Generasi muda perlu dikembangkan skillnya untuk memajukan dunia perunggasan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sektor perunggasan merupakan salah satu komoditas unggulan di industri peternakan. Siklus pemeliharaan yang cukup cepat untuk ayam ras pedaging dan pendapatan yang bisa didapatkan setiap hari untuk komoditas ayam ras petelur membuat komoditas asal unggas tetap menjanjikan di masa yang akan datang.
Namun untuk mendukung usaha sektor perunggasan yang berdaya saing, diperlukan juga sumber daya manusia yang memiliki jiwa kewirausahaan yang siap terjun di lapangan.
Berdasarkan hal tersebut, Indonesia Livestock Alliance (ILA) dan Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI) menyelenggarakan acara Poultry Preneur Academy yang terselenggara secara daring menggunakan aplikasi Zoom, Rabu (17/3).
Dalam acara tersebut mengundang Iqbal Alim selaku Kasubdit Unggas dan Aneka ternak Ditjen PKH, Prof Ali Agus selaku Sekjen South East Asia Network of Animal Science (SEANAS) dan Prof. Halim Natsir selaku Wakil Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.
Menurut Iqbal Alim, saat ini pemerintah terus mendorong peternak agar usahanya dapat tumbuh dan berkembang dengan berbagai regulasi yang dibutuhkan oleh setiap pelaku usaha.
Dalam hal ini pemerintah tetap mendorong kewirusahaan melalui pengembangan kelompok UMKM. Selain itu juga mendorong terbentuknya kelompok tani ternak unggas untuk mentautkan kepentingan peternak melalui kerja sama antara peternak dan perusahaan terintegrasi. Kerja sama tersebut mengacu pada Permentan Nomor 13 Tahun 2017.
Iqbal juga menjelaskan mengapa pemerintah mendorong kepada setiap pelaku usaha budi daya untuk bermitra agar terjalin hubungan yang ideal antar pelaku usaha.
“Mengapa kami mendorong untuk usaha perunggasan agar bermitra sesuai Permentan Nomor 13 Tahun 2017 yaitu untuk menciptakan kondisi yang saling memerlukan, memperkuat, menguntungkan, menghargai, bertanggung jawab, dan saling ketergantungan antara satu sama lain,” ungkapnya.
Baca Juga: Membaca Sederet Peluang Bisnis Perunggasan
Selanjutnya menurut Prof. Ali Agus, permasalahan di unggas sebetulnya masih terjadi hingga saat ini. faktor kuncinya menurut Ali yaitu bagaimana setiap pelaku usaha itu bisa beradaptasi dan memanfaatkan perubahan zaman.
“Kalau kita lihat harga unggas itu fluktuatif, banyak dari peternak merugi, maka sebetulnya permasalahan ini nyata adanya di depan kita. Oleh karena itu sektor perunggasan harus mau beradaptasi agar tidak tertinggal,” ucapnya.
Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi merupakan kunci agar industri perunggasan bisa kompetitif baik di tingkat lokal maupun global.Teknologi yang dimaksud Ali Agus prinsipnya harus mudah dan murah, jika tidak memenuhi syarat tersebut maka teknologi tersebut akan ditinggalkan.
“Kunci untuk menghasilkan produk yang berdaya saing secara global adalah dengan dukungan SDM dan iptek. Maka dari itu kami mengembangkan Work Based Academy bekerja sama dengan pihak industri. Tujuannya untuk mempersiapkan SDM yang terampil agar mudah beradaptasi dengan teknologi perkandangan yang canggih,” ungkapnya.
Sementara itu menurut Prof. Halim Natsir, dalam menciptakan dunia entrepreneurship yang ideal adalah harus menyeimbangkan antara aspek lapangan kerja dan angkatan kerja. Ketika salah satu terlalu banyak akan menyebabkan ketidakseimbangan dan premasalahan baru.
“Kalau kita melihat di dunia perunggasan sebetulnya peluang untuk mempersiapkan lapangan pekerjaan itu sangat luas dari hulu ke hilir. Kita harus melihat kenyataan bahwa dalam dunia entrepreneurship harus ada lapangan pekerjaan, dan angkatan kerja. Dua sisi itu harus terpenuhi secara bersamaan,” jelas Halim.
Dalam presentasinya, Halim mengungkapkan bahwa ide dalam berwirausaha itu sebesar 43% berasal dari dunia kerja. Maka jika dilihat di lapangan, ketika seseorang sudah lama bekerja di suatu bidang maka kemungkinan orang tersebut menjadi wirausahawan yang sukses cukup tinggi.
“Hal tersebut dikarenakan ia melihat peluang dari pengalamannya saat di dunia kerja. Sedangkan untuk SDM agar dapat sukses berwirausaha harus memiliki karakter yang inovatif dan mampu tampil beda, suka dengan sesuatu yang berisiko, dan proaktif kepada setiap perkembangan yang ada,” jelas Halim.