POULTRYINDONESIA, Jakarta – Di tengah berbagai tantangan dan dinamika yang dihadapi, sektor perunggasan Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar. Dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, konsumsi daging ayam per kapita di Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
Hal ini diamini oleh CEO PT Beli Ayam Com (BAC), Chandra Paku Rahman, dalam acara soft launching web 3.0 Beliayam.com di Cijantung, Jakarta Timur, Selasa (25/2).
“Di Malaysia, konsumsi daging ayam mencapai 50,2 kg per kapita per tahun, Singapura 38 kg per kapita per tahun, Myanmar dan Vietnam lebih dari 20 kg per kapita per tahun. Sementara di Indonesia, hanya 12,7 kg per kapita per tahun,” terangnya.
Baca juga : Berbagai Keunggulan SBM Amerika Serikat
Seiring dengan kebijakan pemerintah, seperti program Makan Bergizi Gratis yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo, serta Gerakan Serentak Pencegahan Stunting dari Presiden Jokowi sebelumnya, peluang bagi bisnis makanan dan minuman (F&B) untuk mendorong peningkatan konsumsi daging ayam semakin terbuka lebar.
“Ini tentunya menjadi peluang besar bagi pelaku bisnis F&B untuk mendorong peningkatan konsumsi daging ayam,” kata Chandra.
Selain itu, Chandra juga menyoroti kebutuhan penting bagi pelaku bisnis ayam untuk memiliki keberlanjutan (sustainability) yang kuat dan harga yang stabil.
“Para pelaku bisnis ayam tentunya memerlukan sistem yang dapat menjaga keberlanjutan dan kestabilan harga. Dengan adanya fluktuasi harga yang sering terjadi, kami berusaha menciptakan solusi untuk hal ini.
Sebagai respon terhadap hal tersebut, BA memperkenalkan teknologi traceability dalam ekosistem mereka. Teknologi ini digunakan untuk memastikan ketertelusuran penuh dalam rantai pasok pangan, dari peternakan hingga sampai ke tangan konsumen.
“Sistem ini memungkinkan kami untuk memberikan transparansi penuh dalam setiap langkah rantai pasokan, mulai dari peternakan hingga konsumen. Hal ini penting untuk menciptakan kepercayaan terhadap keamanan dan kualitas produk ayam,” ujar Chandra.
Dirinya menegaskan bahwa traceability ini juga merupakan bentuk tanggung jawab Beli Ayam kepada konsumen.
“Melalui traceability, kami memberikan akses kepada konsumen untuk melihat seluruh rantai produksi ayam, mulai dari bibit, pakan, obat yang diberikan, hingga siapa yang memelihara ayam, di mana ayam disembelih, dan data lainnya. Dan kendati sistem ini belum terasa mendesak saat ini, namun saya yakin sistem ini akan menjadi kebutuhan penting di masa depan. Contohnya, beberapa waktu lalu ada kasus keracunan dalam program MBG. Dengan sistem ini, kami bisa mencegah celah-celah tersebut,” tutup Chandra.
Di sisi lain, sistem traceability yang diterapkan ini bukan hanya membantu transparansi, tetapi juga memberikan akses langsung kepada peternak UMKM untuk berhubungan langsung dengan pelaku bisnis F&B. “Proses dari kandang hingga ke tangan konsumen dapat dilacak dengan jelas. Sistem ini juga mempermudah peternak UMKM untuk terhubung langsung dengan bisnis F&B,” jelas Chandra.
Lebih lanjut, Chandra mengungkapkan bahwa blockchain menjadi kunci utama untuk memastikan asas transparansi dalam sistem ini. “Dengan traceability ini, data peternak akan dapat diakses dengan jelas dan terstruktur. Yang lebih penting, data ini tidak bisa diubah karena disimpan dalam sistem terdesentralisasi, bukan di server kami,” terangnya.
Menurut Chandra, sistem yang sedang dikembangkan ini bersifat open-source. Dimana sistem ini dapat menjadi acuan untuk transaksi dan pembelian ayam yang lebih transparan.
“Dengan traceability yang kami tawarkan, kami yakin dapat membuka lebih banyak potensi pasar di Indonesia,” tuturnya.
Saat ini, Beli Ayam.com telah menggandeng 80 peternak UMKM yang bergabung dalam satu ekosistem, dan bekerja dalam satu wadah koperasi. “Kami terus berusaha memperluas jaringan ini dan ke depannya, kami juga berencana untuk bekerja sama dengan asosiasi perunggasan untuk memperluas penerapan sistem ini,” tambahnya.
Terakhir, Chandra juga menyampaikan rencana untuk menggunakan skema tokenisasi sebagai bagian dari perkembangan Web 3.0.
“Kami akan menggunakan skema tokenisasi yang juga merupakan bagian dari perkembangan Web 3.0. Ini diharapkan akan membantu mempercepat proses transaksi dan memperluas cakupan pasar,” ungkapnya.