Saat ini, situasi dunia terus bergejolak tidak menentu. Ancaman krisis pangan makin menggema di tengah ketegangan konflik geopolitik Rusia-Ukraina. Hal ini memicu terjadinya lonjakan harga-harga komoditas global dan mendorong kenaikan laju inflasi di banyak negara, tak terkecuali Indonesia. Berdasarkan laporan yang ditulis oleh Guénette dkk (2022) di bawah naungan Bank Dunia mengenai Implikasi Perang Ukraina bagi Ekonomi Global, menyebutkan bahwa Rusia dan Ukraina adalah pemain utama dan eksportir kunci komoditas penting dunia.

Di tengah krisis pangan yang mengancam, stok dan produksi produk unggas nasional bisa dikatakan aman. Namun, kenaikan harga input produksi yang belum diimbangi dengan kenaikan harga disisi output masih menjadi permasalahan yang harus diselesaikan.

Rusia tercatat sebagai pengekspor gandum (18%), gas alam (25%), palladium (23%), nikel (22%), pupuk (14%), batubara (18%), platinum (14%), minyak mentah (11%) dan aluminium (10%) global. Sementara itu, Ukraina tercatat sebagai negara pengekspor minyak biji-bijian (40%), jagung (13%), dan elemen pembuatan chip (gas neon 50%) di ranah ekspor global.
Pangan dunia
Konflik yang terjadi antara Rusia-Ukraina disebut memicu kemacetan logistik, pasokan energi yang lamban, dan kekurangan input pangan. Ketiganya membawa dampak pada stabilisasi komoditas pangan dunia.  Dalam rilisnya Food and Agriculture Organization (FAO), menyebutkan bahwa indeks harga sereal naik 1,5% pada bulan September, dengan harga gandum naik 2,2% karena kekhawatiran atas kondisi panen kering di Argentina dan Amerika Serikat serta ketidakpastian logistik dari Ukraina sebagai salah satu pemasok gandum terbesar di dunia.
Masih menurut FAO, produksi biji-bijian dunia pada tahun 2022 diperkirakan mencapai 2.784 juta ton, turun sekitar 0,6% di bawah level produksi tahun 2021. Penurunan produksi ini salah satunya disebabkan oleh cuaca buruk yang terjadi di negara-negara produsen utama. Sementara untuk penggunaan sereal dunia pada tahun 2022, diperkirakan akan melampaui tingkat produksi sebesar 2,784 miliar ton, sehingga menyebabkan proyeksi penurunan stok global sebesar 1,6% atau sekitar 848 juta ton.
Dalam sebuah webinar, Sabtu (1/10) Guru Besar Fakultas Pertanian, IPB University, Prof Dwi Andreas Santosa optimis bahwa krisis global tidak akan benar-benar terjadi. Menurutnya krisis pangan dunia akan terjadi ketika ada masalah pada suplai dan harga komoditas serealia. Dirinya mengaku bahwa memang terjadi penurunan produksi pada komoditas serealia dunia, namun secara proporsi belum terlalu tinggi.
“Pada tahun 2022 ini, FAO memperkirakan produksi serealia memang mengalami penurunan, tetapi relatif kecil yaitu 0,6%. Namun hal ini belum apa-apa. Pada beberapa krisis pangan sebelumnya, penurunan produksi serealia dunia bisa diatas 5%. Produksi gandum diperkirakan turun 1% akibat kekeringan di Eropa. Produksi beras juga diperkirakan turun 0,4% terutama karena turunnya produksi di Vietnam. Lalu, produksi biji-bijian kasar, seperti jagung, juga turun 0,5%,” terangnya.
Dirinya menambahkan bahwa saat ini Indonesia masih jauh dari kondisi krisis pangan. Pasalnya salah satu kriteria krisis pangan adalah ketika disuatu daerah tidak ada akses masyarakat terhadap pangan. Kemudian apabila mengacu pada Undang-Undang No 18 tahun 2018 tentang Pangan menyebutkan bahwa Krisis Pangan adalah kondisi kelangkaan Pangan yang dialami sebagian besar masyarakat di suatu wilayah yang disebabkan oleh, antara lain, kesulitan distribusi Pangan, dampak perubahan iklim, bencana alam dan lingkungan, dan konflik sosial, termasuk akibat perang.
Lebih lanjut, apabila berbicara tentangan serealia maka tak bisa lepas dengan pakan. Pasalnya selain untuk kebutuhan pangan, biji-bijian yang dihasilkan tersebut juga banyak diserap sebagai bahan pakan. Kendati secara produksi tidak berkurang terlalu jauh, namun gangguan sistem logistik dunia menyebabkan ketidakseimbangan terjadi. Hal ini diamini oleh Prof. Budi Tangendjaja, Ph.D selaku Technical Consultant Nutrition and Feed Technology. Ketika ditemui Poultry Indonesia di Surabaya, Selasa (4/10) dirinya mengungkapkan bahwa secara umum bahan pakan kalau dilihat secara produksi total, maka akan selalu seimbang. Artinya antara pemakaian dengan hasil produksi untuk mencukupi kebutuhan akan permintaan tidak jauh berbeda. Namun, kalau dilihat dalam sisi distribusi, maka akan terlihat adanya gangguan pada rantai pasoknya. Dimana gangguan itu disebabkan oleh adanya perang.
