Rata-rata Harga Telur dan Livebird di Tingkat Peternak Secara Nasional pada Tahun 2021 (Sumber : www.pinsarindonesia.com, diolah oleh Poultry Indonesia)
Industri perunggasan telah menjelma menjadi industri yang strategi dengan peran besar dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat, serta berkontribusi terhadap pendapatan negara dan banyak membuka lapangan pekerjaan. Di balik peran dan kemandiriannya, industri ini masih sering dihadapkan pada berbagai persoalan yang cukup pelik.

Tahun 2021 yang diharapkan menjadi tahun kebangkitan industri perunggasan, nyatanya masih mempunyai tantangan segudang yang harus diselesaikan. Kenaikan harga sapronak yang terjadi membuat HPP kian membumbung tinggi. Disisi lain daya beli masyarakat yang menurun membuat tingkat serapan belum bisa pulih

Tahun 2020, dimana pandemi Covid-19 melanda, membuat gejolak yang besar di industri ini. Salah satu dampak yang paling terlihat nyata adalah perubahan tingkat konsumsi masyarakat terhadap daging ayam dan telur. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2020), tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terhadap daging ayam ras (broiler) menurun cukup signifikan, dari 12,79 kilogram per kapita per tahun menjadi hanya 9,89 kilogram per kapita per tahun pada 2020. Kemudian tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terhadap telur ayam ras justru meningkat walaupun tidak signifikan, yakni dari 18,16 kilogram per kapita per tahun menjadi 18,20 kilogram per kapita per tahun di tahun 2020.
Seiring berjalannya waktu, industri ini secara perlahan mulai berbenah diri dan bangkit kembali. Tahun 2021 bisa dikatakan sebagai tahun recovery bagi industri perunggasan dalam negeri. Melihat dari sisi budi daya, terlihat tampak telah terjadi perbaikan harga sepanjang tahun 2021. Berdasarkan data yang dihimpun Poultry Indonesia menunjukkan bahwa rata-rata mayoritas harga livebird di tingkat peternak secara nasional pada tahun 2021 berada di atas harga acuan Permendag. Namun demikian, pada pertengahan tahun, harga livebird turun jauh mencapai angka Rp 15.852 per kilogram pada Bulan Juli dan Rp 17091 per kilogram pada Bulan Agustus. Tercatat harga tertinggi berada di Bulan Juni, yakni Rp 23.291 per kilogram.
Kendati demikian, jika ditelaah lebih jauh, terjadi disparitas harga yang cukup signifikan pada harga livebird, apabila dilihat berdasarkan indikator daerah. Sebagai contoh pada Bulan Maret, terjadi ketimpangan tingkat harga antara daerah, di mana tercatat Makassar rata-rata harga berada di angka Rp 17.625 per kilogram, sedangkan Balikpapan masih berada di atas harga acuan dengan angka Rp 25.217 per kilogram.
Selain itu, pada Juli hingga November tingkat rata-rata harga livebird di daerah Jawa, belum bisa terangkat dan masih cenderung berada di bawah harga acuan. Disisi lain penurunan pada Bulan Juli, juga terjadi di daerah luar Jawa seperti Makassar dan Medan, namun berhasil bangkit pada bulan berikutnya dan telah berada di atas harga acuan pada Bulan Oktober. Untuk daerah Balikpapan, kendati fluktuasi terjadi sepanjang tahun, namun kecenderungan harga berada di tingkat stabil tinggi.
Baca juga : Edukasi Pengendalian dan Pengawasan Antibiotik pada Perunggasan
Beralih kepada harga telur, berdasarkan data yang dihimpun Poultry Indonesia  menunjukkan bahwa rata-rata mayoritas harga telur di tingkat peternak secara nasional pada tahun 2021 mengalami fluktuasi dan mayoritas masih berada di atas harga acuan Permendag. Hanya saja pada kuarter ke 3, secara nasional harga telur mengalami penurunan hingga berada di bawah harga acuan. Pada bulan September harga telur berada di angka Rp 17.236 per kilogram dan terus mengalami penurunan pada Bulan Oktober yang berada di angka Rp 16.915 per kilogram. Kemudian pada bulan berikutnya, harga telur menunjukkan kenaikan di level Rp 21.110 per kilogram secara nasional.
Kemudian, apabila ditinjau lebih dalam selama tahun 2021 harga di sentra produksi telur di daerah Jawa acap kali berada di bawah harga acuan Permendag. Seperti halnya di daerah Blitar dan Yogyakarta, dimana keduanya dalam kurun waktu Januari hingga November harga telur berada di bawah harga acuan Permendag. Kemudian untuk sentra produksi Lampung, pola harga yang terbentuk tidak jauh dengan pola harga secara nasional dengan penurunan yang ekstrem hingga di bawah harga acuan berada pada bulan September dan Oktober. Untuk daerah Balikpapan, harga telur stabil tinggi, walaupun pada bulan September dan Oktober juga mengalami penurunan, namun masih tipis berada di atas harga acuan Permendag.

 

Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2021 dengan judul “Dinamika Harga Telur dan Livebird 2021”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153