokasikan tambahan pos belanja untuk berbelanja bahan pangan sumber protein hewani terkhusus telur ayam ras.
Marwa melihat bahwa secara perlahan memang terjadi perubahan atau kenaikan harga di pasar. Hal tersebut terjadi karena naiknya permintaan masyarakat akan produk telur. Oleh sebab itu, dirinya berharap bahwa kenaikan harga produk unggas di pasar agar tetap bisa dijangkau oleh masyarakat, karena memang masyarakat membutuhkan kebutuhan bahan pangan yang bergizi terlebih di bulan puasa. Sandi, Yafi, Zen, Ulil, Dafiq
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2021 dengan judul “Supply, Demand dan Harga Komoditas Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153