“Dengan adanya gangguan ini, maka beberapa ada yang kesulitan untuk mendapatkan bahan pakan. Akibatnya, akan terjadi kenaikan harga,” terangnya. Budi menegaskan bahwa sebenarnya kesulitan bukan saat perang saja, sebelum perang sebenarnya juga telah terjadi kesulitan juga. Hal ini disebabkan oleh transportasi dan logistik yang mengalami stagnasi luar biasa, sehingga biayanya menjadi sangat mahal.
“Kondisi ini tentunya akan membuat harga pakan naik, karena cost produksi juga harus naik. Idealnya hal ini juga akan menyebabkan harga ayam naik dan telur naik. Mungkin yang lebih mengkhawatirkan banyak masyarakat yang tidak mampu membeli, sehingga krisis terjadi,” jelasnya. Budi juga menjelaskan berdasarkan data Chicago Board of Trade (CBOT) telah terjadi kenaikan terhadap beberapa biji-bijian sumber bahan pakan utama.
“Harga jagung global naik yang awalnya 3,5 dolar/bushel, menjadi lebih dari 6 dolar/bushel, sehingga kenaikan hampir dua kali lipat. Sementara bungkil kedelai yang tadinya 9-10 dolar/bushel, sekarang sudah 14 dolar/bushel,” jelasnya. Oleh karena itu menurutnya para pabrikan sebaiknya sudah melakukan langkah antisipasi pada kondisi krisis ini dengan selalu melihat perkembangan di dunia. Feed mill harus mengantisipasi, bagaimana logistik termasuk bahan baku, agar tidak kalah dengan yang lain.
“Kalau dilihat dari perkembangan dunia saat ini Brazil dan Argentina baru mulai menanam sementara Amerika baru selesai menanam dan turun produksinya, karena ada beberapa daerah yang kekeringan. Akibatnya, produksinya rendah, sehingga total produksinya menurun. Kalau nanti Brazil dan Argentina terganggu gara – gara musim kering, maka akan terganggu juga produksinya, sehingga membuat gejolak pasokan bahan pakan ini,” tegasnya.
Gejolak produksi serealia ini juga berdampak kepada industri pakan dunia. Seperti halnya yang terjadi di Uni Eropa. Berdasarkan laporan dari European Commission (EC) pada tahun 2022 menjelaskan bahwa pengurangan UE dalam impor jagung, gandum, minyak rapeseed, dan minyak biji bunga matahari dari Ukraina berdampak pada industri pengolahan pakan. Di sisi lain, European Feed Manufacturers Federation (FEFAC) (2022) menyebutkan bahwa produksi pakan campuran (compound feed) untuk komoditas babi, sapi, dan unggas berturut-turut diestimasikan turun sebesar 4,2%, 1,6%, dan 3%. Secara total, prediksi penurunan pada industri compound feed pada tahun ini adalah sebesar 2,9% (4,3 juta ton) dibandingkan tahun 2021.
Kondisi perunggasan Indonesia
Perunggasan merupakan salah satu sektor penghasil pangan, dengan output produknya berupa daging dan telur. Sektor ini telah berkembang sedemikian rupa dan sebagai penopang sumber protein hewani utama masyarakat Indonesia. Perunggasan Indonesia juga telah berswasembada, bahkan mengalami surplus produksi.
Krisis pangan yang semakin marak diperbincangkan diikuti dengan penurunan produksi pangan di berbagai negara, kenaikan harga pangan, serta naiknya tingkat kerawanan pangan (FAO). Kendati demikian apabila melihat sisi produksi perunggasan Indonesia, banyak pihak yang menilai bahwa ketersediaan nasional dalam kondisi aman.  Berdasarkan prognosa neraca daging dan telur ayam ras yang dirilis oleh Badan Pangan Nasional/National Food Agency menyebutkan bahwa pada bulan Oktober neraca daging ayam ras surplus 512,957 ton dengan neraca kumulatif surplus sebesar 644,301 ton. Sedangkan untuk telur ayam ras neraca telur ayam ras surplus 288,879 ton dengan neraca kumulatif surplus sebesar 422,707 ton.
