broiler yang dipelihara pada kandang
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Komoditas unggas yang terus-menerus mengalami fluktuasi harga memang selalu menarik perhatian publik.
Komoditas unggas merupakan bahan pangan strategis dan dibutuhkan oleh masyarakat. Akan tetapi sulit sekali untuk menciptakan kestabilan harga di setiap mata rantai.
Menurut Sugiono selaku Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen PKH, Kementerian Pertanian, menjelaskan bahwa banyak sekali faktor yang membuat harga livebird di masyarakat selalu mengalami fluktuasi.
Selama ini harga livebird dipengaruhi oleh volume suplai di kandang dan pangkalan ayam, penjualan yang sebagian besar masih dalam bentuk livebird, pola konsumsi yang musiman, juga akibat pandemi COVID-19 sejak Maret 2020 yang membuat turunnya konsumsi masyarakat untuk daging ayam ras.
Baca Juga: Peternak Diimbau Bersiap Hadapi Kelangkaan DOC Layer Tahun Depan
Lebih lanjut menurut Sugiono, pihaknya mengambil langkah stabilisasi melalui pengendalian di sektor hulu dengan cara cutting HE Fertil dan Afkir dini Parent Stock. Menurutnya, upaya ini dinilai sukses dalam menjaga supply dan demand.
“Pengendalian produksi melalui cutting He fertil dan afkir dini PS telah berdampak terhadap perbaikan harga LB di tingkat peternak,” ujar Sugiono saat menjadi pembicara dalam webinar melalui Zoom bertemakan “Prospek Agribisnis Indonesia 2021,” Rabu (10/3).
Selain itu, Sugiono juga menambahkan bahwa dengan adanya kenaikan harga LB mencapai harga acuan Permendag Nomor 7 Tahun 2020 juga memengaruhi permintaan DOC FS dan hal ini diikuti dengan naiknya harga DOC FS dari Rp5.000 menjadi Rp6.500 per ekor.
“Untuk melindungi kepentingan peternak UMKM, setiap perusahaan pembibit harus memprioritaskan distribusi DOC FS untuk eksternal farm sebanyak 50% dari produksinya dengan harga sesuai acuan Permendag yaitu Rp5.500-6.000 per ekornya,” tambah Sugiono.