POULTRYINDONESIA, Surabaya – Sudah waktunya peternakan unggas di Jawa Timur (Jatim) untuk mengembangkan pasar ekspor. Hal ini sekaligus dalam rangka untuk meningkatkan populasi peternakan. Sebab, peningkatan populasi tanpa diimbangi dengan pengembangan pasar hanya akan membuat perang harga dalam negeri sendiri.
Hal ini seperti disampaikan oleh Dr. drh. Iswahyudi, MP, selaku Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, dalam mengisi seminar yang diadakan oleh Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Pengda Jatim, di Hotel Grand Mercure Surabaya City, Surabaya, Rabu (14/12) dengan tajuk “Outlook Bisnis Perunggasan Jawa Timur 2023”.
Menurut Iswahyudi sebaiknya pihak perusahaan sudah keluar kandang, lebih fokus untuk mengurusi pengembangan pasar ekspor. Sedangkan untuk pasar becek biarlah diurus oleh UMKM. Agar pertarungan harga antara perusahaan raksasa dan UMKM tidak berkepanjangan. “Dan kami dari Disnak Jatim akan siap membantu dalam mempermudah pengurusan NKV dan legislasi lainnya, agar bisa menembus ekspor,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam 2- 3 tahun terakhir tidak ada kemunculan penyakit yang cukup signifikan. Namun, yang sering terjadi adalah naik turunnya harga, termasuk harga pakan. Yang mana hal ini disinyalir karena ada permasalahan serius tentang data populasi ternak, yang membuat kebijakan untuk pakan pun tidak cocok.
“Terus terang sampai sekarang kami tidak mempunyai data yang valid untuk populasi ternak unggas. Sebab, kami menemukan banyak kendala untuk mendapatkan data populasi ternak unggas. Ketika data populasi ternak tidak valid, maka otomatis kebijakan tentang pakan ternak juga tidak cocok,” tegasnya.
Baca Juga: Menuntut Perlindungan, Peternak UMKM Mandiri Kembali Gelar Unjuk Rasa
Oleh karena itu, dalam seminar ini ia mengajak agar semua pihak mau evaluasi, berubah, tidak lagi menyimpan data populasi, dan siap untuk memberikan data pada pemerintah. Agar pemerintah juga bisa lebih mudah dalam melakukan kontrol dan menerbitkan kebijakan.
“Salah satu program kerja Disnak Jatim untuk tahun 2023 adalah untuk membenahi data populasi. Kami akan hadir ke peternak untuk mendata. Jika nanti datanya sudah valid, harapan kami kebijakan juga akan lebih tepat sasaran,” tegasnya.
Sementara itu, drh. Irawati Fari, Ketua Umum ASOHI mengungkapkan bahwa pihaknya juga mendorong perusahaan obat hewan untuk meningkatkan ekspor. Selain itu ia juga mendorong perusahaan obat hewan untuk taat aturan, serta harus lebih kreatif dan inovatif dalam menjalankan manajemen usahanya.
Dalam kesempatannya, Ira juga menyarankan pada pemerintah agar dapat melakukan tindakan tegas pada pelaku-pelaku penjual obat tidak teregistrasi yang banyak menjual secara online. Sebab, akhir-akhir ini sedang marak peredaran obat hewan secara online yang tidak teregistrasi.