Data ini diperkuat oleh fakta bahwa Indonesia telah mampu melakukan ekspor produk unggas dan turunannya ke berbagai negara. Pada laman resmi Kementerian Pertanian (Kementan) dijelaskan bahwa Indonesia saat ini telah mampu mengekspor berbagai produk unggas seperti telur ayam tetas (Hatching Egg), Day Old Chicken (DOC), karkas dan produk olahan ayam ke beberapa negara seperti Jepang, Myanmar, PNG, Qatar, Filipina, Uni Emirat Arab, dan Timor Leste. Akhir-akhir ini tercatat bahwa perunggasan Indonesia telah mampu melakukan ekspor karkas dan produk olahan ayam ke negara Singapura.
Hal ini seperti yang telah dilakukan oleh PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI). Dimana pada bulan Juni 2022, telah berhasil melakukan pengiriman ekspor perdana karkas dan produk olahan ke Singapura dengan total kapasitas 1.000 ton yang akan dikirim bertahap hingga akhir tahun 2022 dan akan terus bertambah menyesuaikan dengan kondisi di Singapura.  Tercatat bahwa sejak tahun 2017 hingga saat ini, ekspor CPI sudah menembus 5 negara yaitu, Papua Nugini, Timor Leste, Jepang, Qatar dan yang terkini adalah Singapura. Dalam hal ini CPI telah berhasil membuka jalur pasar ekspor untuk produk–produk agro berupa produk olahan unggas, pakan ternak ayam dan DOC. Kemudian, hingga dengan semester pertama tahun 2022, ekspor yang telah dilakukan oleh CPI telah mencapai 500 kontainer dan 1.269.390 ekor DOC.
Di sisi lain kondisi ketersediaan produk unggas nasional yang aman juga diperkuat dengan fenomena pergerakan harga yang akhir-akhir ini terjadi. Dimana selama bulan Oktober, berdasarkan pantauan Poultry Indonesia pada laman https://pinsarindonesia.com/ terlihat bahwa harga produk asal unggas di tingkat peternak terus mengalami fluktuasi. Untuk livebird kondisinya masih di bawah harga acuan, berkisar antara Rp14.000 – 17.000/Kg, sedangkan untuk telur ayam ras cenderung lebih stabil di antara Rp19.000-24.000/Kg.
Rendahnya harga produk unggas ini merupakan masalah klasik yang selalu menanti solusi jawaban. Hal ini diakui oleh Sugeng Wahyudi, seorang peternak broiler dari Bogor. Berbicara terkait ancaman krisis pangan, dirinya melihat bahwa dari sisi produksi dan stok perunggasan nasional saat ini bisa dikatakan aman. Hal ini bisa dilihat dari data yang telah dikeluarkan oleh Kementan, dimana saat ini kebutuhannya berada di bawah produksi nasional. Bahkan menurutnya berdasarkan data Kementan selama bulan September 2022, surplus produksi berada diangka 17% dari kebutuhan.
“Namun apabila dilihat dari sisi kondisi pelaku usahanya, saat ini bisa dikatakan tidak baik-baik saja. Terlebih apabila melihat dari pelaku usaha peternak kecil yang hanya bermain di subsistem budi daya semata. Hal ini karena beberapa bulan terakhir peternak terus menghadapi kenyataan rendahnya harga jual livebird yang berada di bawah HPP. Sedangkan untuk HPP di peternak terus mengalami kenaikan yang dipicu oleh terus naiknya harga input produksi, seperti pakan, DOC dan pendukung lainnya. Kita belum bicara terkait efek kenaikan harga BBM, yang secara langsung akan berpengaruh kepada biaya distribusi dan transportasi,” ujarnya saat berbincang dengan Poultry Indonesia di Bogor, Rabu (5/10).
Sugeng melihat bahwa secara umum sepanjang tahun ini harga pakan telah mengalami kenaikan hingga Rp1.200/Kg. Kendati demikian dirinya juga tidak memungkiri bahwa juga telah terjadi penurunan harga pakan sekitar Rp100-200/Kg, sehingga nilainya tidak signifikan. Sedangkan untuk harga DOC cenderung fluktuatif. Dengan situasi kenaikan harga input produksi ini, dirinya menyayangkan bahwa tidak diikuti dengan harga livebird di peternak. Menurutnya hal ini dikarenakan stok yang melimpah, sehingga menjadi bahan para pedagang perantara, serta ditunjang oleh ketidakdisiplinan produsen sendiri. Yang terjadi, selama 2 bulan terakhir, harga sangat tertekan ke bawah, dan apabila dirata-rata kerugian bisa antara Rp4000/kg livebird.
“Hal ini sungguh ironi saya kira. Di tengah krisis pangan yang mengancam, sumber protein hewani kita asal unggas bisa tercukupi dan statusnya aman. Namun disisi lain, para pelaku budi daya khususnya yang kecil tidak bisa menghindari kerugian,” tegasnya.
Artikel ini merupakan rubrik Laporan Utama pada Majalah Poultry Indonesia edisi November 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com