Meskipun pernah gagal dan terpuruk, Djadja tidak menyerah dan terus bangkit menjalankan usaha budi daya puyuhnya. Dengan berbagai keunggulannya, dirinya melihat bahwa beternak puyuh masih menjadi usaha yang berpotensi tinggi.

Apabila bicara budi daya unggas, tentu banyak orang yang akan langsung berfikir tentang peternakan layer maupun broiler. Wajar saja, karena kedua ternak ini memang mendominasi usaha perunggasan nasional dengan skala produksi yang luar biasa besar. Namun demikian, dibalik kedigdayaan budi daya ayam ras, terdapat usaha ternak puyuh yang cukup menarik untuk diperhatikan.

Unggas dengan nama latin Coturnix coturnix japonica ini pada mulanya merupakan hewan yang hidup di alam liar, seperti perbukitan dan gunung-gunung. Seiring berjalannya waktu, puyuh mengalami domestikasi dan menjadi salah satu unggas yang bisa dibudidayakan serta dikembangkan untuk kebutuhan komersial. Berdasarkan catatan pelaku, puyuh mulai diternakkan sekitar tahun 1979. Hingga kini, puyuh menjadi komoditas ternak yang potensial dan banyak berkembang di berbagai daerah.

Ialah Djadja Suhardja salah satu pelaku usaha yang melihat peluang besar dalam usaha budi daya puyuh. Tahun 2005 menjadi titik awal bagi Djadja dalam dunia ternak puyuh, dimulai di Sukabumi dengan populasi awal 2000 ekor puyuh. Usaha ini terus berkembang dengan populasi mencapai 5000 ekor pada tahun berikutnya. Kemudian di waktu yang sama dirinya mencoba melakukan usaha breeding kecil-kecilan dengan 20 unit mesin tetas kapasitas 500 – 600 butir/mesin.

“Kemudian, bersama kelompok fasilitas Bank Jabar saya memelihara puyuh dengan populasi 40.000 ekor dan mengalami kegagalan. Intinya saat itu  karena memilih bibit asalan tanpa vaksinasi yang lengkap. Akhirnya pada tahun 2010 saya memutuskan hijrah ke Bogor memulai beternak kembali dengan populasi 4.000 ekor. Dan di periode tahun berikutnya bertambah menjadi 6.000 ekor dan di akhir 2010 mencapai 10.000 ekor. Pada tahun yang sama saya juga mulai mencoba breeding  bersama teman membuat Grand Parent Stock (GPS) dan Parent Stock (PS) serta mencoba  menerapkan pola vaksinasi di PS dan Final Stock (FS) yg dihasilkan,” tambahnya.

Potensi pasar yang lebih besar di Jabodetabek, menjadi salah satu alasan Djadja memutuskan untuk memindahkan usahanya ke Bogor. Dirinya melihat bahwa Bogor menjadi tempat yang cocok untuk pengembangan usaha ternak, karena Bogor merupakan ring satu semua pemasaran hasil bumi, ternak dan ikan. Kala itu Djadja menetap di Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, dan meningkatkan populasi ternaknya hingga 15.000 ekor. Kemudian, pada tahun 2020, untuk memudahkan akses penelitian, kerja lapangan, dan magang, Djadja memindahkan usahanya ke Dramaga, Bogor, dekat dengan IPB, dan mulai menggunakan nama “Arkan” untuk usahanya. Hingga saat ini, usaha budi daya puyuh yang Djaja jalankan berada di bawah bendera CV Arkan Quail Farm. 

“Untuk saat ini populasi puyuh kami ada 5.000 ekor di farm Cigudeg, Jasinga, serta ada 10.000 ekor di farm Bojong, kerjasama dengan mitra.  Selain itu, kami juga ada farm pembesaran di Cibanteng yang menghasilkan 3.000 ekor pullet (puyuh umur 30 hari) per Minggunya. Sedangkan untuk lini penetasan ada di Kabupaten Kuningan. Itu saya bekerjasama dengan beberapa rekan dan mendirikan PT. Diamond Quail Farm yang fokus dalam produksi Day Old Quail (DOQ). Awalnya, usaha penetasan ini hanya untuk kebutuhan sendiri. Namun seiring dengan meningkatnya permintaan dari mitra peternak, maka kami pun meningkatkan produksi. Yang awalnya 1 mesin naik jadi 3 mesin. Dan sekarang akan menambah lagi 2 mesin penetasan yang berkapasitas 55.000 butir,” jelas pria kelahiran Serang, Banten ini. 

Selain mempunyai peternakan puyuh pribadi, Djadja juga memiliki 37 peternak mitra yang tersebar dari Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi hingga Banten. Populasi puyuh dari peternak mitra ini pun bervariasi, mulai dari 3000 hingga 15.000 ekor. Menurutnya unggas kecil ini memberikan suatu peluang yang bagus, khususnya bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Hal inilah yang membuat Djadja mengajak para kolega dan kawan-kawannya untuk memulai usaha budi daya puyuh.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com