Lonjakan konsumsi unggas menjelang Puasa dan Lebaran mendorong pemerintah memperketat pengawasan dari hulu hingga hilir guna memastikan pasokan tetap aman, harga terkendali, dan peternak bisa mendapat keuntungan.
Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) terkhusus Puasa dan Lebaran merupakan momen yang paling ditunggu oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Momentum ini tak hanya dinanti oleh umat Muslim yang akan beribadah puasa selama sebulan penuh dan dilanjutkan dengan perayaan Lebaran semata. Namun juga oleh semua pihak yang mampu membaca dan memanfaatkan peluang yang ada.
Pasalnya sudah menjadi fenomena umum, bahwa ketika bulan Puasa tiba, permintaan terhadap berbagai jenis bahan kebutuhan pokok akan mengalami kenaikan. Secara teknis, pola konsumsi masyarakat memang akan berkurang. Dari yang biasanya dalam sehari makan tiga kali, karena berpuasa maka turun hanya menjadi dua kali.
Akan tetapi, dari sisi sosial, kegiatan di malam hari sejak berbuka sampai sahur justru akan lebih semarak dengan tradisi berbuka maupun sahur bersama, minimal pada ruang lingkup keluarga. Selain itu, menu yang disajikan juga cenderung akan lebih istimewa, banyak dan lengkap dari pada hari-hari biasanya. Tradisi semacam inilah yang dapat mendongkrak tingkat konsumsi di masyarakat. Maka tak heran apabila permintaan bahan pokok akan mengalami kenaikan yang juga diikuti dengan kenaikan harga. Tak terkecuali pada bahan pangan produk asal unggas.
Dalam hal ini daging dan telur ayam merupakan salah satu jenis pangan utama andalan masyarakat Indonesia. Apalagi saat memasuki Puasa dan Lebaran, kecenderungan naiknya permintaan akan komoditas tersebut hampir bisa dipastikan. Selain harganya terjangkau, ketersediaannya yang melimpah dapat memudahkan masyarakat untuk mengaksesnya, baik di pasar tradisional maupun modern.
Pasokan Perunggasan Dinilai Aman
Tak dapat dipungkiri, momentum HBKN merupakan periode krusial yang harus dipersiapkan secara matang oleh seluruh pemangku kepentingan. Dalam Rapat Koordinasi Pengamanan HBKN yang digelar di Jakarta, Kamis (22/1), pemerintah memastikan ketersediaan pasokan daging ayam dan telur menjelang Puasa dan Lebaran 2026 berada dalam kondisi aman.
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman menegaskan bahwa stok telur dan daging ayam nasional mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Puasa hingga Lebaran. Bahkan, produksi unggas nasional saat ini dinilai berada dalam kondisi surplus. Oleh karena itu, menurutnya, tidak ada alasan untuk melakukan impor. “Produksi daging dan telur ayam ras kita cukup, bahkan surplus, sehingga tidak ada alasan untuk impor. Masyarakat tidak perlu khawatir terkait ketersediaan telur dan daging ayam,” ujarnya.
Pemerintah, lanjutnya, bersama Satgas Pangan Polri, BUMN pangan, serta seluruh pelaku usaha berkomitmen menjaga ketersediaan dan keterjangkauan ayam serta telur agar mudah diakses masyarakat selama HBKN 2026. Ia juga mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak ragu melaporkan apabila menemukan praktik kecurangan di lapangan, baik terkait harga, distribusi, maupun pasokan komoditas pangan, khususnya telur dan daging ayam.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Laporan Khusus pada majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.